Sabtu, 28 Mei 2022

Short Trip in Pagar Alam Vol. 1

 Drama-drama Perjalanan 



Usai shalat subuh saya baru packing barang. Perlengkapan saya tidak banyak. Hanya bawa jaket, sarung dan dalaman, juga odol, sikat gigi, minyak wangi, dan krim pegal-pegal. Di Pagar Alam itu dingin sekali. Jadi pasti butuh penghangat. Penghangatnya ya krim pegal-pegal itu. Jam 6.30 saya berangkat dari rumah. Bukan langsung ke Pagar Alam bersama rombongan. Tidak. Saya ke sekolah dulu. Sekolah tempat saya mengajar mengadakan karya wisata. Jadi ceritanya nanti saya tinggal menunggu rombongan ke Pagar Alam di Palembang saja. Janjinya jam satu. Dan saya menunggu di OPI Mall.


Jam satu menunggu. Nyatanya jam 2 lewat mereka baru sampai. Kami berangkat ke Pagar Alam bertujuh. 5 laki-laki dan 2 perempuan. Fatu, Adit, Oji, Relly, Mutia, Tari, dan tentu saja saya sendiri. Menggunakan mobil dengan sopir yang sangat keren (nanti ada volume sendiri tentang sopir keren ini). Dan drama perjalanan pun dimulai.



Di mobil tentu saja kita sibuk bercerita, bercanda, ngemil, berfoto, dan bikin video. Saya banyakan paniknya. Apalagi kalau sopirnya ngebut, ya sudah, latahnya keluar. Kaget bener saya. 


Tiba di Prabumulih saya lupa kalau jalan yang biasa dilewati ditutup karena ada pembangunan flyover. Jadi jalan dialihkan ke jalan lingkar. Di sini juga dikabarin bahwa tempat yang jadi tujuan kita untuk menginap sebentar di Pagar Alam tak bisa dikunjungi. Temen Adit ada kerjaan. Saya mutar otak, berusaha menghubungi teman saya yang ada di Pagar Alam. Kepikiran nama Ica, kamerat saya di FLP. Alhamdulillah dia bersedia menampung kita di pesantrennya. Saya sebenarnya kasihan sama Mutia dan Tari. Kalau seandainya secowokan doang, kita mah tidur dimana saja oke.


Sampai Muara Enim berhenti sebentar untuk makan malam yang kemalaman. Kena prank betul, karena makannya kemahalan. Padahal kita harus hemat. Saya, mang Lek dan Mutia sampe saling tatap karena kaget dengan harga. Haha....


Perjalanan dilanjutkan. Selama perjalanan saya tidak mengantuk sama sekali. Menikmati perjalanan betul. Lepas dari kota Lahat, masuk ke Pulau Pinang, jalan mulai berkelok. Kecamatan Pulau Pinang, Lahat, ini terkenal dengan banyak air terjunnya. Saya sempat beberapa kali ke sini mengunjungi air terjunnya. Kecamatan ini juga berbatasan langsung dengan Pagar Alam. 


Fatu mengendalikan mobil dengan ngebut. Jalanan malam sepi. Biar jalannya berkelok manja, dia tetap stabil mengendarainya. Dan malam itu tanpa sengaja kami menabrak ular yang melintang di jalan raya. Awalnya kami mengira itu kayu. Serius! Sebab Fatu sempat nanya sebelum akhirnya memutuskan melimpis "kayu" itu. Setelah dekat baru sadar kalau itu bukan kayu. Mau ngelak tak terelakkan lagi. Benar-benar melintang mengisi separuh jalan. Kita semua kaget dan saya langsung istighfar.


Tak lama dari sana, ban mobil kami bocor halus. Tepat di depan jalan masuk ke air terjun Bidadari di desa Karang Dalam. Berhenti sebentar. Terpaksa ganti ban. Karena saya sangat tidak paham dengan hal ini, dalam hati hanya bisa bantu doa. Cuma lihat-lihat doang. Sedang sibuk mengganti ban, eh, si dongkrak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lalu Oji dan Mang Lek melambai-lambaikan tangan meminta bantuan ke mobil yang lewat. Ada yang berhenti, lalu bilang tidak bisa bantu. Alhamdulillah, ada mobil pick up yang berhenti. Meminjamkan dongkrak untuk kita.  Terima kasih untuk dua orang baik yang sudah membantu kita malam itu. Bahkan mereka ikut membantu tidak seperti saya yang cuma bisa melihat doang karena nggak ngerti. Daripada sok-sok bantu tapi malah merepotkan.




Setelah beres, perjalanan dilanjutkan. Saya tidak enak sama Ica nih. Harusnya kita jam sebelasan sudah sampai karena musibah ini jadi molor. Namun saya berusaha tenang. Mobil kita terus melaju tanpa hambatan. Tiba di tingkungan fenomenal Endikat saya merasa bahagia sampai bertepuk tangan, akhirnya saya merasakan melewati tikungan itu. Dan itu juga menandakan bahwa kita sampai di kota perjuangan, Pagar Alam. 


Menurut Ica, dari Endikat ke Pesantrennya itu masih setengah jam lagi. Perjalanan tengah malam itu pun tak menghambat penglihatan saya ke sekitar. Di perbatasan ini, rumah penduduk masih terawat keasliannya. Masih khas Pagar Alam, rumah panggung dengan atap seperti rumah Minang, lancip di ujungnya. Keren. Tidak tergerus zaman.


Tiba di Pesantren Ica, Alhamdulillah disambut dengan baik, ya, walaupun harus membangunkan tuan rumah tengah malam.  Setelah mengantar dua teman cewek kami ke asrama putri, giliran kami yang akan beristirahat. Alhamdulillah, saya bisa tidur nyenyak. Lumayan untuk persiapan besok menuju wisata Pagar Alam.




Pulau Punjung, 28-29 Mei 2022

Kamis, 28 April 2022

Dia yang Ingin Kusebut Adik

Dia yang Ingin Kusebut Adik 
Jaka Ferikusuma 


 Dulu sekali, entah beberapa tahun lalu, saya pernah bilang ke diri sendiri ketika usai diajaknya naik motor saat pergi jum'atan ke masjid, kayaknya seru deh kalau temenan sama dia.Setelah itu ucapan tersebut menguap begitu saja. Sebab kalau ketemu dia paling cuma senyum doang. 


 Dipengujung tahun 2021, Allah beri kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak dengannya. Bermula dari selfie bersama ketika rapat karang taruna. Entah mengapa malam itu dia mau-mau saja diajak selfie. Lalu lanjut jadi panitia turnamen bola, sekarang berdua mengurus lomba di masjid dimana kami menjadi pengurusnya. Semudah itu jika Allah menghendaki hamba-Nya menjadi dekat.
Saya tahu sedikit tentangnya dari beberapa temannya yang memang dekat dengan saya. Saya shock awal tahu dia begini, dia begitu. Tidak menyangka. Saya pikir dia "aman-aman" saja. Namun ternyata dia sedang tidak nyaman dahulunya. 


 Sekarang? Dia sudah jauh berubah. Dia menjadi pribadi yang lebih baik. Buktinya, saya malah kalah shalih dibanding dia. Pas bukber kemarin, ketika saya asyik menyuap nasi, dia malah ke masjid terdekat untuk shalat maghrib setelah meminum beberapa teguk air sekadar membatalkan puasanya.
Saya selalu mendoakan, menyebut namanya dalam doa, agar kebaikan terus menyelimutinya. Agar dia istiqamah di jalan kebaikan ini. Saya bahagia akhirnya menjadi satu circle bersamanya. Karena jujur saya tidak pernah terpikir akan menjadi seperti ini. Dia sekeren itu ternyata. Dia bangkit dari sisi buruknya. Memang saya tidak banyak tahu tentang dia, hanya dari cerita-cerita saja. Saya tidak berani mengorek-ngorek masa lalu orang kecuali dia sendiri yang cerita. Kepo amat saya sama kehidupan orang. 


Kedekatan kami ini, apalagi di bulan Ramadhan yang mulia ini, apakah adalah jawaban dari ucapan saya yang pernah bilang ingin temanan dengannya? Bisa jadi. Bukankah ucapan adalah doa. Allah, jaga ukhuwah kami. 

 
Pulau Harapan, 22 April 2022 
Kepada Fatu Alam.

