Sabarlah, Jodoh Akan Datang pada Waktunya
Jaka Ferikusuma
Jaka Ferikusuma
Judul : Ze; Pengantin Koboi
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I (Satu)
Tahun Terbit : Januari 2020
Halaman : 192
Tahun Terbit : Januari 2020
Halaman : 192
Membaca novel karya mbak Ifa Avianty ini seperti berkaca pada diri sendiri. Tentang pencarian jodoh yang tak kunjung datang diusia yang sudah berkepala tiga. Feel-nya dapet banget. Di bab satu bahkan penulis berhasil menuliskan keresahan hati tokoh utamanya mengapa ia belum juga menemukan jodoh sedangkan teman-temannya yang lain sudah beranak pinak. Ia bahkan harus menerima ejekan dari adiknya sendiri.
"Udah galak, belagu, cerewet, tulalit, pelit pula! Pantesan gak ada yang mau sama Teteh. Kang Igi aja ngabur, merit sama cewek lain! Gue sih emang ilfil kalau sama orang model Teteh begini!"
(Hal. 16)
(Hal. 16)
Jlebb banget kan! Padahal tokoh utama tidak muluk-muluk kok kriteria pasangannya. Dasar si jodoh ini saja yang tidak kunjung datang. Ini persis seperti yang dirasakan oleh kebanyakan mereka yang di cap gadis/bujang tua oleh orang sekitar. Sudah ikhtiar kok tapi kalau jodohnya belum nonggol juga, gimana?
Adalah Zerlita alias Ze, perempuan usia 30 tahun yang belum juga ketemu jodohnya sedangkan dua adiknya sudah ngebet pingin nikah. Wanita lulusan UI ini pernah ditinggal menikah oleh sahabat terbaiknya sendiri yang ia harapkan untuk jadi suaminya kelak. Duh, tiba di bagian penulis menceritakan ini ada yang sesak di dada saya. Saya teringat ucapan Rahul di film Kuch-kuch Hota Hai, Cinta adalah persahabatan. Dan itu benar sekali. Ketika ada dua lawan jenis bersahabat sangat dekat, pasti salah satu di antaranya punya perasaan cinta tapi ia pendam demi menjaga keutuhan persahabatan. Dan ini terjadi pada Ze dan Igi, sahabatnya itu.
Ze suka pada Igi dan berharap suatu saat Igi melamarnya jadi istri. Walau mereka kalau ketemu sudah macam Tom dan Jerry tapi mereka dekat sekali. Seperti kembar siam sejak mereka SMA. Orang-orang malah mikirnya mereka berdua cocok. Tapi apalah daya jodoh belum berpihak pada mereka walau Ze sudah berdoa berharap Igi adalah jodohnya sejak pertama kali mereka saling kenal.
" Tuhan, kata-Mu, tak akan ada sebuah doa pun yang Kau tolak, sebab Kau malu pada setiap hamba-Mu yang rajin memohon? Ya Allah, coba, saya tu kurang rajin apa ya? Saya bahkan berdoa biar jodoh sama si Igi sesudah sejak pertama kali dia jadi sahabat saya."
(Hal. 26)
(Hal. 26)
Pada bagian ini juga, walau cuma cerita flashback Ze, kita dapat merasakan kesedihan Ze ketika ditinggal menikah oleh si Igi. Ketika Igi mohon izin menikah pada Ze. Duh.... Saya menangis di bagian ini. Apa yang dialami Ze, seperti itu adalah pengalaman saya juga. Ze tegar sekali saat mengikhlaskan Igi untuk perempuan lain.
"Nggak kok, Gi, bener. Kamu kan udah tahu saya. Takdir kita juga hanya sahabat. Mana boleh saya sedih di atas kebahagiaan kamu? Saya mendukung, Gi, penuh-penuh...."
(Hal. 32)
(Hal. 32)
Tahu apa jawaban Igi untuk pernyataan Ze ini?
"... Saya senang kalau kamu lega. Artinya, saya nggak menyakiti hati kamu."
(Hal. 32)
(Hal. 32)
Masya Allah, dasar lelaki tidak peka. Heran dah kenapa pada bagian ini saya kesal pada diri sendiri sebagai lelaki yang memang kadang tidak peka terhadap perasaan perempuan seakan apa yang dialami oleh perempuan ketika ia bilang mengikhlaskan kita itu artinya ia benar-benar ikhlas. Dodol, perempuan itu pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Sadarlah wahai para lelaki. Saya seperti dicubit pada bagian ini.
Ketegaran Ze bukan sekadar hanya di situ, ia justru yang bermain piano di pernikahannya si Igi. Ia bahkan harus mengirigi Igi bernyanyi lagu cinta kenangan mereka sambil menangis di balik grand pianonya. Duh, perih sekali.
Walau bagaimana pun hidup terus berlanjut. Ze tetap menjalani hidupnya dengan tegar. Ya walaupun bayang-bayang Igi tetap datang. Saya suka sekali adegan saat Ze sedang sedih lalu teringat pada Opanya. Menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya pada Opanya seakan-akan Opanya masih hidup. Bahkan Ze percaya pada omongan Opanya yang bilang bahwa ia akan menikah dengan lelaki yang mengajaknya keliling Eropa dan dunia.
Cerita perjuangan Ze menemukan jodoh ini memang sangat mudah sekali ditebak endingnya. Walau begitu, dengan cara bertutur penulis yang ringan dan santai kita akan menikmati setiap cerita yang disajikan. Lalu dengan siapakah Ze akan berjodoh? Apakah Ze bisa sepenuhnya melepaskan bayangan Igi? Apakah perkataan Opa Ze akan menjadi kenyataan? Baca saja novel karya penulis favorit saya ini. Sangat cocok untuk menemani hari kalian di rumah saja di tengah wabah pandemi Covid-19 ini. Ada diskon kalau beli di Shopee.
Saya kasih bintang 4 dari 5 untuk novel yang nenghibur ini. Selamat membaca.
Pulau Punjung, 26 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar