Sabtu, 09 Juli 2022

Short Trip Pagar Alam Vol. 3

Short Trip Pagar Alam Vol. 3

Di Mana Puncak Dempo?



Setelah puas main mandi di Curup Tuju Kenangan, perjalanan lanjut ke Tugu Rimau. Tugu Rimau terletak di ketinggian 1900 mdpl. Baru sebentar perjalanan mulai deh gerimis. Cuaca di sini benar-benar tidak menentu. Yang jelas hari itu matahari cuma menghangatkan di pagi hari. Sisanya mendung sepanjang hari.

Mobil melaju dengan stabil. Stabil banget malah. Saya langsung excited begitu melihat kebun teh yang luas milik PTPN. Kami sudah sampai di kaki gunung Dempo. Dan dari sini seharusnya kami sudah bisa melihat puncak Dempo. Sayang sekali, sungguh sayang, sekitar kami berkabut. Kabut tebal menyelimuti daerah kebun teh. Untungnya jarak pandang masih terlihat. Jadi ya, perjalanan kami ini masih cukup menyenangkan.

Dan tentu saja perjalan ke Tugu Rimau tidak akan lurus-lurus saja, selalu ada tikungan yang curam yang bisa dipastikan setiap menikung saya akan cemas dan panik. Dalam hati selalu berdzikir. Dzikirnya campur aduk, dzikir karena tanjakan, panik, sekaligus karena bersyukur bisa ke sini melihat keindahan kebun teh, dan tentu saja terpesona. Sungguh, Maha sekali Allah dengan segala penciptaan-Nya.

Hamparan kebun teh di kaki Dempo

Di setiap tikungan paling tajam Fatu pasti ngidupin klakson. Saya harus bersiap-siap kalau tidak mau ikutan latah, ya, walaupun masih latah juga karena menikung. Wajah cemas tak bisa dipungkiri, mulut komat-kamit beristighfar. Dan, saya itu suka mabuk perjalanan, apalagi jalan berliku-liku begini, firasat saya, pasti muntah nih. Ternyata.... No. Tidak. Sama sekali saya tidak mabuk perjalanan. Mantap. Saya sampai mau standing ovation untuk diri saya sendiri. Apa karena perjalanannya menyenangkan ya?

Fatu memarkirkan mobil di pinggir jalan persis di depan gerbang Pondok Akhlak atau yang dikenal juga dengan sebutan Bukit Teletubbies. Kita berfoto-foto di sana. Kita tidak ke pondoknya hanya berfoto di jalan yang sesekali motor dan mobil lewat. Mencari view yang cantik. Padahal di sana view-nya cakep semua. Dari arah mana saja pemandangan indah memesona. Sejauh mata memandang panorama hijau kebun teh. Sejuk amat dah pemandangan.


Saya pinginnya ke pondok di Bukit Akhlak itu, view di sono pasti lebih keren. Namun sudah ada orang yang duduk-duduk di sana. Kita juga udah dikejar waktu, karena tujuan utama kita ke Tugu Rimau. Maka saya membesarkan hati sendiri dengan bilang, nanti pasti kamu balik lagi ke sana, Jaka. Puas-puasin deh di Bukit Akhlak. Tentu dengan cuaca yang bersahabat.

Mobil kembali melaju, kami melewati jalanan curam nan berliku lagi. Kami melewati kampung Dua. Pemukiman warga di kaki gunung ini memang dinamakan dengan angka. Ada empat Kampung di kaki gunung ini. Kampung 1, 2, 3, dan 4. Sekadar info, kampung 4 merupakan salah satu jalur pendakian bagi yang mau muncak ke Dempo. Itu jalur favorit para pendaki. Jalur di sana lebih bagus treknya dibanding jalur Jarai ataupun Tugu Rimau yang menjadi destinasi kami kali ini. Ya, Tugu Rimau juga menjadi jalur pendakian bagi para pendaki. Di sana titik awal pendakian. Saat kami datang pun ada beberapa pendaki yang duduk-duduk di sana dengan carier mereka yang penuh. Biasanya jalur Tugu Rimau dilewati pendaki ketika turun dari puncak. Jadi naiknya dari kampung 4, turunnya dari jalur Tugu Rimau.

Depan Tugu Rimau yang termasyhur

Tiba di Tugu Rimau, hujan lebat. Tiba-tiba kepikiran para pendaki. Kasihan sekali mereka yang memutuskan untuk mendaki hari ini. Apalagi yang sudah diperjalanan atau telah sampai di pelataran. Duh, pasti kedinginan banget. Benar-benar deh cuaca di sini tidak menentu. Di bawah tidak hujan, paling sesekali gerimis. Sedang di atas sini lebat sekali hujannya. Kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sekadar mengelabui perut yang kosong. Saya, Fatu, Oji, dan Mang Lek memesan mie rebus plus telur. Sementara Mutia dan Tari memesan pop mie, juga Adit namun dengan tambahan nasi soto. Dan jangan kaget jika harga makanan di sini cukup mahal. Jelas mahal dong, lah naik ke atas sini saja butuh perjuangan. 

Hujan masih belum reda, kita memutuskan untuk shalat dulu di musholah. Saya sempat berbisik ke Mang Lek, ini loh musholah tempat Hilya dan Fathan shalat di novel Miquelli karya mbak Yana alias Azzura Dayana. Beliau sok-sokan mau foto di sana juga. Yang lain cengo ketika kami membicarakan soal Miquelli yang setting tempatnya kebanyakan di Dempo. Itu novel favorit Mang Lek. Dia jatuh cinta sama novel dengan tema pendakian itu. Kebetulan Tugu Rimau menjadi salah satu setting ketika Hilya dan rombongan turun muncak. Dan saya sempat berpikir ketika Hilya dan Fathan makan di sana, mereka mengambil tempat yang sama dengan tempat kami makan mie rebus saat itu. Hehe....

Ketika usai shalat, tiba-tiba hujan reda. Ini kayaknya ada yang berdoa saat shalat biar hujannya reda agar bisa berfoto. Walaupun hujan reda, langit tetap mendung dan kabut tidak hilang. Kami lalu mengeksplor sekitar Tugu Rimau. Mencari spot yang terbaik untuk foto. Kami menuju ke perkebunan teh mencoba mendapatkan tulisan Pagar Alam yang terpampang besar di sana. Juga berfoto depan Tugu Rimau yang iconic. Saya iseng sempat-sempatnya berfoto di 'bulan sabit'. Harusnya ya, harusnya puncak Dempo kelihatan dari sini. Harusnya puncak Dempo menjadi latar setiap foto kami. Sayang sekali puncaknya tidak terlihat sama sekali karena tertutup kabut yang tebal. Di mana Puncak Dempo?

Tim Pagar Alam. Latar di belakang foto kabut menyelimuti.

Kalau dipikir ulang sepertinya saya harus kembali ke sana. Kenapa? Untuk melihat puncak Dempo yang hari itu tertutup kabutlah. Selain itu saya juga merasa harus balik lagi ke sana dengan alasan lain yaitu saya lupa memesan jagung bakar. Alasan yang aneh. Tapi benar. Saya sempat bilang ke diri sendiri, saya harus beli jagung bakar sekalipun harganya mahal ketika usai makan mie. Keinginan itu juga saya utarakan ke Mang Lek dan Oji. Namun karena keasyikan berfoto jadi lupa mau pesan jagung bakar.

Puas berfoto saatnya turun. Begitu turun, kabut sedikit menghilang, tidak sebanyak saat tadi kami naik. Tidak ada yang harus disesali. Toh, puncak Dempo tetap tidak terlihat. Mobil terus melaju. Saya tidak tahu mobil ini akan menuju ke mana. Tahunya ke pusat oleh-oleh karena Adit mau membeli oleh-oleh. Pas parkir baru "ngeh" ternyata kami ke Tangga 2001. Jadi beli oleh-olehnya di sini toh. Karena nasib belum berpihak pada kami, toko-toko yang jual oleh-oleh tutup semua. Karena sudah kadung berada di sana, saya, Mutia, dan Tari berfoto-foto sebentar sementara yang lain menunggu di mobil. Mumpung di sini ya kan, kapan lagi bisa berfoto. Ternyata kabut masih tebal di atas sana. Harusnya dari sini kita bisa melihat gunung Dempo yang tinggi menjulang dan menjadi latar foto kami. Namun apa daya kabut masih menyelimuti. Duh, di mana Puncak Dempo?

Menuruni Tangga 2001

Kalian tahu mengapa lokasi ini disebut Tangga 2001? Disebut Tangga 2001 karena 2001 adalah tahun lahir kota Pagar Alam. Kota Pagar Alam diresmikan pada tahun 2001 oleh pemerintah dengan memisahkan diri dari kabupaten Lahat. Dan katanya jumlah anak tangga di sini berjumlah 2001 sesuai sebutannya. Ada yang bilang tidak sampai 2001 tapi tetap disebut demikian karena mengacu pada tahun lahir tadi.

Perjalanan pun akhirnya dilanjutkan. Kita menuju tempat oleh-oleh yang lain. Tidak jauh dari gerbang kawasan wisata Dempo, ada toko oleh-oleh. Kami memutuskan mampir di sana. Aneka ragam oleh-oleh khas Pagar Alam dijual di sana mulai dari snack, baju, kerajinan tangan, dan tentu saja  kopi dan teh khas Pagar Alam.

Kami semua membeli oleh-oleh. Tentu kopi dan teh jadi idola kecuali saya. Saya justru tidak membeli kopi atau teh tapi membeli bandrek. Tertarik membeli bandrek setelah baca komposisinya. Kayaknya enak dan pas racikan bandreknya. Pasti menghangatkan kalau diminum di kala hujan. Sebenarnya saya mau beli baju yang ada tulisan Pagar Alam-nya. Namun niat tersebut saya batalkan karena ada hal lain yang harus diprioritaskan. Baiklah, saya menghela napas dan mengatakan kepada diri sendiri, oke Jaka, nanti kamu kan mau balik lagi ke sini, lain kali saja kamu beli bajunya saat kembali lagi ke sini. Begitulah cara saya menghibur diri sendiri.

Depan toko oleh-oleh

Ternyata saya yang paling sedikit beli di antara yang lain. Saya hanya beli bandrek dan kerupuk kopi. Soal kerupuk kopi ini, kerupuknya enak banget. Sumpah. Pengen beli lagi deh. Agak nyesel sih beli satu. Itupun saya beli untuk dimakan sama-sama di mobil bukan dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Oleh-olehnya cukup bandrek saja. 

Usai belanja kita lanjut isi solar di SPBU. Sempat mampir di Indomaret sebentar. Lalu saatnya pulang ke kampung halaman tercinta. Pulangnya jalanan lancar jaya tiada hambatan. Berhenti kembali di Muara Enim untuk makan malam. Menunya kompak lagi, nasi goreng. Dari Muara Enim ke Prabumulih saya memutuskan untuk tidur. Entahlah, pengen aja gitu. Pokoknya nanti begitu sampai Prabumulih harus terbangun.  Karena memang sudah diniatkan untuk tidur, saya pulas banget tidurnya. Dan beneran saat saya terbangun kami sudah ada di jalan lingkar Prabumulih. Seperti sudah diatur begitu. Bener deh kalau sudah niat pasti ada saja jalannya.

Tak lama, tiba-tiba perut saya mules pengen BAB. Ampun deh, ini perut macam tidak bisa diajak kompromi. Saya coba tahan saja. Di jalan lingkar ini mana ada WC umum. Rumah warga saja tidak ada. Sepi. Berhasil sih. Tiba-tiba mulesnya hilang. Saya merasa aman. Namun, tiba-tiba si mules datang lagi. Tahan lagi dong. Namun kali ini saya capek menahan mules. Maka saya utarakan ke Fatu selaku pengendali mobil, cari masjid untuk berhenti, saya mau ke WC. Dan akhirnya kami mampir di masjid yang ada di Prabumulih.

Aman. Perjalanan dilanjutkan. Saya menikmati keindahan kota Prabumulih saat tengah malam. Kota ini sangat memorable bagi saya. Ada keluarga kedua saya di sini. Ada banyak saudara saya di sini. Saya suka kota ini. Di Gelumbang kita berhenti sebentar. Fatu mau menemui seorang 'dulurnya' di sana. Hanya dia yang turun mampir. Kita semua menunggu di mobil.

Tiba di Palembang, saat telah memasuki jalanan Musi Dua, kembali perut saya bertingkah. Nih perut kenapa tidak bisa diajak kompromi? Dengan berat hati saya bilang ke Fatu kembali, berhentikan mobil ini saya mau BAB lagi. Maka mobil berhenti di kios dekat Grand City.

Setelah dari kios, giliran Tari yang membawa mobil. Jalanan nampak lenggang malam itu. Ketika masuk daerah Musi Pait, kami disambut kabut yang lumayan agak tebal. Dalam hati saya berkata, tidak di Pagar Alam tidak di sini sama-sama berkabut. Sepertinya kabut menjadi teman kami saat itu. Akhirnya kami sampai ke rumah dengan selamat sentosa pada dini hari yang buta. Tinggal capeknya ini. Tapi itu urusan besok saja. Dan kisah perjalan ke Pagar Alam menyisakan cerita yang cukup berkesan di hati.

Pulau Punjung, 25 Juni 2022. 02.02

Catatan :

• Saya tidak ganti baju sejak dari berangkat sampai ke pulang. Haha.... Saya memakai baju itu-itu saja. Celana saya ganti dengan sarung. Itu karena celananya basah sebab saya pakai mandi di Curup Tuju Kenangan.

• Terima kasih tak terhingga untuk rekan saya di Divisi Karya FLP Sumsel, Ica dan keluarga yang sudah mengizinkan kami untuk menginap di pesantrennya. Ini sangat membantu sekali.

• Terima kasih untuk teman-teman perjalanan kali ini. Fatu, sang supir keren, Mang Lek, Oji, Adit, Tari, dan Mutia. Rencana dadakan ini jadi juga. Persiapan dua hari. Nego sana sini. Akhirnya datang juga ke Pagar Alam.

Rabu, 22 Juni 2022

Short Trip Pagar Alam Vol. 2

 Mendung, Hujan, dan Kabut 




Lepas sarapan di pesantren dan pamit pada tuan rumah, kami melanjutkan perjalanan ke kota Pagar Alam. Menurut Ica, masih setengah jam lagi. Perjalanan menuju ke sana, sangat menyenangkan. Sejauh mata memandang hijau semua. Pohon yang menjulang, hutan, dan kebun kopi. Mulut ini tak henti-hentinya bersyukur. Jika melewati rumah penduduk, banyak yang sudah termodernisasi tapi ada juga yang bertahan dengan keaslian rumah. Beberapa rumah di berbagai desa yang kami lewati masih mempertahankan keaslian rumah mereka. Warisan budaya. Bahkan ada rumah yang masih jelas ada ukiran di dinding luar rumahnya. Tinggi sekali itu nilai budayanya. Keren. Pengen mampir tapi tidak kenal. Mana kita juga ngikut orang yak, jadi nikmatin saja deh. Selain itu di papan petunjuk jalan ada banyak petunjuk ke situs megalitikum lagi. Duh, jadi mupeng kan pengen wisata sejarah. Jaka elu harus balik lagi.


Tujuan yang pertama kami adalah rumah teman Adit, yang semalam gagal kita tempati. Di sana agak lama. Mana tiba-tiba hujan lagi. Kirain ada apa begitu, ternyata tok cuma mampir. Kalau tahu begitu sebentar saja di sana. Serasa lebaran. Hehe...

Sekira pukul 09.07 kami pamit. Masih kondisi gerimis. Kami menuju air terjun Tuju Kenangan. Air terjun inilah yang dipresentasikan oleh Puteri Sumsel untuk nasional kostumnya di ajang Puteri Indonesia 2022 kemarin. Sayang sih perwakilan Sumsel ini tidak dapat selempang apapun. Bahkan di motion challenge terbata-bata. Mana tidak ada satupun portal peagant yang menjagokan. Lah, kok curhat. 


Sebelum menuju lokasi, mumpung ketemu bengkel, kami memutuskan untuk menambal ban yang bocor semalam. Dan untuk itu kami harus menunggu lama kembali. Soalnya harus beli ban dalam dulu. Kayaknya sih begitu yang saya tangkap. Dengan mengajak mamang bengkelnya, berangkatlah Fatu, Adit, dan Tari menuju bengkel yang lebih besar. Soalnya di sini tidak ada alatnya. Rasa-rasanya begitu. Lagi-lagi saya tidak paham.


Sambil menunggu, saya dan yang lain makan bakso dulu, yang kebetulan bersebelahan dengan bengkel. Bakso habis mereka belum juga datang. Saya malah sempat-sempatnya tertidur. Jam 10 lewat akhirnya selesai dan kita melanjutkan perjalanan.


Tujuan kami adalah Air Terjun Tuju Kenangan yang berada di kawasan wisata Dempo. Begitu masuk gerbang kawasan wisata Dempo kita tinggal lurus saja. Ikutin saja jalannya. Jalannya memang agak curam, berbelok dan tanjakkan. Jadi harus hati-hati. Tidak jauh kok dan mudah diakses. Ada plang besar yang menunjukkan lokasi air terjun.


Kami datang masih dalam kondisi hujan. Dan itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk tidak ke lokasi. Terpaksa hujan-hujanan. Dari tempat parkir menuju air terjun sekitar 500 meter. Pertama kita akan menanjak terlebih dahulu. Lalu dapat bonus sedikit melewati kebun kopi. Sekitar 30 meter, turunan dan langsung menuju lokasi. Karena hujan kami sangat berhati-hati. Jalanan licin. Tapi tenang, ada tali dan batang bambu kok yang dibuat sedemikian rupa sebagai pegangan. Jalan tanahnya juga berundak-undak dibuat tangga, insya Allah memudahkan sekali. 


Air terjun terlihat di depan mata. Sepi. Jelaslah, siapa yang mau datang hujan-hujan begini. Karena kami sudah kadung jauh datang maka hujan bukan halangan. Cuaca dingin, air dingin. Klop. Beberapa teman sampai tremor. Fatu paling kasihan melihatnya. Ya Ampun, saya sampai khawatir. Perjalanan kami bergantung padanya. Ketika saya tanya apakah baik-baik saja, dia jawab tidak apa-apa. Masih kuat. Oke. Saya percaya.


Kita sempat foto-foto di sana. Ponsel saya sampai basah. Sudah kepalang tangung. Beruntungnya tak lama hujan berhenti. Bebatuan jadi licin. Harus ekstra hati-hati. Jam 12 kita undur diri dari sana. Selama di air terjun, hanya kita saja pengunjungnya. Tidak ada satupun pengunjung lain yang hadir. Serasa milik pribadi. 

Kenapa dinamakan air terjun Tuju Kenangan? Karena kalau kita datang ke sana maka akan tercipta kenangan yang akan selalu membekas. Apakah kenangan kami di sana membekas? Tentu saja. Sayangnya kami tidak bisa melihat kupu-kupu di sekitar sana karena hujan. Kabarnya kalau cuaca bagus kita bisa melihat banyak kupu-kupu beterbangan di sana. Mungkin lain kali. Bisa jadi. Dengan rombongan yang berbeda, mungkin. 


Setelah ganti baju, perjalanan dilanjutkan menuju Tugu Rimau, Gunung Dempo.



Pulau Harapan, 31 Mei 2022



Funfact : Saat sedang asyik berfoto, tiba-tiba kita semua panik. Mutia jatuh. Dia merosot mengikuti arus air karena hilang keseimbangan saat duduk di batu. Beruntung dia merosot dekat Tari jadi sempat dipegang. Kita panik. Terutama saya, apa yang harus saya jelaskan ke Ayahnya kalau terjadi apa-apa dengan anaknya. Saya yang minta izin ke ayahnya agar Mutia diizinkan ikut. Saat kita semua panik, Mutia malah ketawa. Seru, katanya. Tadi sempat direkam gak, Kak? ujarnya pada saya yang memang baru saja memotret mereka. Edan ini bocah. Tidak ada kapok-kapoknya. 

Sabtu, 28 Mei 2022

Short Trip in Pagar Alam Vol. 1

 Drama-drama Perjalanan 



Usai shalat subuh saya baru packing barang. Perlengkapan saya tidak banyak. Hanya bawa jaket, sarung dan dalaman, juga odol, sikat gigi, minyak wangi, dan krim pegal-pegal. Di Pagar Alam itu dingin sekali. Jadi pasti butuh penghangat. Penghangatnya ya krim pegal-pegal itu. Jam 6.30 saya berangkat dari rumah. Bukan langsung ke Pagar Alam bersama rombongan. Tidak. Saya ke sekolah dulu. Sekolah tempat saya mengajar mengadakan karya wisata. Jadi ceritanya nanti saya tinggal menunggu rombongan ke Pagar Alam di Palembang saja. Janjinya jam satu. Dan saya menunggu di OPI Mall.


Jam satu menunggu. Nyatanya jam 2 lewat mereka baru sampai. Kami berangkat ke Pagar Alam bertujuh. 5 laki-laki dan 2 perempuan. Fatu, Adit, Oji, Relly, Mutia, Tari, dan tentu saja saya sendiri. Menggunakan mobil dengan sopir yang sangat keren (nanti ada volume sendiri tentang sopir keren ini). Dan drama perjalanan pun dimulai.



Di mobil tentu saja kita sibuk bercerita, bercanda, ngemil, berfoto, dan bikin video. Saya banyakan paniknya. Apalagi kalau sopirnya ngebut, ya sudah, latahnya keluar. Kaget bener saya. 


Tiba di Prabumulih saya lupa kalau jalan yang biasa dilewati ditutup karena ada pembangunan flyover. Jadi jalan dialihkan ke jalan lingkar. Di sini juga dikabarin bahwa tempat yang jadi tujuan kita untuk menginap sebentar di Pagar Alam tak bisa dikunjungi. Temen Adit ada kerjaan. Saya mutar otak, berusaha menghubungi teman saya yang ada di Pagar Alam. Kepikiran nama Ica, kamerat saya di FLP. Alhamdulillah dia bersedia menampung kita di pesantrennya. Saya sebenarnya kasihan sama Mutia dan Tari. Kalau seandainya secowokan doang, kita mah tidur dimana saja oke.


Sampai Muara Enim berhenti sebentar untuk makan malam yang kemalaman. Kena prank betul, karena makannya kemahalan. Padahal kita harus hemat. Saya, mang Lek dan Mutia sampe saling tatap karena kaget dengan harga. Haha....


Perjalanan dilanjutkan. Selama perjalanan saya tidak mengantuk sama sekali. Menikmati perjalanan betul. Lepas dari kota Lahat, masuk ke Pulau Pinang, jalan mulai berkelok. Kecamatan Pulau Pinang, Lahat, ini terkenal dengan banyak air terjunnya. Saya sempat beberapa kali ke sini mengunjungi air terjunnya. Kecamatan ini juga berbatasan langsung dengan Pagar Alam. 


Fatu mengendalikan mobil dengan ngebut. Jalanan malam sepi. Biar jalannya berkelok manja, dia tetap stabil mengendarainya. Dan malam itu tanpa sengaja kami menabrak ular yang melintang di jalan raya. Awalnya kami mengira itu kayu. Serius! Sebab Fatu sempat nanya sebelum akhirnya memutuskan melimpis "kayu" itu. Setelah dekat baru sadar kalau itu bukan kayu. Mau ngelak tak terelakkan lagi. Benar-benar melintang mengisi separuh jalan. Kita semua kaget dan saya langsung istighfar.


Tak lama dari sana, ban mobil kami bocor halus. Tepat di depan jalan masuk ke air terjun Bidadari di desa Karang Dalam. Berhenti sebentar. Terpaksa ganti ban. Karena saya sangat tidak paham dengan hal ini, dalam hati hanya bisa bantu doa. Cuma lihat-lihat doang. Sedang sibuk mengganti ban, eh, si dongkrak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lalu Oji dan Mang Lek melambai-lambaikan tangan meminta bantuan ke mobil yang lewat. Ada yang berhenti, lalu bilang tidak bisa bantu. Alhamdulillah, ada mobil pick up yang berhenti. Meminjamkan dongkrak untuk kita.  Terima kasih untuk dua orang baik yang sudah membantu kita malam itu. Bahkan mereka ikut membantu tidak seperti saya yang cuma bisa melihat doang karena nggak ngerti. Daripada sok-sok bantu tapi malah merepotkan.




Setelah beres, perjalanan dilanjutkan. Saya tidak enak sama Ica nih. Harusnya kita jam sebelasan sudah sampai karena musibah ini jadi molor. Namun saya berusaha tenang. Mobil kita terus melaju tanpa hambatan. Tiba di tingkungan fenomenal Endikat saya merasa bahagia sampai bertepuk tangan, akhirnya saya merasakan melewati tikungan itu. Dan itu juga menandakan bahwa kita sampai di kota perjuangan, Pagar Alam. 


Menurut Ica, dari Endikat ke Pesantrennya itu masih setengah jam lagi. Perjalanan tengah malam itu pun tak menghambat penglihatan saya ke sekitar. Di perbatasan ini, rumah penduduk masih terawat keasliannya. Masih khas Pagar Alam, rumah panggung dengan atap seperti rumah Minang, lancip di ujungnya. Keren. Tidak tergerus zaman.


Tiba di Pesantren Ica, Alhamdulillah disambut dengan baik, ya, walaupun harus membangunkan tuan rumah tengah malam.  Setelah mengantar dua teman cewek kami ke asrama putri, giliran kami yang akan beristirahat. Alhamdulillah, saya bisa tidur nyenyak. Lumayan untuk persiapan besok menuju wisata Pagar Alam.




Pulau Punjung, 28-29 Mei 2022

Kamis, 28 April 2022

Dia yang Ingin Kusebut Adik

Dia yang Ingin Kusebut Adik 
Jaka Ferikusuma 


 Dulu sekali, entah beberapa tahun lalu, saya pernah bilang ke diri sendiri ketika usai diajaknya naik motor saat pergi jum'atan ke masjid, kayaknya seru deh kalau temenan sama dia.Setelah itu ucapan tersebut menguap begitu saja. Sebab kalau ketemu dia paling cuma senyum doang. 


 Dipengujung tahun 2021, Allah beri kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengannya. Bermula dari selfie bersama ketika rapat karang taruna. Entah mengapa malam itu dia mau-mau saja diajak selfie. Lalu lanjut jadi panitia turnamen bola, sekarang berdua mengurus lomba di masjid dimana kami menjadi pengurusnya. Semudah itu jika Allah menghendaki hamba-Nya menjadi dekat.
Saya tahu sedikit tentangnya dari beberapa temannya yang memang dekat dengan saya. Saya shock awal tahu dia begini, dia begitu. Tidak menyangka. Saya pikir dia "aman-aman" saja. Namun ternyata dia sedang tidak nyaman dahulunya. 


 Sekarang? Dia sudah jauh berubah. Dia menjadi pribadi yang lebih baik. Buktinya, saya malah kalah shalih dibanding dia. Pas bukber kemarin, ketika saya asyik menyuap nasi, dia malah ke masjid terdekat untuk shalat maghrib setelah meminum beberapa teguk air sekadar membatalkan puasanya.
Saya selalu mendoakan, menyebut namanya dalam doa, agar kebaikan terus menyelimutinya. Agar dia istiqamah di jalan kebaikan ini. Saya bahagia akhirnya menjadi satu circle bersamanya. Karena jujur saya tidak pernah terpikir akan menjadi seperti ini. Dia sekeren itu ternyata. Dia bangkit dari sisi buruknya. Memang saya tidak banyak tahu tentang dia, hanya dari cerita-cerita saja. Saya tidak berani mengorek-ngorek masa lalu orang kecuali dia sendiri yang cerita. Kepo amat saya sama kehidupan orang. 


Kedekatan kami ini, apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini, apakah adalah jawaban dari ucapan saya yang pernah bilang ingin temanan dengannya? Bisa jadi. Bukankah ucapan adalah doa. Allah, jaga ukhuwah kami. 

 
Pulau Harapan, 22 April 2022 
Kepada Fatu Alam.

Sabtu, 08 Januari 2022

Pesan Kepada Fatih

Bersama Fatih Hamizan (Dok. Pribadi) 


Kemarin saat ulang tahun siswa saya di MI, seperti biasa saya didaulat menjadi pembawa acaranya. Usai acara dan setelah makan, bertemulah saya dengan Fatih Hamizan dan ibunya. Fatih Hamizan, bocah berumur lebih dari dua tahun berwajah gembil dan menggemaskan. Dia adalah anak adik saya. Adik saya yang luar biasa. Adik saya yang baik sekali. Dan lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan banyak hal untuk Fatih, begitu dia biasa dipanggil, tentang ayahnya.


Fatih, kau harus tahu bahwa ayahmu adalah orang baik. Sangat baik dan terlalu baik. Dia tidak pernah menyakiti siapapun. Dia tak pernah membuat sesiapa pun kecewa. Dia hanya pernah terluka lalu sulit menyembuhkannya. Aku saja yang terlalu egois terhadapnya.


