Tampilkan postingan dengan label flp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flp. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2020

Tilik ; The Power of Emak-emak


Tilik ; The Power of Emak-emak

(Review Film)


Saya dua kali menonton film Tilik yang diunggah oleh Ravacana Film, rumah produksi yang membuat film ini di akun YouTube mereka. Sengaja. Nonton pertama untuk menikmati film. Nonton kedua buat bikin review ini.

Secara keseluruhan saya menyukai film pendek yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo ini. Suka sekali. Film ini sangat bagus. Idenya brilian. Dekat dengan kehidupan sehari-hari terutama di desa. Karakter emak-emak dalam film ini nyata dan ada di hampir setiap desa.

Adalah Bu Tejo dan rombongan ibu-ibu desa punya niat ingin membesuk Bu Lurah yang sedang sakit di rumah sakit di kota. Mereka pergi naik truk yang disopiri oleh Gotrek. Bayangkan bak truk di belakang itu disesaki oleh ibu-ibu sebanyak 25 orang. Tahu sendiri kan apa yang dilakukan ibu-ibu kalau sedang berkumpul seperti itu? Apalagi kalau bukan ghibah. Segala apa diomongin.

Yang spesial dari film pendek ini adalah para ibu-ibu itu selalu membahas satu nama yaitu Dian. Apapun bahasan mereka nama Dian selalu disebut. Siapa sebenarnya sosok Dian ini dan apa yang melatarinya hingga menjadi bahan gosip Bu Tejo dan kawan-kawan selama di truk bisa kita temui jawabannya di akhir film.

Film ini sangat unik menurut saya, mengangkat sebuah tradisi di desa di daerah Yogyakarta; tilik. Tilik dalam bahasa Jawa artinya menjenguk. Tradisi ini ternyata memang ada di desa daerah Jogja sana. Jika ada orang yang sakit maka ramai-ramai orang yang akan bertandang ke rumah sakit untuk membesuk. Terlebih di sini yang sakit adalah Bu Lurah, orang nomor satu di desa.


Alasan mereka menggunakan truk berangkat ke kota pun dijelaskan dari percakapan Bu Tejo dan Yu Ning, bahwa mereka berangkat mendadak karena Bu Lurah tiba-tiba pingsan dan masuk rumah sakit. Karena rasa empati yang tinggi mereka langsung berkunjung esok harinya. Ya, walaupun mereka harus berdiri di sepanjang jalan di dalam bak truk, merunduk jika ada polisi, itupun setelah dikode oleh Gotrek dengan menggunakan klakson.

Dari segi cerita, film ini sangat menarik sekali. Kita sebagai penonton memang harus jeli terhadap jalan cerita. Harus fokus dengan percakapan-percakapan yang terjadi. Sebab kalau kita fokus kita akan menemukan kesinambungan cerita di awal dan di akhir. Kita akhirnya tahu mengapa Dian menjadi bahan gosip di desanya? Kita juga dapat mengambil kesimpulan mengapa Bu Lurah tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke rumah sakit dan justru Dianlah yang menolongnya? Itulah mengapa kita harus fokus saat menonton film ini. Sebab ini film pendek. Jadi cerita yang akan disampaikan memang dipadatkan. Berbeda jika ini adalah film bioskop. Tapi walau padat, film ini tetap menghibur. 

Film ini memang menggunakan bahasa daerah, yaitu bahasa Jawa sebagai dialog antar tokoh, karena memang setting film ini di Yogyakarta. Dan penggunaan bahasa Jawa dalam film ini bisa menjadi keunggulan sekaligus kelemahan dalam film. Disebut keunggulan karena film ini mengenalkan bahasa daerah ke khalayak ramai, selain memang kita akan mendapatkan kekhasan daerahnya lewat bahasa. Saya merasakan itu soalnya. Saya merasa film ini sangat hidup dengan bahasa daerah yang digunakan. Saya tidak tahu apakah film ini akan tetap seru dan menarik atau malah sebaliknya jikalau seandainya menggunakan bahasa Indonesia tapi dengan dialek Jawa. Saya rasa akan kurang dapat nuansanya.  

