Rabu, 29 Juli 2020

Tradisi Iduladha di Indonesia

Tradisi Iduladha di Indonesia
Jaka Ferikusuma
 


Iduladha sering di sebut juga dengan hari raya kurban atau hari raya haji. Disebut hari raya kurban karena iduladha merupakan momentum dalam memperingati peristiwa bersejarah yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sediri, Ismail atas perintah Allah.

Disebut hari raya haji karena iduladha bertepatan dengan umat Muslim dalam menunaikan rukun Islam yang ke lima, naik haji bagi yang mampu.

Di setiap negara punya tradisi masing-masing dalam merayakan iduladha. Contohnya Pakistan. Di Pakistan ada tradisi memandikan hewan kurban sebelum disembelih. Selain dimandikan hewan-hewan kurban tersebut juga akan dihias dengan bunga-bungaan. Selain itu iduladha di Pakistan sangat terasa sekali karena dirayakan selama 4 hari. Selama 4 hari semua toko harus ditutup dan menjadi hari libur nasional. Seru kan?

Bagaimana di Indonesia? Di Indonesia sendiri ada beberapa tradisi iduladha yang cukup unik. Apa saja? Berikut tradisi iduladha yang ada di Indonesia yang berhasil penulis kutip dari berbagai sumber.

1. Kaul dan Abda'u



Di timur Indonesia tepatnya di Kota Ambon, pemuka agama akan mengendong kambing yang ingin dikurbankan. Tradisi ini dinamakan Kaul dan Abda'u. Kambing biasanya akan dibawa dengan kain layaknya bayi dan diarak mengelilingi pemukiman warga, sebelum dibawa ketempat eksekusi hewan kurban. Zikir dan shalawat dikumandangkan selama perjalanan. Tradisi ini ini dilakukan setelah shalat Idula Adha dan dilakukan di daerah-daerah di Maluku Tengah.

2. Mepe Kasur



Tradisi ini dirayakan oleh warga muslim di Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan dengan menjemur kasur rumah dan memukul-mukul kasur tersebut. Tradisi ini menjadi pengingat untuk warga tentang kebersihan kasur, agar terhindar dari penyakit dan debu. Tradisi ini dilakukan warga menjelang iduladha.

3. Grebeg Gunungan 



Tradisi satu ini dirayakan oleh warga muslim di Yogyakarta. Hampir mirip dengan tradisi Apitan, warga muslim Jogja akan mengarak hasil bumi dari halaman Keraton sampai Masjid Gede Kauman. Hal yang diarak berupa tiga buah gunungan hasil bumi Yogyakarta.

4. Manten Sapi



Saat Idul Adha, tradisi ini akan dilakukan oleh orang Pasuruan. Dalam rangka menghormati hewan kurban yang akan disembelih, warga Pasuruan akan mendandani hewan kurban terlebih dahulu. Bunga tujuh rupa dengan bermacam pernak-pernik berwarna-warni akan dikenakan ke hewan kurban sebelum diarak keliling kota.

5. Apitan



Tradisi khas dari Semarang dalam merayakan Idul Adha. Dalam tradisi ini, warga Semarang akan mengarak hasil-hasil panen dari daerahnya mengintari seluruh kota. Memakan nasi tumpeng beramai-ramai menjadi puncak acara dari tradisi ini.

Sebenarnya masih banyak lagi tradisi iduladha yang tersebar di bumi Nusantara ini. Hanya saja, banyak yang tidak terekspos secara nasional. Di desa saya saja misalnya, iduladha bukan hanya pasal menyembelih hewan kurban lalu selesai. Di desa saya perayaan iduladha sama seperti Idulfitri. Sama persis. Orang-orang tetap masak ketupat berikut opor, rendang, atau malbi sebagai  temannya. Tetap ada tradisi mengunjungi rumah-rumah tetangga. Tetap ada kue-kue. Jika ketupat habis, besoknya tuan rumah bisa membuat tekwan, model, pempek, ataupun bakso untuk dihidangkan kepada tamu yang bertandang ke rumah mereka. 

Hebatnya di desa saya, lebaran haji terjadi selama 7 hari. Jadi selama 7 hari itu kita bisa silaturahmi ke tetangga-tetamgga satu desa. Makanya di desa kami, Pulau Harapan, mau iduladha maupun idulfitri tetap sama perayaannya. Tetap meriah. Namanya juga hari raya.

Lalu bagaimana tradisi lebaran iduladha di tempatmu?



Pulau Harapan, 29 Agustus 2020

Sabtu, 11 Juli 2020

Polemik Baru Bagi Laut; Sampah Masker


Polemik Baru Bagi Laut; Sampah Masker

Jaka Ferikusuma



Sampah selalu menjadi polemik di mana saja. Kapan saja. Sampah apa saja. Seakan permasalahan sampah ini tidak pernah habis. Dan tahukah kamu sampah terbaru apa yang kini menjadi polemik dan masalah? Masker. Ya, masker. Penggunaan masker secara masif saat ini menjadi permasalahan baru dalam dunia persampahan.

Karena pengaruh Covid-19 ini, penggunaan masker sangat meningkat drastis. Setiap orang dalam setiap harinya bisa dipastikan menggunakan masker saat bepergian kemana saja. Masker sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi setiap manusia.

Melansir dari detik.com, pada Februari lalu OceanAsia memposting puluhan foto masker medis dari pantai-pantai Hong Kong. Kondisi ini makin buruk dari hari ke harinya. Co-founder OceanAsia, Gery Stokes, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa sampah masker ini dapat termakan oleh hewan laut dan itu menambah daftar panjang hewan laut yang mati karena makan sampah.



Tak hanya di Hongkong, Organisasi konservasi, Clean This Beach Up di Amerika Serikat juga mengecam sampah  masker dan sarung tangan yang berakhir sampai ke lautan. Warna-warna cerah sarung tangan lateks dan masker sering disalah artikan oleh binatang-binatang laut seperti kura-kura, burung laut, dan binatang lainnya sebagai makanan. Ini menjadi masalah  serius bagi kesehatan binatang-binatang tersebut.

Sebelum pandemi Covid-19 ini mewabah di seluruh dunia, banyak aktivis lingkungan dari seluruh dunia sudah memperingatkan terkait ancaman pada kehidupan laut akibat dari meroketnya penggunaan plastik di seluruh dunia. Badan lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa 13 juta ton sampah plastik yang masuk ke laut setiap tahunnya. Ditambah dengan kondisi pandemi saat ini, penggunaan masker sekali pakai menambah daftar panjang persoalan tersebut.

Di Prancis sendiri, melansir dari suara.com, telah memesan 2 milyar masker medis sekali pakai dalam masa pandemi Covid-19 ini. Menurut Laurent Lombart dari Operation mer Propre, mengetahui hal itu kita akan segera dihadapkan pada keadaan lebih banyak sampah masker dibanding ubur-ubur di lautan.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?

Mengutip dari Kumparan.com, menuju era new normal, tentu pemakaian alat pelindung diri (APD) akan semakin meningkat. Sebagaimana tercantum dalam protokol kesehatan di seluruh negara, masker termasuk benda wajib dalam upaya pencegahan penularan COVID-19, penyakit yang disebabkan virus corona SAR-CoV-2.

Tetapi, regulasi pengelolaan sampah medis masih belum dibarengi sanksi penegakan hukum yang ketat. Imbasnya, sampah masker dan sarung tangan lateks tersebar di lautan, pantai, termasuk selokan air. Sejumlah organisasi lingkungan menyuarakan keprihatinan mereka atas kondisi ini.


Sampah yang membanjiri lautan tersebut biasanya terdiri dari masker wajah sekali pakai, sarung tangan lateks, botol bekas hand sanitizer, dan barang-barang APD yang tidak dapat didaur ulang.

Memang belum ada data resmi terkait sampah masker yang ada di Indonesia. Tapi setidaknya, hal ini tidak bisa dianggap remeh, apalagi mengingat tingkat kesadaran orang Indonesia terhadap masalah sampah sangat rendah sekali. Sampah plastik saja masih bertebaran di mana-mana, baik darat maupun lautan. Ada baiknya, agar laut dan pantai kita tidak tercemar sampah masker dan APD lainnya, maka bisa kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu untuk membuang sampah bekas masker yang kita pakai pada tempatnya untuk terjaganya laut kita agar senantiasa biru.


(Dikutip dari detik.com, suara.com, dan kumparan.com)


Pulau Harapan, 11 Juli 2020

#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu

Artikel ini ditulis sebagai tugas dan dalam rangka Hari Kelautan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Juli setiap tahunnya.

Kamis, 11 Juni 2020

SEBLAK AMBYAR


Resep Masakan

SEBLAK AMBYAR


Seblak mulai booming di tahun 2017. Makanan berciri khas pedas ini berasal dari Bandung yang awalnya merupakan produk gagal. Siapa sangka seblak kini menjadi makanan favorit banyak orang terutama anak muda. Seblak juga kini menjadi bisnis yang menjanjikan. Malah berbagai cafe kekinian menyediakan menu seblak sebagai andalan.

Seblak makin ke sini makin bervariasi menunya. Kalau dulu seblak hanya menggunakan dengan toping sosis, sekarang bisa tambah ceker ayam, otak-otak, mie, dan lain-lain sesuai selera. Sayur yang digunakan pun beragam, juga sesuai selera.

Saya dan teman-teman pun sering bikin Seblak sendiri dibanding harus beli. Sebab dengan dana hanya 35k kita sudah bisa buat seblak untuk jumlah besar.  Kali ini saya akan membagikan resep seblak ala kami yang sering kami bikin dengan bahan seadanya di dapur. Sengaja buat nama Seblak Ambyar biar kekinian. Dan memang setelah mencicipi seblak buatan kami perasaan pun menjadi ambyar karena pedasnya yang nampol. 😆


Bahan-bahan :


* Kerupuk/kemplang 1/2 kilo (untuk 7-10 porsi)
* Telur 3 butir
* Cabe Merah, sesuai selera
* Cabe Rawit, sesuai selera tergantung level kepedasan yang dimau.
* Sosis yang sudah dipotong-potong (Bisa menggunakan bakso)
* Mie 3 Keping
* Kubis, sesuai selera (bisa menggunakan sawi)
* Bawang Merah 10 siung
* Bawang Putih 10 siung
* Kencur 5 ruas
* Gula 2 sendok makan
* Garam secukupnya
* Penyedap rasa secukupnya.
* Air secukupnya
* Minyak goreng secukupnya
* Bawang goreng sebagai pelengkap


Cara Membuat :

1. Haluskan / blender cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, dan kencur.

2. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan tersebut dengan mengunakan minyak goreng. Aduk sampai merata.


3. Tambahkan telur ke dalam tumisan bumbu lalu aduk lagi hingga merata.

4. Tambahkan air secukupnya sesuai selera, jika ingin seblak kering cukup menambahkan air sedikit saja, sebaliknya jika ingin seblak basah/kuah tambahkan air lumayan banyak. Aduk hingga bumbu merata dengan air dan berwarna kemerahan.

5. Masukan kerupuk atau kemplang. Diamkan sejenak hingga kerupuk nampak lembut.

6. Tambahkan sosis, mie, dan kubis sambil tetap diaduk.


7. Masukkan garam, gula, dan penyedap rasa dan terus diaduk hingga mendidih dan masak.

8. Seblak siap di sajikan di dalam mangkuk. Taburkan bawang goreng jika suka.


Selamat mencoba dan berkreasi. Jika suka ceker bisa tambahkan ceker. Sebelumnya ceker direbus terlebih dahulu biar tidak terlalu lama menunggu masaknya dan agar tekstur cekernya lebih lembut. Masukkan ceker bersamaan dengan kerupuk atau kemplangnya biar bumbu seblaknya meresap ke dalam ceker.  Sedang untuk sosis dapat menggunakan sosis apa saja sesuai keinginan.


Cerita di Balik Layar

Tim Sukses Seblak Ambyar
Meisa, Meida, Riski, Oji, Andre, dan Relly

Terima kasih kepada adik-adikku yang sudah membantu proses memasak seblak kali ini. Bantu memblender bumbu, mengupas bawang dan cabe, mengiris sosis hingga tipis-tipis biar kelihatan banyak, memotong kubis, dan menyalakan kompor gas. Terima kasih juga sudah menjepret proses memasak kali ini, bantu masukin bahan-bahan ke dalam kuali, dan bantu ngasih saran ini itu untuk proses pembuatan seblak ini.

Maaf kalau selama proses pembuatan seblak ini saya ngoceh tiada henti, bawelnya minta ampun, banyak maunya, berkali-kali ambil foto, mau videoin tapi tidak jadi. Tanpa kalian apalah jadinya seblak ini.

Terima kasih untuk Meisa yang sudah mengoreksi penulisan bahan-bahan dan cara membuatnya. Ngeri salah tulis atau ada yang tertinggal, euy!

Terima kasih juga kepada Mang Lek alias Relly Arbiansyah yang dapurnya selalu kita jadikan eksperimen masakan kita.

Riski Meilani, tengkyu sumbangan sosisnya. Harusnya beli bakso bakar yang ditusuk itu kan?

Oji Saputra, terima kasih sudah bantu 10k untuk beli kerupuknya.

Meida, terima kasih sudah mengupas cabe dan mengiris kubis sampai tipis-tipis.