Sabtu, 08 Januari 2022

Pesan Kepada Fatih

Bersama Fatih Hamizan (Dok. Pribadi) 


Kemarin saat ulang tahun siswa saya di MI, seperti biasa saya didaulat menjadi pembawa acaranya. Usai acara dan setelah makan, bertemulah saya dengan Fatih Hamizan dan ibunya. Fatih Hamizan, bocah berumur lebih dari dua tahun berwajah gembil dan menggemaskan. Dia adalah anak adik saya. Adik saya yang luar biasa. Adik saya yang baik sekali. Dan lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan banyak hal untuk Fatih, begitu dia biasa dipanggil, tentang ayahnya.


Fatih, kau harus tahu bahwa ayahmu adalah orang baik. Sangat baik dan terlalu baik. Dia tidak pernah menyakiti siapapun. Dia tak pernah membuat sesiapa pun kecewa. Dia hanya pernah terluka lalu sulit menyembuhkannya. Aku saja yang terlalu egois terhadapnya.


Fatih, kau juga harus tahu bahwa ayahmu itu adalah orang yang kuat. Teguh. Dia tak pernah goyah dalam meraih apapun yang ingini. Tak peduli badai. Tak peduli aral. Dia selalu dapat meraihnya. Menjadilah kuat seperti ayahmu. Jangan takut. Jangan lengah. Kau harus selalu tangguh. Karena kelak pada masamu, mungkin badai dan aral akan semakin kejam.


Fatih, ayahmu adalah sosok yang hebat. Pembelajar yang baik. Tak ada sedikitpun sesuatu yang kupinta padanya tak dikerjakannya dengan baik. Selalu sempurna. Setidaknya ayahmu telah bekerja dengan sepenuh hatinya.


Fatih, ayahmu sempurna menjadi adikku. Ya dia sempurna menjadi adikku. Dia adikku. Takkan ada adik yang baik seperti dia lagi. Mau dicari di belahan bumi bagian manapun tidak akan ada yang sepertinya. Kau tahu mengapa? Karena dia adikku.


Fatih, kelak jika kau besar, dan kau mengerti semua ini, maka ingatlah bahwa ayahmu orang baik. Jangan pernah mengecewakan dia seperti aku yang selalu membuatnya terluka. Jangan pernah kau abaikan dia, jangan pernah kau membuatnya luka. Jadikan dia sebagai guru, teladan yang baik bagimu dalam menjalankan kehidupan.


Fatih Hamizan, kubagikan sedikit cerita tentang kami berdua, aku dan ayahmu, kakak adik yang penuh ego ini, bahwa ayahmu, adikku itu, pernah membelaku mati-matian. Melindungiku dari bahaya apapun. Padahal harusnya aku sebagai kakak yang melindungi dia dari semua kejahatan. Tapi bagi ayahmu, aku adalah kakaknya.


Kau mungkin bertanya apa ayahku pernah melakukan kesalahan? Aku bahkan  memuji ayahmu tanpa cela. Fatih, kuberi tahu kau, manusia mana yang tak melakukan salah. Tentu ayahmu pernah melakukan salah dalam hidupnya, begitu juga aku. Karena kami adalah kakak adik, maka kesalahan kami sejatinya sama, ego. Ego kami terlalu tinggi hingga pernah membuat kami hancur lebur menjadi debu. Untung saja, waktu memberi kami waktu untuk belajar, sabar dan ikhlas, maka sampai detik ini ayahmu masih adikku. Kami telah berdamai dengan ego kami, Fatih.


Fatih Hamizan, tak ada yang menandingi ayahmu dalam berbagai kebaikannya. Dia selalu terdepan dan terhebat. Jika kelak kau meragukan kebaikan dan kehebatan ayahmu, datanglah padaku. Aku adalah saksi kunci untuk segala keraguanmu terhadapnya. Sampai hari ini pun, hanya kebaikannya yang selalu terkenang.


Sebenarnya banyak hal yang ingin kuungkap padamu, Fatih Hamizan, tentang ayahmu. Hanya saja, berlembar-lembar tulisan tak akan sanggup untuk menyudahi kisahnya. Kau hanya perlu tahu bahwa ayahmu orang baik. 