Tapi hal ini sekaligus bisa menjadi kelemahan karena banyak juga orang yang tidak mengerti bahasa Jawa. Memang ada subtitle bahasa Indonesianya biar kita tetap dapat menikmati jalan cerita. Tapi ada sebagian orang yang merasa terganggu karena harus fokus ke gambar dan subtitle di bawahnya. Istilahnya merusak momen.

Kalau saya sih aman-aman saja. Sudah terbiasa menonton yang seperti ini. Lah nonton film Hollywood saja saya juga seperti ini. Hanya memang sepertinya jika mengerti bahasa Jawa yang digunakan akan sangat menikmati sekali filmnya. Lebih dapat feel-nya.

Di film ini ada sosok Bu Lurah yang akan dijenguk oleh ibu-ibu. Lurah itu sejatinya adalah seorang PNS yang diangkat oleh Bupati untuk memimpin kelurahan. Tapi ada adegan di depan masjid, saat Bu Tejo memberikan amplop ke Gotrek, Yu Ning bilang, kalau suami Bu Tejo mau mencalonkan diri sebagai Lurah. Padahal kan menurut undang-undang Lurah tidak dipilih oleh masyarakatnya. Yang dipilih oleh masyarakat itu kepala desa alias Kades.

Menariknya di sini, film ini benar-benar mencerminkan kehidupan orang-orang desa yang kebanyakan menyebut Kades itu sebagai Lurah. Lurah itu adalah Kades, sami mawon. Bener toh? Ini sepele sih tapi kalau jeli bisa jadi kelemahan film bagi yang tidak tahu.

Dalam film ini sang sutradara juga pintar sekali menghadirkan karakter yang mewakili ibu-ibu desa. Karakternya unik-unik dan benar-benar hidup. Ada Bu Tejo dengan mulut anti azabnya. Dia bicara seakan apa yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran. Dialah biang kerok dalam film ini. Walau begitu dia tetap solutif. Dan memang terbukti. Bisa dilihat ketika dia mau kencing, akhirnya truk yang mereka tumpangi berhenti di masjid. Ternyata bukan hanya dia saja yang akhirnya turun, ibu-ibu yang lain juga ikut turun untuk kencing dan melakukan aktivitas kecil lainnya.


Selain itu dia juga yang memprovokasi ibu-ibu lainnya ketika truk mereka ditilang polisi. Dan terakhir, saat mereka tidak bisa membesuk Bu Lurah sebab Bu Lurah masih dirawat di ICU. Oleh karena kadung sudah di kota Bu Tejo mengusulkan untuk ke Pasar Beringharjo saja. Di adegan terakhir ini pula Bu Tejo bilang kalau dirinya solutif kepada Yu Ning.

Berbeda dengan Bu Tejo, Yu Ning adalah karakter yang tenang. Ia tak terprovokasi dengan cerita Bu Tejo yang menjelek-jelekkan Dian. Dia selalu membela Dian dengan mengatakan bahwa semua itu belum tentu jelas kebenarannya. Yu Ning mewakili ibu-ibu yang selalu positif thinking terhadap gosip yang menyebar. Yu Ning menjadi penengah dari semua karakter ibu-ibu yang ada.

Ada juga Yu Sam, dia adalah tipikal ibu-ibu yang ingin tahu segala hal yang ada di sekitarnya. Dialah orang pertama yang menanyakan perihal Dian ke Bu Tejo, lalu sepakat dengan cerita yang dituturkan Bu Tejo dengan bukti-bukti yang ada di Facebook. Tapi kadang dia juga sepakat dengan pembelaan yang dilontarkan Yu Ning untuk Dian. 

Selain tiga karakter di atas, ada Bu Tri, karakter ibu-ibu kompor. Bu Tri pintar sekali ngomporin Bu Tejo untuk ngomongin Dian, padahal tanpa dikomporin pun Bu Tejo sudah merepet kemana-mana.

Empat karakter di atas sangat berkaitan dan sering kita temui jika kita peka dengan kehidupan ibu-ibu di sekitar kita terutama di desa. Saya sering menemukan itu, apalagi saya memang bergabung di Tim PKK desa saya. Jadi saya tahu persis karakter-karakter di atas nyata adanya. Tipikal ibu-ibu desa banget deh.