Khusus untuk Andre Pratama, yang sudah bantu dari awal sampai seblaknya siap makan, pas mau dimakan baru sadar kalau dia puasa Syawal. Mana sebelumnya saya sempat-sempatnya makan keripik Malaysia dan minum es di depan dia. Nawarin pula. Ditambah bau seblaknya menguar ke mana-mana, sangat menggoda selera. Maafkan untuk khilaf yang ini.

Intinya, terima kasih untuk kerempongan hari itu. Mudah-mudahan kita terus bahagia sebahagia ketika makan seblak.


Pulau Harapan, 10 - 12 Juni 2020


#WAGFLPSumselMenulis
#LampauiBatasmu
#FLPSumsel
#FLPoke

Minggu, 17 Mei 2020

Perbanyak Ibadah dan Perpanjang Doa di Bulan Ramadhan


Perbanyak Ibadah dan Perpanjang Doa di Bulan Ramadhan
Jaka Ferikusuma


Ramadhan adalah bulan suci yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bagi saya, ramadhan adalah bulan cinta. Hari-hari di bulan ramadhan adalah hari cinta. Betapa bulan ramadhan sangat istimewa.

Di bulan penuh berkah ini pun umat muslim berbondong-bondong untuk melakukan kebaikan. Banyak yang saling fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Si Fulan, ingin lebih banyak sedekahnya dari si Fulan satunya. Fulan ini ingin lebih banyak mengajinya dari Fulan yang itu. Si Syahid ingin beribadah lebih rajin dan khusuk dari si Hakim. Begitu seterusnya. Tidak ada yang salah. Boleh saja dilakukan. Asal kembali niatnya karena mengharap ridha Allah semata.

Di bulan puasa ini tentu ibadah sangat digiatkan dibanding dengan pada bulan-bulan sebelumnya. Sebab pahala ibadah di bulan ramadhan ini dilipat gandakan oleh Allah bahkan sampai 700 kali lipat sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda: 

“Setiap tindakan yang dilakukan anak Adam akan dilipat gandakan, tindakan yang baik akan dilipat gandakan pahalanya hingga 700 kali. Allah SWT, berfirman: "Dengan syarat berpuasa yang dilakukan karena Aku (Allah) maka Aku akan memberinya pahala. Karena mereka meninggalkan keinginannya demi Aku.” Ada dua kebahagiaan bagi orang berpuasa, pertama ketika dia berbuka, dan yang lain ketika dia bertemu Tuhannya, dan bau mulut orang berpuasa lebih baik di hadapan Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari)

Masya Allah. Sangat banyak sekali kebahagian yang bisa kita dapat selama bulan ramadhan ini. Selain memperbanyak ibadah, di bulan ramadhan ini hendaknya kita juga memperpanjang doa kita. Ramadhan adalah waktu terkabulnya doa sebagaimana dikuatkan dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُدَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10: 14) mengatakan bahwa perowinya tsiqah -terpercaya-. Lihat Jaami’ul Ahadits, 9: 224)

Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Mengapa demikian?
Diibaratkan seseorang ketika ingin mempertahankan diri dari serangan musuh maka dia akan membutuhkan senjata. Seperti halnya seorang mukmin, ketika dia ingin sesuatu maka dia butuh ‘senjata’ dengan berdoa kepada Allah.

Maka jangan segan untuk berdoa kepada Allah. Doa apa saja. Mohon ampunan atas segala khilaf selama ini. Juga minta diampunkan dosa ayah ibu kita. Silakan manfaatkan momentum ramadhan ini untuk berdoa yang terbaik. Kita juga bisa perbanyak berdoa supaya wabah pandemik Covid-19 ini segera berlalu biar bumi kita kembali tersenyum.

Kalau saya tidak terlalu muluk-muluk untuk berdoa pada ramadhan tahun ini, mudah-mudahan tahun ini saya segera menikah dengan jodoh yang telah Allah tetapkan untuk saya. Jodoh yang baik dan kami saling membimbing dalam mengarungi bahtera rumah tangga sakinah mawaddah. Aamiin.

Yuk, mulai sekarang kita perbanyak ibadah kita dan kita perpanjang doa kita apalagi ini sudah masuk 10 malam terakhir. Mudah-mudahan puasa dan ibadah kita di bulan ramadhan ini menjadi berkah dan kita berkesempatan untuk berjumpa lagi dengan ramadhan yang lebih baik di tahun berikutnya.