Akhirnya, aku hanya mampu berpesan lewat tulisan ini, menjadilah baik seperti ayahmu. Tidak perlu menjadi orang lain, kau hanya perlu menjadi Fatih Hamizan yang baik. Aku mencintaimu berlipat-lipat, seperti aku menganggap ayahmu sebagai adikku.



Pulau Harapan, 08 Desember 2021
*semoga kelak kau membaca tulisan ini, Fatih Hamizan. 

 



Kamis, 16 Desember 2021

Mereka yang Bercerita

 


Kejadian ini terjadi di Saung Rumah Qur'an Nurussa'adah Pulau Harapan. Kebetulan mereka bertiga yang ada di foto (perhatikan foto dengan jelas, ada seorang anak yang sembunyi di balik baju merah maroon) masuk dalam kelas saya. Hanif, Diaz, dan Rasya.

Setelah selesai muraja'ah, membaca alat peraga metode Ummi, dan mengaji, tibalah waktunya untuk menulis. Ketiga anak ini menulisnya persis di dekat meja saya. Sambil menulis ketiga anak ini bercerita sesama mereka, sesekali mengajak saya dan bertanya ini itu. Apa saja mereka ceritakan. Dan kali ini mereka bercerita tentang liburan. Saya mendengar semua kisah mereka sambil fokus menulis di kartu prestasi mereka.

Rasya bilang besok dia mau ke Lampung. Aku juga ikut, sambung Diaz. Rasya dan Diaz masih ada hubungan keluarga. Hanif tidak mau kalah dong. Aku mau ke Palembang, ujarnya.
"Nanti kami mau ke pantai, ustadz," jelas Rasya. Saya tersenyum menatap Rasya sebagai respon lalu kembali fokus menulis di kartu. "Kita mau berenang."
"Aku juga pernah ke pantai," terang Hanif.
"Air pantai rasanya asin," kata Diaz.

Pikir saya, bocah-bocah ini kecil-kecil tapi liburannya sudah kemana-mana. Saya sewaktu kecil liburannya hanya bermain bersama teman-teman di dalam hutan. Boro-boro ke pantai. Pertama kali ke pantai saja ketika usia SMA. Beruntung sekali mereka.

"Ustadz, besok kalau ke Palembang kami mau ke PS," kata Hanif yang matanya fokus ke papan tulis.
"Aku sering diajak Bunda ke PS, " balas Rasya.
Haduh, lagi-lagi saya agak tercengang mendengarnya. Saya yang sebesar ini saja jarang sekali masuk mall. Mereka dengan mudahnya bilang sering masuk mall. Anak-anak jaman sekarang ya.

Mereka bertiga terus bercerita hingga selesai menulis dan diponten. Saya selalu senang dengan dunia anak-anak. Mereka lugu dan menggemaskan. Rajin-rajin mengaji Hanif, Diaz, dan Rasya  biar jadi anak yang shalih dan bisa membanggakan orang tua.

Pulau Harapan, 09122021

Senin, 25 Oktober 2021

Empat Lawang Journey : Perjalanan yang Memabukkan

Empat Lawang Journey : Perjalanan yang Memabukkan




Setelah rapat panjang, akhirnya tiba saatnya melakukan perjalanan panjang menuju bumi Empat Lawang. Empat Lawang akan menjadi tuan rumah Writing Camp FLP Sumsel. Dan saya akan menjadi salah satu pemateri dalam acara tersebut.

Jumat (151021) pukul 06.50 saya sudah bersiap menuju ke Palembang. Rencananya saya akan berangkat bersama teman-teman dari Palembang. Kami janjian bertemu di simpang empat Jakabaring. Menunggu Damri di sana, lalu berangkat ke Prabumulih. Kenapa Prabumulih? Karena kami janjian kumpul di sana. Di sana sudah menunggu teman-teman dari Prabumulih dan Ogan Ilir. Kami akan berangkat bersama.

Sampai Prabumulih, orang-orang sudah selesai shalat jumat. Kita ketemunya di komplek Pertamina. Sambil menunggu mobil menjemput, kita yang dari Palembang shalat dulu, makan, dan istirahat sebentar. Sekira pukul 14.00 kita melanjutkan perjalanan.