Fatih, kau juga harus tahu bahwa ayahmu itu adalah orang yang kuat. Teguh. Dia tak pernah goyah dalam meraih apapun yang ingini. Tak peduli badai. Tak peduli aral. Dia selalu dapat meraihnya. Menjadilah kuat seperti ayahmu. Jangan takut. Jangan lengah. Kau harus selalu tangguh. Karena kelak pada masamu, mungkin badai dan aral akan semakin kejam.


Fatih, ayahmu adalah sosok yang hebat. Pembelajar yang baik. Tak ada sedikitpun sesuatu yang kupinta padanya tak dikerjakannya dengan baik. Selalu sempurna. Setidaknya ayahmu telah bekerja dengan sepenuh hatinya.


Fatih, ayahmu sempurna menjadi adikku. Ya dia sempurna menjadi adikku. Dia adikku. Takkan ada adik yang baik seperti dia lagi. Mau dicari di belahan bumi bagian manapun tidak akan ada yang sepertinya. Kau tahu mengapa? Karena dia adikku.


Fatih, kelak jika kau besar, dan kau mengerti semua ini, maka ingatlah bahwa ayahmu orang baik. Jangan pernah mengecewakan dia seperti aku yang selalu membuatnya terluka. Jangan pernah kau abaikan dia, jangan pernah kau membuatnya luka. Jadikan dia sebagai guru, teladan yang baik bagimu dalam menjalankan kehidupan.


Fatih Hamizan, kubagikan sedikit cerita tentang kami berdua, aku dan ayahmu, kakak adik yang penuh ego ini, bahwa ayahmu, adikku itu, pernah membelaku mati-matian. Melindungiku dari bahaya apapun. Padahal harusnya aku sebagai kakak yang melindungi dia dari semua kejahatan. Tapi bagi ayahmu, aku adalah kakaknya.


Kau mungkin bertanya apa ayahku pernah melakukan kesalahan? Aku bahkan  memuji ayahmu tanpa cela. Fatih, kuberi tahu kau, manusia mana yang tak melakukan salah. Tentu ayahmu pernah melakukan salah dalam hidupnya, begitu juga aku. Karena kami adalah kakak adik, maka kesalahan kami sejatinya sama, ego. Ego kami terlalu tinggi hingga pernah membuat kami hancur lebur menjadi debu. Untung saja, waktu memberi kami waktu untuk belajar, sabar dan ikhlas, maka sampai detik ini ayahmu masih adikku. Kami telah berdamai dengan ego kami, Fatih.


Fatih Hamizan, tak ada yang menandingi ayahmu dalam berbagai kebaikannya. Dia selalu terdepan dan terhebat. Jika kelak kau meragukan kebaikan dan kehebatan ayahmu, datanglah padaku. Aku adalah saksi kunci untuk segala keraguanmu terhadapnya. Sampai hari ini pun, hanya kebaikannya yang selalu terkenang.


Sebenarnya banyak hal yang ingin kuungkap padamu, Fatih Hamizan, tentang ayahmu. Hanya saja, berlembar-lembar tulisan tak akan sanggup untuk menyudahi kisahnya. Kau hanya perlu tahu bahwa ayahmu orang baik. 


Akhirnya, aku hanya mampu berpesan lewat tulisan ini, menjadilah baik seperti ayahmu. Tidak perlu menjadi orang lain, kau hanya perlu menjadi Fatih Hamizan yang baik. Aku mencintaimu berlipat-lipat, seperti aku menganggap ayahmu sebagai adikku.



Pulau Harapan, 08 Desember 2021
*semoga kelak kau membaca tulisan ini, Fatih Hamizan. 

 



Kamis, 16 Desember 2021

Mereka yang Bercerita

 


Kejadian ini terjadi di Saung Rumah Qur'an Nurussa'adah Pulau Harapan. Kebetulan mereka bertiga yang ada di foto (perhatikan foto dengan jelas, ada seorang anak yang sembunyi di balik baju merah maroon) masuk dalam kelas saya. Hanif, Diaz, dan Rasya.

Setelah selesai muraja'ah, membaca alat peraga metode Ummi, dan mengaji, tibalah waktunya untuk menulis. Ketiga anak ini menulisnya persis di dekat meja saya. Sambil menulis ketiga anak ini bercerita sesama mereka, sesekali mengajak saya dan bertanya ini itu. Apa saja mereka ceritakan. Dan kali ini mereka bercerita tentang liburan. Saya mendengar semua kisah mereka sambil fokus menulis di kartu prestasi mereka.

Rasya bilang besok dia mau ke Lampung. Aku juga ikut, sambung Diaz. Rasya dan Diaz masih ada hubungan keluarga. Hanif tidak mau kalah dong. Aku mau ke Palembang, ujarnya.
"Nanti kami mau ke pantai, ustadz," jelas Rasya. Saya tersenyum menatap Rasya sebagai respon lalu kembali fokus menulis di kartu. "Kita mau berenang."
"Aku juga pernah ke pantai," terang Hanif.
"Air pantai rasanya asin," kata Diaz.

Pikir saya, bocah-bocah ini kecil-kecil tapi liburannya sudah kemana-mana. Saya sewaktu kecil liburannya hanya bermain bersama teman-teman di dalam hutan. Boro-boro ke pantai. Pertama kali ke pantai saja ketika usia SMA. Beruntung sekali mereka.

"Ustadz, besok kalau ke Palembang kami mau ke PS," kata Hanif yang matanya fokus ke papan tulis.
"Aku sering diajak Bunda ke PS, " balas Rasya.
Haduh, lagi-lagi saya agak tercengang mendengarnya. Saya yang sebesar ini saja jarang sekali masuk mall. Mereka dengan mudahnya bilang sering masuk mall. Anak-anak jaman sekarang ya.

Mereka bertiga terus bercerita hingga selesai menulis dan diponten. Saya selalu senang dengan dunia anak-anak. Mereka lugu dan menggemaskan. Rajin-rajin mengaji Hanif, Diaz, dan Rasya  biar jadi anak yang shalih dan bisa membanggakan orang tua.

Pulau Harapan, 09122021

Senin, 25 Oktober 2021

Empat Lawang Journey : Perjalanan yang Memabukkan

Empat Lawang Journey : Perjalanan yang Memabukkan




Setelah rapat panjang, akhirnya tiba saatnya melakukan perjalanan panjang menuju bumi Empat Lawang. Empat Lawang akan menjadi tuan rumah Writing Camp FLP Sumsel. Dan saya akan menjadi salah satu pemateri dalam acara tersebut.

Jumat (151021) pukul 06.50 saya sudah bersiap menuju ke Palembang. Rencananya saya akan berangkat bersama teman-teman dari Palembang. Kami janjian bertemu di simpang empat Jakabaring. Menunggu Damri di sana, lalu berangkat ke Prabumulih. Kenapa Prabumulih? Karena kami janjian kumpul di sana. Di sana sudah menunggu teman-teman dari Prabumulih dan Ogan Ilir. Kami akan berangkat bersama.

Sampai Prabumulih, orang-orang sudah selesai shalat jumat. Kita ketemunya di komplek Pertamina. Sambil menunggu mobil menjemput, kita yang dari Palembang shalat dulu, makan, dan istirahat sebentar. Sekira pukul 14.00 kita melanjutkan perjalanan.

Baru berangkat sebentar saya sudah membuat drama. Saya kehilangan gawai alias hape. Satu mobil heboh. Haha.... Bukan Jaka namanya kalau tidak membuat kehebohan. Tapi itu hanya berlangsung 5 menit. Ternyata hape saya ada di dalam tas. Dasar tidak teliti saja sewaktu memeriksanya.

Bukan hanya itu saja tingkah saya, saat mau masuk kota Muara Enim, tiba-tiba perut saya mules. Mana saya sudah mulai mabuk perjalanan. Maka, saya mati-matian menahan untuk buang air. Untung bapak sopirnya dengan baik hati mampir sebentar di SPBU. Buang hajatlah saya di tolitenya.

Perjalanan dilanjutkan. Memasuki kota Lahat, peserta di mobil heboh dengan penampakan bukit Jempol. Mereka sibuk merekam dan memoto dari dalam mobil. Perjalanan terus berlanjut. Jalanan curam dan berliku. Untungnya, walau dalam kondisi mabuk perjalanan, kami di dalam mobil sibuk bercerita. Jadi saya merasa tenang karena tidak akan muntah.



Sampai adzan maghrib tiba, mobil kita berhenti di masjid di daerah Kikim Timur. Kami menjama' shalat di sana. Mulai dari sini penderitaan saya dimulai. Saat memasuki mobil, hari sudah gelap. Teman-teman yang ada di mobil yang semula asyik bercerita tiba-tiba hening. Dalam hati saya menggerutu, 'alamat muntah di tengah jalan ini.'

Benar saja, kepala saya tambah pusing. Perut saya sudah macam diaduk-aduk sementara perjalanan menuju Tebing Tinggi masih dua jam lagi. Ya salam....

Dalam hati saya menggerutu, berdoa, menguatkan hati, 'Jaka, kamu kuat. Kamu hebat. Tahan. Jangan muntah di dalam mobil. Nanti kalau sampai baru keluarkan semua isi perut."

Sepanjang dua jam perjalanan saya mensugesti diri saya sendiri. Kuat. Hebat. Tahan. Sambil mata sesekali melirik ke luar mobil, sudah masuk daerah Empat Lawang belum. Saat saya melihat tulisan Tebing Tinggi, saya bersorak dalam hati. Bentar lagi sampai.