Pulau Harapan, 17 Mei 2020

#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu

Rabu, 06 Mei 2020

Rudi : Izinkan Saya Dewasa Sebelum Waktu


Rudi : Izinkan Saya Dewasa Sebelum Waktunya

(Ulasan novel Ayah, Aku Rindu karya S. Gegge Mappangewa)
Jaka Ferikusuma



Judul : Ayah, Aku Rindu
Penulis : S. Gegge Mappangewa
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I (Satu)
Tahun Terbit : Maret 2020


Saya tetap mengecap penulis favorit saya satu ini dengan penulis tega. Beliau telah berhasil membikin mood saya berantakan puasa ini. Seandainya menangis bikin puasa jadi batal, saya pastikan saya akan meminta pertanggungjawaban kepadanya. Saya menangis sejadi-jadinya selesai membaca novelnya yang berjudul Ayah, Aku Rindu.

Penulisnya sudah bilang ke saya, di novel terbarunya setidaknya bisa mengobati kelukaan saya terhadap nasib Tungke di Sayat-sayat Sunyi. Ia menjamin nasib Rudi di novel Ayah, Aku Rindu tidak akan sama seperti Tungke. Ya, benar tidak sama. Tapi saya tetap menangis tersedu-sedu usai membacanya. Seakan-akan saya ada di posisi Rudi.

Adalah Rudi, remaja kelas XII SMA itu harus menanggung beban hidup yang cukup berat untuk anak seusianya. Ia harus merelakan kepergian ibunya selama-lamanya. Belum kering air mata karena ditinggal ibu, ia juga harus kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai. Ayah yang ia harap menjadi tumpuan hidupnya setelah kepergian ibu. Ayahnya menjadi stress dan mengalami gangguan kejiwaan akibat kematian ibunya. Rudi harus menanggung semua itu. Ia terluka saat melihat ayahnya harus dipasung agar tak melukai orang lain. Cukup pak Sadli yang menjadi korban ayahnya. Belum lagi ayahnya mengaku sebagai La Paggala atau yang orang Bugis kenal sebagai Nenek Mallomo.

Rudi dipaksa dewasa untuk menghadapi permasalahannya. Beruntung masih banyak orang yang sayang dengannya. Ada pak Sadli, gurunya yang menjadi idola hampir semua siswa. Faisal dan Ahmadi yang menjadi teman karibnya. Setidaknya mereka berhasil mengalihkan kerinduan Rudi pada ayahnya yang akhirnya di rawat di rumah sakit di Makassar.

Novel yang menjadi pemenang 1 lomba menulis novel remaja yang diadakan Indiva ini memang sangat sarat akan pesan moral. Selain itu kita akan belajar banyak tentang kebudayaan lokal Bugis di sana. Penulis pintar sekali menyelipkan tema kearifan lokal ke dalam novel ini.

Balik lagi ke kisah Rudi, saya merasa kasihan sekali dengannya. Beban yang ia tanggung sudah cukup berat untuk anak seusianya. Ditambah pula kenyataan-kenyataan tentang ayahnya yang bikin Rudi semakin terpuruk pada akhirnya. Untungnya semua kejadian itu membikin Rudi semakin dewasa setiap waktunya. Saya merasa telah dipermainkan oleh penulis akan nasib Rudi. Oke, saya memang benar menebak ending kisah ini. Tapi ketika memang seperti itu kenyataannya saya serupa Rudi yang juga sulit menerima kenyataan. Semacam saya tidak ikhlas jika Rudi bernasib seperti itu. Saya menahan marah. Emosi. Lalu akhirnya pecah ketika benar-benar berada di epilog. Ada sekitar 10 menit saya menangis usai membaca novel pertama Indiva untuk lini Gen Z-nya ini.

Banyak anak-anak seperti Rudi di luar sana sebenarnya. Mungkin dengan beban derita hidup yang lebih. Tapi cukup, cukup kisah Rudi yang bikin saya meleleh. Daeng Gegge memang pandai meremukkan hati saya dengan setiap ceritanya dari sejak dahulu kala. Masya Allah. Bintang 4,5 untuk novel ini dari 5 bintang.


Pulau Harapan, 06 Mei 2020

Kamis, 30 April 2020

Cari Aku di Neraka


Cari Aku di Neraka
Untuk Kandri

Jaka Ferikusuma


Pertamanya punya adik angkat (saya tidak suka istilah ini sebenarnya. Kalau adik ya sudah adik saja.) ya dia ini orangnya. Dialah orang pertama yang saya anggap seperti adik kandung sendiri. Saat itu saya kuliah semester 1 dan dia kelas 2 SMA tahun 2006. Jangan ditanya mengapa kami bisa kenal? Tidak ada yang mengenalkan kami. Tidak ada orang yang menjadi perantara kami bisa kenal. Allah saja yang menggerakkan kami untuk saling kenal.