Baru berangkat sebentar saya sudah membuat drama. Saya kehilangan gawai alias hape. Satu mobil heboh. Haha.... Bukan Jaka namanya kalau tidak membuat kehebohan. Tapi itu hanya berlangsung 5 menit. Ternyata hape saya ada di dalam tas. Dasar tidak teliti saja sewaktu memeriksanya.

Bukan hanya itu saja tingkah saya, saat mau masuk kota Muara Enim, tiba-tiba perut saya mules. Mana saya sudah mulai mabuk perjalanan. Maka, saya mati-matian menahan untuk buang air. Untung bapak sopirnya dengan baik hati mampir sebentar di SPBU. Buang hajatlah saya di tolitenya.

Perjalanan dilanjutkan. Memasuki kota Lahat, peserta di mobil heboh dengan penampakan bukit Jempol. Mereka sibuk merekam dan memoto dari dalam mobil. Perjalanan terus berlanjut. Jalanan curam dan berliku. Untungnya, walau dalam kondisi mabuk perjalanan, kami di dalam mobil sibuk bercerita. Jadi saya merasa tenang karena tidak akan muntah.



Sampai adzan maghrib tiba, mobil kita berhenti di masjid di daerah Kikim Timur. Kami menjama' shalat di sana. Mulai dari sini penderitaan saya dimulai. Saat memasuki mobil, hari sudah gelap. Teman-teman yang ada di mobil yang semula asyik bercerita tiba-tiba hening. Dalam hati saya menggerutu, 'alamat muntah di tengah jalan ini.'

Benar saja, kepala saya tambah pusing. Perut saya sudah macam diaduk-aduk sementara perjalanan menuju Tebing Tinggi masih dua jam lagi. Ya salam....

Dalam hati saya menggerutu, berdoa, menguatkan hati, 'Jaka, kamu kuat. Kamu hebat. Tahan. Jangan muntah di dalam mobil. Nanti kalau sampai baru keluarkan semua isi perut."

Sepanjang dua jam perjalanan saya mensugesti diri saya sendiri. Kuat. Hebat. Tahan. Sambil mata sesekali melirik ke luar mobil, sudah masuk daerah Empat Lawang belum. Saat saya melihat tulisan Tebing Tinggi, saya bersorak dalam hati. Bentar lagi sampai.

Saya ribut saat, mobil melambat karena mencari hotel tempat nanti kami menginap selama di Tebing Tinggi. Ketemu. Begitu masuk parkiran hotel saya buru-buru keluar mobil dan mencari posisi paling baik untuk muntah. Saya muntah dengan sukses. Semua isi perut berhasil keluar. Saya lemas. Tapi senang, berhasil mensugesti diri sendiri untuk tidak muntah di mobil.

Sungguh, perjalanan ini melelahkan. Tapi akan terbalas dengan kegiatan selama saya berada di sini. Inilah awal perjalanan saya di kabupaten Empat Lawang.


Funfact perjalanan :

Pulang pergi kami shalat maghrib di masjid yang sama. Masjid Nurul Hidayah Desa Gunung Kembang Kec. Kikim Timur Kab. Lahat. 

Pulau Harapan, 23 Oktober 2021

Selasa, 31 Agustus 2021

Rahasia Anda Aman di Tangan Saya

 



Rahasia Anda Aman di Tangan Saya

Jaka Ferikusuma


Rahasia menurut KBBI adalah sesuatu yang sengaja disembunyikan supaya tidak diketahui orang lain. Dalam hidup setiap manusia pasti memiliki rahasia. Baik yang dia simpan sendiri atau dibagikan ke orang yang paling dipercaya.

Rahasia jika sudah diceritakan kepada orang lain maka itu menjadi amanah. Sebuah amanah yang wajib untuk dijaga. Apabila amanah itu tidak diemban dengan baik maka bisa menjadi khianat. Makanya banyak orang yang akhirnya ribut besar gara-gara rahasia ini.

Dalam Islam menjaga rahasia masuk kategori amanah. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits :

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الحَدِيثَ ثُمَّ التَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

''Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa kemudian ia berpaling, maka cerita itu menjadi amanah.'' (HR At-Turmudzi dari Jabir bin Abdullah).

Jika yang diceritakan oleh orang tersebut adalah cerita buruk atau negatif tentang dirinya maka itu adalah aib. Aib itu wajib dijaga dan ditutupi. Perintah ini dijelaskan oleh Rosulullah SAW dalam sebuah hadits.

من ستر عورة أخيه المسلم ستر الله عورته يوم القيامة 


''Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat kelak.'' (HR Ibnu Majah).

Menjaga rahasia memang sangat sulit. Sedikit saja terbongkar maka akan banyak sekali akibat yang akan dialami salah satunya rusaknya persaudaraan. Apalagi dewasa ini orang-orang suka sekali menambahkan cerita dari cerita yang sebenarnya. Maka dari itu hendaklah ketika kita diberi amanah untuk menjaga rahasia orang lain maka simpanlah rahasia itu rapat-rapat. Dan diam adalah solusi terbaik jika ingin menyimpan sebuah rahasia. Ingat, lidah manusia itu Allah ciptakan tidak bertulang sehingga mudah sekali tergelincir ketika berbicara, dan mudah sekali terpancing dalam sekali ucap.

Menjaga rahasia ini juga condong kepada kemunafikan. Mengapa demikian, sebab kalau rahasia itu bocor artinya kita telah mengkhianati amanah yang diberikan. Bukankah dalam sebuah hadits Rosulullah SAW menjelaskan bahwa ciri-ciri orang munafik itu ada tiga dan salah satunya adalah jika dia dipercaya maka dia mengkhianatinya. Naudzubillah. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang suka membuka rahasia orang lain.

Agar rahasia kita tetap aman dan tidak terbongkar, maka berceritalah pada orang yang memang benar-benar dipercaya. Orang-orang yang pasti tidak akan membuka rahasia kita kepada siapapun. Kalau ragu menguasai, maka Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu. Tahajudlah, adukan semua keluh kesah dan rahasia kepada-Nya. Dijamin rahasia kita akan aman selamanya. 



Pulau Harapan, 31 Agustus 2021


Selasa, 03 Agustus 2021

Setelah Suntik Vaksin Covid-19

 Setelah Suntik Vaksin Covid-19

Jaka Ferikusuma



Saya dikabari oleh bidan Puskesmas Sembawa via WA yang meminta data guru-guru MI tempat saya mengabdi, MI Kurnia Ilahi, untuk divaksin. Saya lama balasnya. Ragu. Saya pernah bilang ke adik saya yang dokter, saya tidak mau divaksin. Pahamlah ya kenapa? Karena kontroversi si vaksin ini.

Akhirnya saya kirim juga data-data guru saya ke bidan tersebut, tentu data saya juga diurutan pertama. Saya dan guru-guru menunggu panggilan untuk divaksin. Ternyata antrinya lama. Sekolah terdekat malah sudah semua. Saya pikir kami tidak jadi divaksin, saking lamanya nunggu. Berbulan-bulan lamanya. Lalu datanglah surat undangannya lewat WA, yang mengatakan tanggal 28 April 2021 jadwal vaksin untuk MI dan RA Kurnia Ilahi. Bulan ramadhan. Di surat itu juga dijelaskan bahwa peserta vaksin harus sahur. Padahal saya tidak bisa sahur. Maksudnya saya tidak bisa makan apapun kalau fajar hari. Yang masuk cuma air putih. Saya selalu sahurnya dengan air putih saja. Hari itupun sama.

Karena di sekolah kami ada lomba ramadhan, sekitar jam 10an kami baru berangkat ke Puskesmas. Itu pun sudah ditelpon oleh petugasnya. Di sana kita sudah ditunggu dong. Kalau tidak mau divaksin sudah banyak yang antri mau menggantikan. Ada 4 loket yang harus dilewati saat vaksin.

Di loket 1, pendaftaran. Kita akan diminta untuk mengisi kertas kecil semacam formulir gitu. Juga dimintai fotokopi KTP dan nomor handphone yang aktif. Nomor handphone ini nanti untuk mereka mengirim link sertifikat vaksin.

Lalu kita akan masuk ke loket 2. Di sana sudah ada dokter yang bertugas. Di sinilah kita yang mau vaksin harus jujur dan menceritakan keadaan tubuh dan kesehatan kita. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jujur saja. Nanti dokternya bisa menentukan apakah kita layak divaksin atau tidak. Di sini juga tensi darah kita akan diukur.