Saya ribut saat, mobil melambat karena mencari hotel tempat nanti kami menginap selama di Tebing Tinggi. Ketemu. Begitu masuk parkiran hotel saya buru-buru keluar mobil dan mencari posisi paling baik untuk muntah. Saya muntah dengan sukses. Semua isi perut berhasil keluar. Saya lemas. Tapi senang, berhasil mensugesti diri sendiri untuk tidak muntah di mobil.

Sungguh, perjalanan ini melelahkan. Tapi akan terbalas dengan kegiatan selama saya berada di sini. Inilah awal perjalanan saya di kabupaten Empat Lawang.


Funfact perjalanan :

Pulang pergi kami shalat maghrib di masjid yang sama. Masjid Nurul Hidayah Desa Gunung Kembang Kec. Kikim Timur Kab. Lahat. 

Pulau Harapan, 23 Oktober 2021

Selasa, 31 Agustus 2021

Rahasia Anda Aman di Tangan Saya

 



Rahasia Anda Aman di Tangan Saya

Jaka Ferikusuma


Rahasia menurut KBBI adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Dalam hidup setiap manusia pasti memiliki rahasia. Baik yang dia simpan sendiri atau dibagikan ke orang yang paling dipercaya.

Rahasia jika sudah diceritakan kepada orang lain maka itu menjadi amanah. Sebuah amanah yang wajib untuk dijaga. Apabila amanah itu tidak diemban dengan baik maka bisa menjadi khianat. Makanya banyak orang yang akhirnya ribut besar gara-gara rahasia ini.

Dalam Islam menjaga rahasia masuk kategori amanah. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits :

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

''Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.'' (HR At-Turmudzi dari Jabir bin Abdullah).

Jika yang diceritakan oleh orang tersebut adalah cerita buruk atau negatif tentang dirinya maka itu adalah aib. Aib itu wajib dijaga dan ditutupi. Perintah ini dijelaskan oleh Rosulullah SAW dalam sebuah hadits.

من ستر عورة أخيه المسلم ستر الله عورته يوم القيامة 


''Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat kelak.'' (HR Ibnu Majah).

Menjaga rahasia memang sangat sulit. Sedikit saja terbongkar maka akan banyak sekali akibat yang akan dialami salah satunya rusaknya persaudaraan. Apalagi dewasa ini orang-orang suka sekali menambahkan cerita dari cerita yang sebenarnya. Maka dari itu hendaklah ketika kita diberi amanah untuk menjaga rahasia orang lain maka simpanlah rahasia itu rapat-rapat. Dan diam adalah solusi terbaik jika ingin menyimpan sebuah rahasia. Ingat, lidah manusia itu Allah ciptakan tidak bertulang sehingga mudah sekali tergelincir ketika berbicara, dan mudah sekali terpancing dalam sekali ucap.

Menjaga rahasia ini juga condong kepada kemunafikan. Mengapa demikian, sebab kalau rahasia itu bocor artinya kita telah mengkhianati amanah yang diberikan. Bukankah dalam sebuah hadits Rosulullah SAW menjelaskan bahwa ciri-ciri orang munafik itu ada tiga dan salah satunya adalah jika dia dipercaya maka dia mengkhianatinya. Naudzubillah. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang suka membuka rahasia orang lain.

Agar rahasia kita tetap aman dan tidak terbongkar, maka berceritalah pada orang yang memang benar-benar dipercaya. Orang-orang yang pasti tidak akan membuka rahasia kita kepada siapapun. Kalau ragu menguasai, maka Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu. Tahajudlah, adukan semua keluh kesah dan rahasia kepada-Nya. Dijamin rahasia kita akan aman selamanya. 



Pulau Harapan, 31 Agustus 2021


Selasa, 03 Agustus 2021

Setelah Suntik Vaksin Covid-19

 Setelah Suntik Vaksin Covid-19

Jaka Ferikusuma



Saya dikabari oleh bidan Puskesmas Sembawa via WA yang meminta data guru-guru MI tempat saya mengabdi, MI Kurnia Ilahi, untuk divaksin. Saya lama balasnya. Ragu. Saya pernah bilang ke adik saya yang dokter, saya tidak mau divaksin. Pahamlah ya kenapa? Karena kontroversi si vaksin ini.

Akhirnya saya kirim juga data-data guru saya ke bidan tersebut, tentu data saya juga diurutan pertama. Saya dan guru-guru menunggu panggilan untuk divaksin. Ternyata antrinya lama. Sekolah terdekat malah sudah semua. Saya pikir kami tidak jadi divaksin, saking lamanya nunggu. Berbulan-bulan lamanya. Lalu datanglah surat undangannya lewat WA, yang mengatakan tanggal 28 April 2021 jadwal vaksin untuk MI dan RA Kurnia Ilahi. Bulan ramadhan. Di surat itu juga dijelaskan bahwa peserta vaksin harus sahur. Padahal saya tidak bisa sahur. Maksudnya saya tidak bisa makan apapun kalau fajar hari. Yang masuk cuma air putih. Saya selalu sahurnya dengan air putih saja. Hari itupun sama.

Karena di sekolah kami ada lomba ramadhan, sekitar jam 10an kami baru berangkat ke Puskesmas. Itu pun sudah ditelpon oleh petugasnya. Di sana kita sudah ditunggu dong. Kalau tidak mau divaksin sudah banyak yang antri mau menggantikan. Ada 4 loket yang harus dilewati saat vaksin.

Di loket 1, pendaftaran. Kita akan diminta untuk mengisi kertas kecil semacam formulir gitu. Juga dimintai fotokopi KTP dan nomor handphone yang aktif. Nomor handphone ini nanti untuk mereka mengirim link sertifikat vaksin.

Lalu kita akan masuk ke loket 2. Di sana sudah ada dokter yang bertugas. Di sinilah kita yang mau vaksin harus jujur dan menceritakan keadaan tubuh dan kesehatan kita. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jujur saja. Nanti dokternya bisa menentukan apakah kita layak divaksin atau tidak. Di sini juga tensi darah kita akan diukur.

Loket ke 3 kita menyerahkan data  ke petugas bahwa kita bersedia divaksin. Setelah itu loket keempat. Suntik. Karena saya takut jarum suntik jadi sayanya agak tegang saat disuntik. Setelah itu kita akan menunggu sebentar sekitar 20-30 menit untuk mendapatkan kartu vaksinasi covid-19 dari petugas.

Apa yang saya rasakan ketika selesai divaksin?

Tiap orang kan beda-beda reaksi katanya, ada yang ngatuk, ada yang merasa lapar terus, dan ada yang vertigo. Macam-macam reaksi yang ditimbulkan. Untuk saya sendiri, saya merasa pegal di tangan saya yang disuntik. Berapa lama pegalnya? Dua hari. Hari ketiga baru pegal tersebut hilang.

Hanya pegal? Tentu tidak Ferguso. Seminggu kemudian saya demam. Demam terlama. 14 hari. Bahkan saat lebaran pun saya demam. Dan bayangkan sembuh dari demam, 5 hari kemudian saya harus suntik vaksin kedua. Di sini saya takut. Sumpah takut beneran. Mungkin ini nih yang menyebabkan orang bisa lumpuh atau meninggal setelah divaksin. Mana katanya vaksin kedua ini dosisnya lebih tinggi. Macam-macam yang saya pikirin saat itu. Yang jelas saya takut.

Sehari sebelum divaksin kedua, badan saya panas lagi. Batuk dan pilek masih bersarang walau biasa saja. Rasanya saya ingin menelpon petugas Puskesmas biar saya ganti hari saja mengingat saya masih kurang fit. Tapi itu tidak saya lakukan. Tunggu besok saja. Siapa tahu saya sehat besoknya. Dan kalian tahu apa yang terjadi dengan tubuh saya besoknya? Saya sehat banget. Bangun tidur rasanya segar. Pagi itu saya sarapan di sekolah. Jam 9 sesuai jadwal saya dan guru-guru siap tempur untuk vaksin kedua.

Alurnya sama seperti vaksin pertama, kita daftar lagi di loket pertama. Lalu ke loket kedua. Nah di loket kedua ini saya ceritakan kalau saya baru sembuh demam. Sekarang masih batuk pilek walau sudah mendingan. Pokoknya hal sekecil apapun terkait kondisi saya saat itu saya ceritakan. Remeh memang tapi kadang yang kita anggap remeh ini yang justru membahayakan. Dan saya tidak mau membahayakan diri saya sendiri. Setelah mendengar penjelasan saya akhirnya dokternya bilang, tidak apa-apa divaksin. Tapi saya diukur suhu tubuh dulu. Normal. Cek darah, juga normal. Tidak apa-apa, insya Allah aman, ujar dokternya. Tapi setelah vaksin istirahat ya biar tetap bugar.

Akhirnya saya disuntik. Tawakal saja.

Saya menunggu reaksinya? Samakah seperti vaksin pertama. Atau lebih parah. Tahu apa yang terjadi? Tubuh saya tidak beraksi apa-apa setelah vaksin kedua ini. Biasa saja. Mungkin vaksin nya sudah bersahabat dengan tubuh saya. Itu anjuran dokter agar saya istirahat setelah vaksin tidak saya turuti. Saya masih beraktivitas seperti biasanya. Alhamdulillah, aman.

Sekarang kapan giliran kamu divaksin?
Tidak usah takut. Jika imunmu kuat dan tidak ada sakit bawaan, insya Allah aman. Asal ketika discreaning oleh dokter ceritakan kondisi kesehatanmu dengan sebenar-benarnya. Dokternya juga tidak asal-asalan kok menyuruh divaksin. Buktinya ada tiga guru dari yayasan kami yang tidak divaksin. Satu karena sedang hamil, yang kedua sakit darah tinggi, yang ketiga alergi obat. Ketiganya tidak divaksin. Intinya adalah jujur saja dengan kesehatanmu. Terbukalah, walau cuma sakit batuk pilek macam saya. Karena kamu yang tahu kondisi kesehatanmu. Ibarat kata kamu adalah dokter bagi dirimu sendiri.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir dan kita terbebas dari virus covid-19 ini. Aamiin.