Awal kenal versi saya adalah dia pertama kali SMS saya. Jaman dulu belum ada aplikasi chatting. SMS dan nelpon jadi andalan. Lumayan panjang isi SMS nya waktu itu. Tapi singkatnya kira-kira begini :

"Assalamualaikum. Afwan, ana tahu antum orang baik. Ini siapa ya? Ana hanya ingin tahu saja antum siapa. Tidak baik jika harus mengerjai saudaranya sesama muslim."

Saya kaget dong. Ini siapa? Bahasanya ana antum pula. Ini teman di dusun tidak mungkin. Karena saat itu saya sedang mau yasinan di rumah teman maka SMS itu saya abaikan sejenak. Saya juga yakin orang yang SMS ini pasti orang baik. Saya ingat betul akhirnya lepas isya saya balas SMS itu.

"Waalaikumussalam. Ane yakin antum juga orang baik. Tapi afwan sebelumnya, ane benaran tidak tahu siapa antum? Kok tiba-tiba SMS seperti ini."

Akhirnya kita saling berbalas pesan SMS. Dia ngotot, kekeuh, bilang saya yang SMS duluan makanya akhirnya dia SMS seperti itu. Saya juga beberapa kali misscall nomornya, katanya. Saya bingung. Saya sampai ngecek riwayat panggilan dan tidak ada nomornya itu. Aneh. Dan bermula dari sanalah kedekatan kami terjadi. Bersyukur. Sampai detik ini saya sangat bersyukur bisa mengenalnya.

Seminggu kemudian kita janjian bertemu. Saya ingat betul tempat pertama kita saling tatap muka. Ketika tangan kami terikat salam. Ketika untuk pertama kali saya melihat senyum sumringahnya. Di depan SMA Negeri 10 Palembang, sekolahnya. Dia alumni sana. Itu tempat bersejarah sekali. Saya kalau lewat situ rasanya bahagia sekali padahal cuma trotoar.

Berbagai kisah kami jalin. Kami masih sama-sama labil ketika itu. Saya masih suka emosian. Ego saya kadang terlalu tinggi. Eh, sampai hari ini dia masih menganggap saya keras kepala. Tidak hanya sekali kami beradu argumen sampai debat. Beberapa kali malah berujung pertengkaran. Tidak saling tegur beberapa bulan lamanya. Lalu berbaikan tanpa alasan.

"Kak, kita kemarin bertengkar karena apa ya?"

"Entahlah. Kakak juga sudah lupa."

Lalu kami tertawa bersama. Kejadian seperti ini sering terjadi. Bahkan pernah lebih dari setahun tidak saling kontak. Aneh ya. Tapi walau begitu saya selalu mendoakan yang terbaik untuknya setiap shalat.

Begitulah kami. Kadang tertawa kadang bertengkar. Saya sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Harusnya saya sebagai kakak mengalah untuk dia waktu itu. Dia kan adik, saya kakak. Ini tidak, malah tidak mau mengalah sama sekali. Kakak macam apa saya ini? Haha.... Wajar kalau saya dia anggap keras kepala.

Saya dan dia itu sudah merasakan banyak konflik. Sekarang mah kalau dia ngomel-ngomel saya ketawa saja. Mana sedikitpun tersinggung. Bukannya itu tanda dia peduli sama saya ya?

Beberapa teman saya ada yang kenal dengannya. Sengaja saya kenalkan sebab saya juga mengenal beberapa temannya di sekolah dulu. Saya sering menginap di kost-nya selama kuliah. Dia memang kost di Palembang. Aslinya dari Sukarame, Talang Ubi, Muara Enim. Sekarang sudah punya rumah sendiri di Gandus. Sudah jadi warga Palembang. Hidup bahagia bersama istri dan anaknya. Walau sekarang dia kerja di Papua sana. Alhamdulillah sampai detik ini kami masih rajin komunikasi.

Dia juga beberapa kali ikut saya pulang. Menginap di rumah. Orang di rumah tahu siapa dia. Sayang sampai hari ini saya belum mengenal kedua orang tuanya kecuali lewat foto.

Saya mengenal dia sebagai pribadi yang baik. Dia sering memotivasi saya untuk terus dekat dengan Allah dan mencintai Al-Qur'an. Di situlah dia sering ngomel-ngomel kalau kakaknya ini malas baca Qur'an dan ibadah. Baca dua isi pesannya untuk saya ini :

"Dinasehati orang lebih paham. Diingatkan selalu orang lebih tua. Dimarah takut kualat."

"Terima kasih, Kak. Semoga ini saya omel omel yang terakhir. Bantulah adikmu ini saling menguatkan dakwah ini 🙏🏿"

Terus terang saya terenyuh sekali waktu dia kirim pesan seperti itu. Aduh... Adik saya satu ini memang yang terbaik. Ingin kakaknya terus jadi orang baik. Prinsip saya dalam bersaudara adalah saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Dan dia benar-benar menerapkan itu. Saya kadang minder sama dia. Kok ya dia lebih baik imannya dibanding saya yang dari dulu gini-gini aja. Bahkan di mata saya dia makin shalih dari hari ke hari. Adakala memang sedang down, tapi dia selalu bisa melawannya. Makanya saya sangat beruntung sekali bisa mengenal dia. Bisa akrab. Bisa menjadi saudaranya.

Makin ke sini dia juga makin bijak. Duh, dibanding saya belum ada apa-apanya. Dari dulu sampai sekarang saya ya begini-begini saja. Tidak banyak berubah. Tanya saja dengan mereka yang mengenal saya.

Maka tidak salah rasanya jika suatu hari ketika saya meninggal kelak dengan membawa bekal saya yang sedikit ini, adikku, saya berharap jika kau tak temukan kakakmu ini di surga, maka cari kakakmu ini di neraka. Kakak butuh syafaatmu. Kakak berharap kau mau lakukan itu untuk kakakmu yang dhaif ini. Berharap keakraban kita ini akan terus berlanjut hingga ke akhirat. Jika pun kau tidak berkenan mencari kakakmu ini di neraka dan menjemputnya ke surga karena kakakmu ini terlalu hina untukmu, setidaknya kau doakan saja kakakmu mendapatkan keringanan atas dosa yang ia lakukan. Kakak sadar diri kok sudah terlalu banyak menyusahkanmu di dunia ini.

Kakak berharap kau terus hidup bahagia bersama keluarga kecilmu. Terus menjadi adik yang setiap saya cerita ke orang-orang adalah adik kebanggaan melebihi adik kandung sendiri. Tetap menjadi adik saya yang baik dan seperti yang kakak kenal. Tetap selalu istiqamah dalam dakwah ini. Kakakmu takkan putus mendoakanmu setiap usai shalat. Namamu akan terus ada di dalam doa kakakmu. Terima kasih telah menjadi inspirasi selama ini. Telah rela berbagi kisah dengan kakakmu yang kadang tulalit kalau diajak cerita. Maaf kalau kakakmu ini tidak seperti yang diharapkan. Tidak menjadi kakak yang baik. Tidak menjadi kakak yang menjaga dan mengayomi adiknya. Tapi setidaknya kakak sudah berusaha kok, walau ujungnya malah sering bikin kecewa adik.

Dik, cari kakak di neraka jika kau tak temukan kakak di surga-Nya Allah.


Pulau Harapan, 18 - 30 April 2020

*Butuh dua minggu untuk akhirnya selesai menulis ini. Berharap ketika menulis ini tidak ada air mata. Ditulis putus-putus, perparagraf. Awalnya berhasil. Tapi endingnya tumpah juga air mata ini.





Minggu, 26 April 2020

Sabarlah, Jodoh Akan Datang pada Waktunya


Sabarlah, Jodoh Akan Datang pada Waktunya
Jaka Ferikusuma



Judul : Ze; Pengantin Koboi
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I (Satu)
Tahun Terbit : Januari 2020
Halaman : 192


Membaca novel karya mbak Ifa Avianty ini seperti berkaca pada diri sendiri. Tentang pencarian jodoh yang tak kunjung datang diusia yang sudah berkepala tiga. Feel-nya dapet banget. Di bab satu bahkan penulis berhasil menuliskan keresahan hati tokoh utamanya mengapa ia belum juga menemukan jodoh sedangkan teman-temannya yang lain sudah beranak pinak. Ia bahkan harus menerima ejekan dari adiknya sendiri.

"Udah galak, belagu, cerewet, tulalit, pelit pula! Pantesan gak ada yang mau sama Teteh. Kang Igi aja ngabur, merit sama cewek lain! Gue sih emang ilfil kalau sama orang model Teteh begini!"
(Hal. 16)

Jlebb banget kan! Padahal tokoh utama tidak muluk-muluk kok kriteria pasangannya. Dasar si jodoh ini saja yang tidak kunjung datang. Ini persis seperti yang dirasakan oleh kebanyakan mereka yang di cap gadis/bujang tua oleh orang sekitar. Sudah ikhtiar kok tapi kalau jodohnya belum nonggol juga, gimana?