Loket ke 3 kita menyerahkan data  ke petugas bahwa kita bersedia divaksin. Setelah itu loket keempat. Suntik. Karena saya takut jarum suntik jadi sayanya agak tegang saat disuntik. Setelah itu kita akan menunggu sebentar sekitar 20-30 menit untuk mendapatkan kartu vaksinasi covid-19 dari petugas.

Apa yang saya rasakan ketika selesai divaksin?

Tiap orang kan beda-beda reaksi katanya, ada yang ngatuk, ada yang merasa lapar terus, dan ada yang vertigo. Macam-macam reaksi yang ditimbulkan. Untuk saya sendiri, saya merasa pegal di tangan saya yang disuntik. Berapa lama pegalnya? Dua hari. Hari ketiga baru pegal tersebut hilang.

Hanya pegal? Tentu tidak Ferguso. Seminggu kemudian saya demam. Demam terlama. 14 hari. Bahkan saat lebaran pun saya demam. Dan bayangkan sembuh dari demam, 5 hari kemudian saya harus suntik vaksin kedua. Di sini saya takut. Sumpah takut beneran. Mungkin ini nih yang menyebabkan orang bisa lumpuh atau meninggal setelah divaksin. Mana katanya vaksin kedua ini dosisnya lebih tinggi. Macam-macam yang saya pikirin saat itu. Yang jelas saya takut.

Sehari sebelum divaksin kedua, badan saya panas lagi. Batuk dan pilek masih bersarang walau biasa saja. Rasanya saya ingin menelpon petugas Puskesmas biar saya ganti hari saja mengingat saya masih kurang fit. Tapi itu tidak saya lakukan. Tunggu besok saja. Siapa tahu saya sehat besoknya. Dan kalian tahu apa yang terjadi dengan tubuh saya besoknya? Saya sehat banget. Bangun tidur rasanya segar. Pagi itu saya sarapan di sekolah. Jam 9 sesuai jadwal saya dan guru-guru siap tempur untuk vaksin kedua.

Alurnya sama seperti vaksin pertama, kita daftar lagi di loket pertama. Lalu ke loket kedua. Nah di loket kedua ini saya ceritakan kalau saya baru sembuh demam. Sekarang masih batuk pilek walau sudah mendingan. Pokoknya hal sekecil apapun terkait kondisi saya saat itu saya ceritakan. Remeh memang tapi kadang yang kita anggap remeh ini yang justru membahayakan. Dan saya tidak mau membahayakan diri saya sendiri. Setelah mendengar penjelasan saya akhirnya dokternya bilang, tidak apa-apa divaksin. Tapi saya diukur suhu tubuh dulu. Normal. Cek darah, juga normal. Tidak apa-apa, insya Allah aman, ujar dokternya. Tapi setelah vaksin istirahat ya biar tetap bugar.

Akhirnya saya disuntik. Tawakal saja.

Saya menunggu reaksinya? Samakah seperti vaksin pertama. Atau lebih parah. Tahu apa yang terjadi? Tubuh saya tidak beraksi apa-apa setelah vaksin kedua ini. Biasa saja. Mungkin vaksin nya sudah bersahabat dengan tubuh saya. Itu anjuran dokter agar saya istirahat setelah vaksin tidak saya turuti. Saya masih beraktivitas seperti biasanya. Alhamdulillah, aman.

Sekarang kapan giliran kamu divaksin?
Tidak usah takut. Jika imunmu kuat dan tidak ada sakit bawaan, insya Allah aman. Asal ketika discreaning oleh dokter ceritakan kondisi kesehatanmu dengan sebenar-benarnya. Dokternya juga tidak asal-asalan kok menyuruh divaksin. Buktinya ada tiga guru dari yayasan kami yang tidak divaksin. Satu karena sedang hamil, yang kedua sakit darah tinggi, yang ketiga alergi obat. Ketiganya tidak divaksin. Intinya adalah jujur saja dengan kesehatanmu. Terbukalah, walau cuma sakit batuk pilek macam saya. Karena kamu yang tahu kondisi kesehatanmu. Ibarat kata kamu adalah dokter bagi dirimu sendiri.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir dan kita terbebas dari virus covid-19 ini. Aamiin.

Pulau Harapan, Juli 2021