Pulau Harapan, Juli 2021

Senin, 19 Juli 2021

Vegetables Salad with Peanut Sauce alias Gado-gado Warung Budi Sri



Vegetables Salad with Peanut Sauce alias Gado-gado Warung Budi Sri

Jaka Ferikusuma

Saya tidak terlalu sering makan gado-gado. Pun beli ini untuk lauk makan. Nah, kemarin pas puasa senin, lagi ingin berbuka dengan gado-gado. Jadilah saya beli gado-gado di warung ini. Warung Budi Sri. Porsinya banyak. Harga sesuai kantong. Saya pesan gado-gado yang tidak terlalu pedas. Saya tidak makan di tempat ya, tapi bawa pulang.

Gado-gado di sini samalah kayak gado-gado yang lain. Ada banyak macam sayuran, lontong dan tahu lalu disiram saus kacang. Di tempatku orang-orang lebih suka menyebutnya bumbu kacang. Lalu topingnya kerupuk merah.

Sayurannya ada kubis, kecambah, kacang panjang, timun, dan tomat. Tentu saja kubis, kecambah, dan kacang panjangnya sudah direbus. Irisan lontongnya banyak. Lontongnya juga lembut sekali, bukan lembek ya. Tahunya digoreng dengan matang yang pas, tidak sampai kering banget kulitnya.

Yang bikin gado-gado di warung ini spesial tentu saja saus kacangnya. Itu saus kacangnya enak banget. Kacangnya dihaluskan dengan lembut, tidak kasar. Jadi lumer sekali di mulut. Tidak ada istilah deh itu kacang lekat di gigi.

Selain itu, saus kacangnya juga royal banget, tidak pelit. Semua sayur, tahu, dan lontongnya basah semua. Pokoknya ini enak banget. Selain itu saus kacangnya terasa light sekali. Tidak bikin eneg. Ada kan ya saus kacang yang kadang bikin eneg? Nah, yang ini tuh racikannya pas. Aroma kencurnya juga tidak terlalu kuat tapi tetap terasa.

Begitu masuk suapan pertama, rasanya pingin lagi dan lagi. Tidak ingin berhenti mengunyah sebelum habis. Seporsi bikin kenyang. Bahkan bisa untuk dua orang. Kalau kamu pecinta gado-gado, kamu harus makan di sini. Buktikan sendiri berapa lezatnya gado-gado di warung ini.

Gado-gado yuk Sri
Lokasi : Warung Budi Sri (kurang lebih 100 meter dari Kantor Desa Pulau Harapan)
Harga : Rp. 10.000,-
Tambahan : Selain gado-gado, juga ada model, tekwan, es campur, dan aneka minuman.

Minggu, 30 Mei 2021

Keberkahan Menulis

Foto : bersama teman-teman FLP saat milad 20 FLP di Jakabaring, Palembang. 


Keberkahan Menulis
Jaka Ferikusuma


Saya mulai serius menulis sejak SMA. Gara-gara "dikomporin" teman. Dia tahu saya suka baca, lalu dia bawa majalah Horison ke sekolah, dipinjamkan ke saya. Dia juga suruh saya baca-baca karyanya, lalu mengajak saya untuk melakukan hal yang sama, menulis. Dari sana saya suka menulis. Rugi saja senang membaca tapi tidak diiringi dengan menulis.

Pertama menulis memang hanya untuk konsumsi pribadi atau dibaca teman-teman. Bingung mau dikirim kemana. Paling mading sekolah. Hidup di desa membuat saya mengalami keterbatasan ketika itu.

Saya mulai ikut lomba menulis sejak kuliah. Pertama ikut lomba menulis langsung juara 2. Lomba cerpen. Dapat hadiah buku dan uang. Senang banget. Dari sana mulai serius ikut lomba lagi. Kadang menang tapi sering kalah.

Gabung di FLP membuat saya semakin rajin menulis. Bertemu teman-teman yang mempunyai hobby sama itu menyenangkan. Berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Bertukar karya, saling kritik saran. Akhirnya memberanikan diri mengirim karya ke media. Awalnya selalu di tolak koran lokal. Lalu mencoba kirim ke majalah nasional. Sabili. Tembus. Cerpen. Lalu beberapa kali akhirnya dimuat di sana.

Itu awal-awal berkah menulis yang saya terima. Makin ke sini, saya makin banyak menerima keberkahan dalam menulis. Terbaru saya malah dapat handphone idaman dari hasil lomba menulis. Senangnya bukan main.

Tapi itu semua sebenarnya adalah bonus. Keberkahan yang saya dapati adalah ketika pembaca saya tersentuh, terenyuh dengan tulisan saya. Contoh nih, ada beberapa tulisan saya di media sosial saya yang menggugah seorang pembaca. Dia bilang, tulisan saya itu bernas dan menginspirasi. Padahal saya menulis itu karena tugas di Grup FLP Sumsel Menulis (GSM) dan sudah deadline pula.

Atau ada yang WA saya bilang, masya Allah, saya menangis membaca tulisan Kakak di blog. Itu rasanya bahagia banget. Sederhana sih tapi kena.

Saya berusaha menulis untuk kebaikan. Jadi apapun yang saya tulis adalah untuk kebaikan. Saya banyak tulisan di catatan gawai saya. Tapi saya memilih mana yang layak untuk diterbitkan di medsos dan mana yang hanya konsumsi pribadi saya. Atau saya tahan saja dulu sampai tulisan itu layak dibaca orang banyak.

Menulis juga sebenarnya adalah terapi untuk saya sendiri. Dengan menulis, apapun itu, termasuk menulis tulisan ini buat saya jadi senang. Mood jadi bagus. Hati jadi tentram. Menulis itu kaya healing bagi saya sendiri. Jadi jika ada kejadian apa hari ini yang mengesankan, jika saya tidak ingin bercerita pada siapapun maka saya akan tulis. Setelah tulisannya selesai, saya akan merasa lega.

Jadi menulis itu tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Sehari saya biasakan untuk menulis. Apa saja. Jika sedang suntuk, mood rusak, ide tak ada, sebisa mungkin menulis hanya satu paragraf pendek. Jika keadaan sedang baik dan cerah maka dalam sekali tulis bisa sampai tiga tulisan.

Keberkahan menulis itu sebenarnya justru ada pada menulis itu sendiri. Saya bersyukur dianugrahi Allah kemampuan mengolah kata menjadi sebuah karya. Menuangkan apa yang dialami, diceritakan orang lain, dan pendapat ke dalam sebuah tulisan. Layaknya musisi yang tenang jika bermusik, atau seperti pendaki yang merasa bersatu dengan alam jika telah mencapai puncak gunung. Seperti itulah saya, akan merasa damai dan bahagia ketika sudah menulis.

Menulis adalah bagian dari hidup saya. Tidak peduli seberapa receh tulisan saya.

Pulau Harapan, 30 Mei 2021

#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu
#menulisuntukmencerahkan
#flpoke

Senin, 19 April 2021

10 Kutipan dari Buku Hikmah Republika; Kepompong Ramadhan



1. Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Yang terpenting adalah kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. 


2. Kalau pelaku ketaatan dibantu dan disokong oleh para malaikat untuk terus melakukan kebaikan, para penggiat dosa dan maksiat akan terus didukung oleh setan baik dari golongan jin maupun manusia. 


3. Semua amal manusia itu adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. (Hadits Qudsi) 


4. Pengendalian diri merupakan obat yang paling manjur untuk meredam berbagai penyakit. 


5. Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah. (HR. Baihaqi) 


6. Kebahagian keluarga bumi yang berhati langit. 


7. Ketaqwaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya menahan amarah yang dapat merugikan orang lain. 


8. Ucapan "Allahu Akbar" yang diulang-ulang dalam gerakan shalat dan haji, dimaksudkan untuk mengingat bahwa hanya Allah saja yang besar. 


9. Maaf adalah kunci surga. 


10. Puasa seperti metamorfosis, dari seekor ulat menjadi kupu-kupu yang indah. Tidak salah jika menyebut orang yang berpuasa dengan metafor, kepompong ramadhan.


#flpsumselmenulis

#flpoke

#flpsumsel

Kamis, 18 Maret 2021

Isra Mi'raj di Masjid Kami

Di masjid kami, masjid Darussalam, setiap tahunnya selalu mengadakan peringatan isra mi'raj nabi Muhammad SAW. Banyak hal-hal unik yang terjadi setiap tahunnya. Ada yang berubah ada yang tidak. Berikut saya rangkum kejadiannya pada tahun ini.

1. Tentu saja setiap peringatan isra mi'raj yang selalu berubah adalah penceramahnya. Tidak akan pernah sama. Tahun ini penceramahnya adalah ustadz H. Dian Permana, Lc. Beliau adalah ustadz di pondok pesantren Qodratullah Langkan. Sudah dua tahun ini penceramahnya adalah ustadz dalam negeri. Biasanya ustadznya dari luar negeri alias Palembang. Dan seperti biasa ustadznya selalu bisa membuat ibu-ibu tertawa bahagia. 


2. Setiap tahun MC-nya adalah salah satu anak-anak Irmas yang saya pilih. Haha.... Kenapa saya yang pilih? Karena saya yang diberi tanggung jawab untuk urusan satu itu. Kalau tak ada yang bisa maka balik bandar. 


3. Tahun ini protokol kesehatan sudah diterapkan karena efek pandemi. Masjid tanpa sajadah. Jamaah memakai masker. Dan berjarak. 


4. Ibu-ibu selalu jadi magnet tersendiri saat acara. Selalu yang paling ramai datang ke masjid. Dan selalu disapa khusus oleh ustadznya. 