Adalah Zerlita alias Ze, perempuan usia 30 tahun yang belum juga ketemu jodohnya sedangkan dua adiknya sudah ngebet pingin nikah. Wanita lulusan UI ini pernah ditinggal menikah oleh sahabat terbaiknya sendiri yang ia harapkan untuk jadi suaminya kelak. Duh, tiba di bagian penulis menceritakan ini ada yang sesak di dada saya. Saya teringat ucapan Rahul di film Kuch-kuch Hota Hai, Cinta adalah persahabatan. Dan itu benar sekali. Ketika ada dua lawan jenis bersahabat sangat dekat, pasti salah satu di antaranya punya perasaan cinta tapi ia pendam demi menjaga keutuhan persahabatan. Dan ini terjadi pada Ze dan Igi, sahabatnya itu.

Ze suka pada Igi dan berharap suatu saat Igi melamarnya jadi istri. Walau mereka kalau ketemu sudah macam Tom dan Jerry tapi mereka dekat sekali. Seperti kembar siam sejak mereka SMA. Orang-orang malah mikirnya mereka berdua cocok. Tapi apalah daya jodoh belum berpihak pada mereka walau Ze sudah berdoa berharap Igi adalah jodohnya sejak pertama kali mereka saling kenal.

" Tuhan, kata-Mu, tak akan ada sebuah doa pun yang Kau tolak, sebab Kau malu pada setiap hamba-Mu yang rajin memohon? Ya Allah, coba, saya tu kurang rajin apa ya? Saya bahkan berdoa biar jodoh sama si Igi sesudah sejak pertama kali dia jadi sahabat saya."
(Hal. 26)

Pada bagian ini juga, walau cuma cerita flashback Ze, kita dapat merasakan kesedihan Ze ketika ditinggal menikah oleh si Igi. Ketika Igi mohon izin menikah pada Ze. Duh.... Saya menangis di bagian ini. Apa yang dialami Ze, seperti itu adalah pengalaman saya juga. Ze tegar sekali saat mengikhlaskan Igi untuk perempuan lain.

"Nggak kok, Gi, bener. Kamu kan udah tahu saya. Takdir kita juga hanya sahabat. Mana boleh saya sedih di atas kebahagiaan kamu? Saya mendukung, Gi, penuh-penuh...."
(Hal. 32)

Tahu apa jawaban Igi untuk pernyataan Ze ini?

"... Saya senang kalau kamu lega. Artinya, saya nggak menyakiti hati kamu."
(Hal. 32)

Masya Allah, dasar lelaki tidak peka. Heran dah kenapa pada bagian ini saya kesal pada diri sendiri sebagai lelaki yang memang kadang tidak peka terhadap perasaan perempuan seakan apa yang dialami oleh perempuan ketika ia bilang mengikhlaskan kita itu artinya ia benar-benar ikhlas. Dodol, perempuan itu pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Sadarlah wahai para lelaki. Saya seperti dicubit pada bagian ini.

Ketegaran Ze bukan sekadar hanya di situ, ia justru yang bermain piano di pernikahannya si Igi. Ia bahkan harus mengirigi Igi bernyanyi lagu cinta kenangan mereka sambil menangis di balik grand pianonya. Duh, perih sekali.

Walau bagaimana pun hidup terus berlanjut. Ze tetap menjalani hidupnya dengan tegar. Ya walaupun bayang-bayang Igi tetap datang. Saya suka sekali adegan saat Ze sedang sedih lalu teringat pada Opanya. Menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya pada Opanya seakan-akan Opanya masih hidup. Bahkan Ze percaya pada omongan Opanya yang bilang bahwa ia akan menikah dengan lelaki yang mengajaknya keliling Eropa dan dunia.

Cerita perjuangan Ze menemukan jodoh ini memang sangat mudah sekali ditebak endingnya. Walau begitu, dengan cara bertutur penulis yang ringan dan santai kita akan menikmati setiap cerita yang disajikan. Lalu dengan siapakah Ze akan berjodoh? Apakah Ze bisa sepenuhnya melepaskan bayangan Igi? Apakah perkataan Opa Ze akan menjadi kenyataan? Baca saja novel karya penulis favorit saya ini. Sangat cocok untuk menemani hari kalian di rumah saja di tengah wabah pandemi Covid-19 ini. Ada diskon kalau beli di Shopee.

Saya kasih bintang 4 dari 5 untuk novel yang nenghibur ini. Selamat membaca.


Pulau Punjung, 26 April 2020