5. Urusan snack selalu berubah-ubah. Pernah beberapa tahun dapat nasi bungkus usai acara. Lalu akhirnya snack seperti biasa. Risol, brownis, donat, kumbu, putu ayu, dan snack sejenisnya. Snack boleh berubah-ubah tapi bagian repot membagikannya ke jamaah selalu Irmas. Pernah bahkan saking banyaknya yang datang kita yang yang membagikan tidak kebagian. Nasib. 😁
Tahun ini justru kelebihan snack. Saya tidak tahu kalau kardus yang ada di meja persis di depan saya duduk ternyata berisi snack. Saya pikir itu kardus berisi air mineral. 


6. Usai acara, ketika semua orang pulang, kembali Irmas sibuk mengumpulkan sampah snack dan buah. Bahu membahulah kami membersihkan masjid dengan riang gembira. 


7. Biasalah, usai acara kita akan foto bersama. Tapi tahun ini, tidak ada foto bersama. Beberapa anggota sudah duluan pulang. Saya yang sempat mau ngajak berfoto saja lupa. Efek lelah sepertinya.

Isra mi'raj di tempatmu bagaimana? Pasti lebih seru kan?

Pulau Harapan, 18 Maret 2021

#flpsumselmenulis
#wagflpsumselmenulis
#flpsumsel
#flpoke

Sabtu, 12 Desember 2020

Sumedang Kota Horor

Sumedang Kota Horor

Jakarta Ferikusuma




Sumedang memang sangat identik sekali dengan tahunya yang gurih itu. Mau dimana kamu berada, pasti ada saja orang yang jualan tahu Sumedang. Padahal belum tentu juga yang jual tahu itu memang asli tahu Sumedang atau malah hanya mirip saja.

Selain tahu, jika disebut kota Sumedang akan terngiang lagu "Kumenangis membayangkan.... ". Bukan. Bukan karena Sumedang adalah salah satu lokasi sinetron Indosiar yang menjadikan lagu itu soundtracknya. Tapi ini lebih ke penyanyinya. Siapa yang tak kenal Rossa, diva pop Indonesia yang berasal dari Sumedang. Selain terkenal dengan tahu, Sumedang juga terkenal dengan artisnya bersuara merdu. Selain, Rossa, diva dangdut Iis Dahlia juga dari Sumedang kan. Sayang Lesti yang lagi viral dari Cianjur. Coba Sumedang juga. Loh kok? 

Selain dua hal di atas, Sumedang juga terkenal dengan kehororannya loh. Kok bisa sih?  Bayangkan saking horornya youtuber sekelas Risa Saraswati dan Sarah Wijayanto saja memburu hantu di kota ini. Cari tahu yuk Sumedang bagian mana yang membuat kota ini menjadi horor. Ini hanya untuk kamu yang berani saja. Yang tidak berani, silakan baca saja. Tapi jangan takut. Ini dia tempat-tempat yang bikin Sumedang jadi kota horor. 


Gunung Kunci



Dari nama saja sudah agak gimana gitu. Gunung Kunci terkenal sebagai salah satu tempat yang memiliki bangunan bersejarah. Di dalam gunung terdapat benteng peninggalan Belanda yang memiliki kisah mistis. Kisah mistis apa? Rupanya benteng tersebut pernah dijadikan sebagai tempat pembantaian terhadap warga pribumi oleh penjajah.  Hawa mistis pun sangat terasa di tempat ini. Bahkan menurut Risa Saraswati dan tim ketika ekspedisi ke dalam benteng dalam videonya dia menjelaskan, di dalam benteng terasa sangat panas sekali padahal di luar cuaca amatlah dingin. Mereka seakan meyakini ada kekuatan ghaib yang ikut membuat benteng menjadi panas.

Menurut orang-orang, banyak mahkluk halus yang kerap menampakkan diri, seperti hantu wanita hingga suara derap langkah kaki tentara. Ini biasa terdengar ketika tengah malam saat orang-orang terlelap dalam tidur. Bisa dibayangkan malam-malam dengar derap kaki tentara mau perang padahal keadaan sepi sunyi. Kan ngeri ya? 

Gunung Kunci berlokasi di Kotakulon, Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kalau jalan ke Sumedang, marilah mampir. Selain belajar sejarah, juga bisa sekalian uji nyali. Kalau tidak kuat tinggal lambaikan tangan ke kamera.



Jembatan Cincin



Tidak hanya Gunung Kunci yang menjadi icon kehororan kota Sumedang. Ada satu tempat lagi yang tak kalah seramnya, yaitu Jembatan Cincin. Jembatan Cincin adalah salah satu jembatan tertua di Indonesia. Jembatan ini berdiri di atas pemakaman umum. Nah loh, pemakaman umum, saudara-saudara. Ya, wajar saja kalau horor.  Kabarnya, menurut desas desus yang beredar tempat ini dihuni oleh hantu wanita yang kerap meminta ditemani berjalan menuju ujung jembatan. Warga sekitar juga sering mendengar suara wanita tertawa atau menangis di jembatan ini kalau malam hari.

Pada siang hari, jembatan ini nampak sangat eksotis. Banyak orang lalu lalang melewati jembatan ini, baik jalan kaki, naik sepeda atau mengendarai motor. Tidak nampak nuansa mistisnya sama sekali. Bahkan pemandangan di bawah jembatan pun sangatlah indah. Mata kita akan dimanjakan dengan padi yang menghijau menghampar. Belum lagi gedung tinggi nan megah yang ada di sebelahnya. Itu menambah kesan eksotis jembatan ini. Cocok sekali untuk berswafoto. Tidak ada tuh kesan seram dari tempat ini. Sungguh, sangat bertolak belakang sekali dengan nuansa kalau di malam hari.

Tim Jurnal Risa pernah mampir ke jembatan ini, malam hari tentu saja. Beberapa timnya ada yang kesurupan hantu penunggu jembatan Dan rupanya jembatan ini pernah digunakan untuk tempat bunuh diri. Duh, horor sekali ya. Jembatan ini berlokasi di Jalan Cikuda, Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kalau kamu penakut jangan datang di malam hari ya. Siang saja biar bisa berswafoto dengan pemandangan yang indah.


Menara Loji



Sebuah menara berwarna putih dengan arsitektur neo-gothik Belanda ini mempunyai atap berbentuk segi delapan dan mengerucut di bagian atasnya dengan dilengkapi hiasan garpu tiga jari seperti layaknya senjata trisula. Dahulu, menara ini dibangun sebagai penunjuk jam bagi para pekerja yang berada di kebun dekat Menara Loji.


Selain menjadi saksi bisu sejarah, Menara Loji Jatinangor juga dianggap sebagai tempat angker di Sumedang. Pasalnya, pekerja dan warga setempat sering mendapat gangguan dari makhluk astral ketika berada di sekitar menara.


Menara ini pernah dikunjungi oleh Tim Dua Dunia, sebuah acara bertema mistis dari salah satu stasiun TV nasional. Narasumber pun mengatakan bahwa dirinya pernah melihat sosok berupa pria Belanda berjubah yang sedang menunggang kuda di malam hari. Kalau kamu yang ketemu pria Belanda berjubah naik kuda itu, kira-kira apa yang akan kamu lakukan. Ikut naik atau malah kabur?


Waduk Jatigede




Bagaimana bisa waduk yang baru dibangun pada tahun 2015 ini diklaim sebagai tempat angker di Sumedang? Meskipun baru seumur jagung, Waduk Jatigede sudah memiliki berbagai mitos maupun cerita misteri yang di luar nalar.


Waduk Jatigede memiliki sejumlah mitos, di antaranya yang paling terkenal adalah keberadaan ular ghaib sepanjang 4 kilometer yang hidup di dalamnya. Konon, ular ini membentang dari Kecamatan Wado sampai dengan Kecamatan Darmaraja.


Makhluk gaib yang menghuni Waduk Jatigede bukanlah ular sepanjang 4 kilometer saja, tapi ada juga buaya putih. Buaya putih bukan buaya albino tapi merupakan buaya ghaib jelmaan jin. Buaya gaib ini jarang menampakkan diri. Hanya beberapa orang saja yang mengaku pernah melihat perwujudan buaya ini meskipun belum tentu kebenarannya.


Mitos mengenai hewan-hewan gaib di Waduk Jatigede ini hanyalah segelintir cerita misteri dari waduk seluas 4.200 hektar ini. Masih banyak lagi cerita mitos nan mistis lainnya. Salah satunya cerita tentang Keuyeup Bodas adalah bahasa Sunda yang artinya adalah kepiting putih. Secara umum, kepiting memiliki warna gelap seperti hijau keabu-abuan atau hijau kehitaman. Ada juga kepiting yang warnanya jingga cerah. Kepiting putih dipercaya sebagai mahluk legenda yang berukuran besar.


Pembangunan Waduk Jatigede ini diklaim dapat membangunkan si kepiting putih. Mitos tentang adanya keuyeup bodas ini sudah lama tersebar di sekitar masyarakat yang tinggal di Waduk Jatigede, bahkan sebelum waduk ini dialiri air. Misteri Waduk Jatigede seputar kepiting putih ini sangat ditakuti warga. Pasalnya, keuyeup bodas raksasa bisa menjebol bendungan suatu hari nanti.

Tidak hanya sampai di situ kisah horor mengenai waduk ini. Masyarakat yang tinggal di sekitar waduk percaya, bahwa waduk ini sering meminta tumbal. Sudah banyak kejadian yang terjadi dan memakan korban hingga meninggal. Tidak hanya satu kali, tapi sampai berkali-kali.

Jika kebetulan kamu berhasil datang ke Waduk Jatigede ini, kalau ingin mandi di waduk boleh saja. Tapi jangan ke tengah waduk, agak berbahaya. Apalagi kalau saat berenang di waduk, tanpa pemanasan dulu. Kalau kaki kram maka nanti orang-orang akan  bilang kalau kamu koran tumbal berikutnya. Tetap waspada.

Demikian empat tempat yang bisa kamu kunjungi ketika datang ke Sumedang jika kamu ingin menikmati Sumedang dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang anti-mainstream, berbeda dari yang lain. Siapkan mental juga ya. Siapa tahu ketika sedang kunjungan mereka mau menyapa kamu satu itu juga. Jarang-jarang kan bisa disapa mahluk ghaib.




Pulau Harapan, 12 Desember 2020


*rujukan tulisan dan foto
idntimes.com
https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/travel/destination/amp/dhiya-azzahra/tempat-paling-angker-di-sumedang

bacaterus.com
https://bacaterus.com/tempat-angker-di-sumedang/

Video YouTube Jurnal Risa
#27 Tangisan di Jembatan Cincin
#40 Jalan-jalan ke Gunung Kunci part 1


Selasa, 10 November 2020

Jatuh dari Rumah Panggung





Saat usia tujuh tahunan, saya sudah punya gank. Terdiri dari tiga orang. Dua perempuan dan saya sendiri laki-laki. Saya yang paling bungsu di antara dua teman saya itu. Dua teman saya itu tetangga kiri kanan rumah. Yang satu namanya Aryani, yang lebih akrab kami panggil Mak Wok, dia yang paling tua di antara kami, dua tahun di atas saya. Satunya lagi namanya Deli Sutrisna, dan sering dipanggil Dis. Tapi di sekolah dia tetap dipanggil Deli. Usianya setahun di atas saya. Tahu apa nama gank kami? ABC. Kayak merek kecap dan baterai. Haha.... 


Tapi namanya kanak-kanak, pasti bikin nama gank yang unik. Mana tahu kalau ternyata itu merek kecap dan baterai. Inspirasi nama gank itu sebenarnya sederhana. Dulu tiap pekan pasti ada lomba cerdas cermat di TVRI. Itu merupakan tontonan favorit kami bertiga. Lomba cerdas cermat kan ada tiga kelompok yang bertanding yakni kelompok A, B, dan C. Nah, nama gank kami terciptanya dari sana. Karena tiap nonton itu, secara otomatis Aryani akan mendukung kelompok A, Deli akan mendukung kelompok B, dan saya mendukung kelompok C. Mengapa begitu? Semua di susun berdasarkan urutan umur. Yang paling tua A. Yang tua kedua B dan yang paling muda C. Sederhana sekali.


Kami kemana-mana selalu bertiga kecuali sekolah. Saya dan Deli satu sekolah walau Deli jadi adik kelas saya. Saya bingung kenapa bisa begitu waktu dulu. Kalau tidak salah, harusnya satu angkatan, tapi karena Deli sering sakit waktu itu jadi dia telat masuk sekolah. Sedang Aryani beda sekolah dengan kami. Tapi akhirnya dia jadi adik kelas saya juga karena terlalu di sayang guru alias dua tahun tidak naik kelas karena kesulitan di pelajaran matematika.


Kalau sudah pulang sekolah bisa dipastikan kami bertiga akan main bersama. Mainnya bisa di mana saja. Namanya anak desa mainnya pasti kotor-kotor. Kami sering main di hutan. Mencari jambu hutan, atau sekadar santai di atas pohon karet sambil berkisah masa depan. Main pondok-pondokan di belakang rumah yang juga kala itu masih semak hutan. Atau mandi di sungai belakang rumah. Mancing. Bekarang. Atau iseng mencuri timun di kebun tetangga. Haha....


Masa itu hidup nyantai banget. Kayak tidak ada beban. Main saja terus. Jika sedang malas main ke hutan atau sungai maka mainnya di sekitaran rumah. Yang bikin saya agak malas, pasti akan main versi perempuan. Main masak-masakan. Main boneka-bonekaan yang kami buat dari sarung. Dulu mana bisa kami beli Teddy Bear. Hanya anak orang kaya yang mampu membelinya. Main guru-murid, pasti nanti saya yang akan jadi guru. Saya jarang jadi murid. Karena kata mereka, saya yang paling pintar di antara mereka berdua, jadi lebih acocok jadi guru. 



Di antara banyak kenangan itu saya ingat salah satu kenangan yang bikin ngilu waktu itu ketika itu kami main di rumah Deli. Rumahnya rumah panggung. Sampai hari ini, rumah Deli masih rumah panggung. Hanya dapurnya saja yang sudah "diturunkan". 


Kami main di ruang tengahnya yang luas. Main boneka-bonekaan yang kami buat dengan sarung. Masing-masing kami satu boneka sarung. Entah bagaimana kejadiannya, saya lupa, yang jelas saat itu Deli dengan boneka sarungnya duduk di muara jendela rumahnya. Dia memang membuat 'rumah' dekat jendela itu. Jadi kesibukannya tak jauh dari sana. Nah, kami juga sibuk dengan boneka kami yang sudah dianggap bayi itu. Lalu terjadilah kejadian yang tidak kami sangka-sangka. Deli jatuh dari jendela rumah panggungnya ke tanah.


"Gedebug!!!"


Asli, saya dan Aryani kaget. Seketika kami menengok Deli yang sudah jatuh ke tanah melalui jendela tempat dia terjatuh tadi. Deli sudah "keras" di bawah sana. Badannya penuh becek. Soalnya semalam habis hujan. Dia tidak bergerak. Saya dan Aryani saling toleh. Otak anak-anak kami satu frekuensi. Deli sudah tidak bernyawa. Kami ketakutan. Maka tanpa menunggu aba-aba, saya dan Aryani langsung lari turun dari rumah panggung Deli dengan tak lupa membawa boneka sarung kami masing-masing. Pulang ke rumah masing-masing. Nasib Deli, entahlah. Kami berdua saat itu takut disalahkan. Sungguh keputusan anak-anak yang naif sekali saat itu. Keputusan yang membuat saya menyesal kalau ingat itu.


****


Dua hari setelahnya saya dan Aryani menyempatkan diri membesuk Deli. Alhamdulillah, dia tidak apa-apa. Sudah diurut oleh tukang urut patah. Tulang ekornya yang bermasalah karena terjatuh. Ternyata setelah saya dan Aryani kabur, ibu Deli tahu kalau anaknya terjatuh karena mendengar suara bedebug lalu beberapa menit kemudian Deli menangis. Dia segera dilarikan ke Puskesmas desa. Ditangani.


Saat datang hari itu, saya dan Aryani dinasehati oleh orang tua Deli tentang pertemanan. Beliau bilang, tidak boleh seperti itu. Seandainya saat itu ibu Deli tidak tahu kalau anaknya jatuh, pasti Deli sudah meninggal. Beliau juga mengatakan, kalau berteman itu harus saling jaga. Saat ada teman yang kecelakaan temannya harus membantu bukan lari.


Masa itu, kami tak begitu menghiraukan nasehat itu. Kami sudah sangat bahagia saat tahu Deli masih hidup. Karena di pikiran kami Deli sudah meninggal mengingat rumah panggung Deli cukup tinggi. Kami saat itu ketakutan. Takut disalahkan. Kalau Deli meninggal maka kami yang akan dikatakan membunuh dia. Maka kami akan ditangkap polisi lalu masuk penjara. Kami tidak ingin seperti itu. Makanya saya dan Aryani memilih kabur saat itu.


Bukan main takutnya saya dan Aryani ketika pulang ke rumah masing-masing. Makan tak enak. Tidur tak nyenyak. Besoknya "maling-maling" berita. Tapi tetap takut menemui Deli ke rumahnya, takut disalahkan oleh orang tuanya. Padahal kami berdua tidak tahu apa yang membuat Deli bisa jatuh.


Ibu saya saja sampai heran mengapa aku belum mengunjungi Deli yang sedang sakit? Kujawab saja, nanti. Setelah diskusi panjang dengan Aryani, hari kedua kami memberanikan diri membesuknya. Saat dibesuk kami hanya diam. Deli juga diam. Tatapan matanya marah. Seakan dia berkata,


"Kalian berdua tega, bukannya nolongin aku tapi malah lari. Dasar teman pengecut!"


Kami membalas dengan tatapan bersalah.


"Maaf. Kami hanya takut."


Tiap hari kami membesuk Deli. Lebih banyak diam. Deli masih marah. Kami pun tak tahu harus berbuat apa. Sampai hari ke enam baru dia banyak bicara. Akhirnya kami akrab seperti sedia kala. Ah, masa kanak-kanak memang selalu indah untuk dikenang.


Sampai hari ini kami masih berteman. Tapi tidak sedekat dulu lagi. Sudah sibuk masing-masing. Terutama saya. Sebab memang saya pernah bertanya pada Aryani, kenapa kita tidak sedekat dulu lagi? Dia bilang, kami malu sama kau, Jaka. Kau kan kuliah, sarjana, tidak pantas berteman dengan kami. Kami cuma lulusan SD.


Ya memang hanya saya yang terus melanjutkan pendidikan. Aryani hanya sampai SD. Deli hingga SMP. Tidak seperti cita-cita kami sejak kecil yang ingin kuliah bersama dan sukses bersama. Saya agak "menyesali" hal ini.


Kini, Aryani sudah menikah dan punya satu orang anak. Deli masih sendiri, bibiku bilang, dia tidak mau menikah. Alasannya masuk akal tapi tidak bisa saya ceritakan di sini. 


Saya selalu berdoa mudah-mudahan walau kami tidak dekat lagi di dunia tapi insya Allah, kami bisa dikumpulkan di surga-Nya kelak.



Pulau Harapan, 10112020



Foto hanya pemanis diambil via google, kami tidak punya foto masa kecil bahkan sampai sekarang.



#WAGFLPSumselMenulis

#lampauibatasmu