Soal akting tak perlu diragukan lagi. Para pemainnya sangat menjiwai peran yang dimainkan terutama pemeran Bu Tejo, yang diperankan oleh Siti Fauziah. Akting Siti Fauziah berhasil sekali. Semua penonton rata-rata sangat gemas terhadap aktingnya. Dialah yang membuat film ini akhirnya trending di Twitter beberapa hari lalu.  Fotonya saja berseliweran di media sosial dengan meme yang lucu-lucu.

Padahal rupanya film ini adalah film lama. Diproduksi tahun 2018, dua tahun lalu. Film ini baru menemukan penontonnya di tahun ini. Bayangkan 4 hari diunggah di kanal YouTube Ravacana Film, sudah ditonton 5 juta penonton lebih. Fantastis sekali.

Saya sangat menyarankan agar teman-teman menonton film ini di akun YouTube resminya ya, Ravacana Film.  Kita dukung konten-konten terbaik anak negeri dengan menonton di akun resminya, biar berkah, bukan di akun re-upload yang tidak bertanggung jawab.

Film berdurasi kurang lebih 34 menit ini menyimpan pesan yang sangat kuat sekali tentang menyaring informasi yang diterima agar tidak menjadi fitnah dan hoax, terutama berita yang di dapat di media sosial. Kita juga jangan mudah terprovokasi dengan berita yang belum tentu terbukti kebenarannya. Intinya pintar-pintar memilih dan menyampaikan berita yang di dapat.

Akhirnya mengapa film ini menjadi viral dan banyak disukai orang-orang oleh karena film ini sangat related dengan kehidupan sehari-hari. Sosok dan karakter ibu-ibu yang ada di film ini sangat dekat dengan kehidupan. Pokoknya film ini mewakili sekali secuil kisah kehidupan di desa di antara banyaknya kisah yang ada.

Saya beri nilai 4,8 dari 5 untuk film ini. Tidak salah kalau film ini menerima penghargaan sebagai Film Pendek Terpilih Piala Maya 2018. Kamu penasaran? Langsung tonton saja. Dijamin pasti terhibur oleh tingkah Bu Tejo dan kawan-kawan.


Pulau Harapan, 22 Agustus 2020

Kamis, 11 Juni 2020

SEBLAK AMBYAR


Resep Masakan

SEBLAK AMBYAR


Seblak mulai booming di tahun 2017. Makanan berciri khas pedas ini berasal dari Bandung yang awalnya merupakan produk gagal. Siapa sangka seblak kini menjadi makanan favorit banyak orang terutama anak muda. Seblak juga kini menjadi bisnis yang menjanjikan. Malah berbagai cafe kekinian menyediakan menu seblak sebagai andalan.

Seblak makin ke sini makin bervariasi menunya. Kalau dulu seblak hanya menggunakan dengan toping sosis, sekarang bisa tambah ceker ayam, otak-otak, mie, dan lain-lain sesuai selera. Sayur yang digunakan pun beragam, juga sesuai selera.

Saya dan teman-teman pun sering bikin Seblak sendiri dibanding harus beli. Sebab dengan dana hanya 35k kita sudah bisa buat seblak untuk jumlah besar.  Kali ini saya akan membagikan resep seblak ala kami yang sering kami bikin dengan bahan seadanya di dapur. Sengaja buat nama Seblak Ambyar biar kekinian. Dan memang setelah mencicipi seblak buatan kami perasaan pun menjadi ambyar karena pedasnya yang nampol. 😆


Bahan-bahan :


* Kerupuk/kemplang 1/2 kilo (untuk 7-10 porsi)
* Telur 3 butir
* Cabe Merah, sesuai selera
* Cabe Rawit, sesuai selera tergantung level kepedasan yang dimau.
* Sosis yang sudah dipotong-potong (Bisa menggunakan bakso)
* Mie 3 Keping
* Kubis, sesuai selera (bisa menggunakan sawi)
* Bawang Merah 10 siung
* Bawang Putih 10 siung
* Kencur 5 ruas
* Gula 2 sendok makan
* Garam secukupnya
* Penyedap rasa secukupnya.
* Air secukupnya
* Minyak goreng secukupnya
* Bawang goreng sebagai pelengkap


Cara Membuat :

1. Haluskan / blender cabe merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih, dan kencur.

2. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan tersebut dengan mengunakan minyak goreng. Aduk sampai merata.


3. Tambahkan telur ke dalam tumisan bumbu lalu aduk lagi hingga merata.

4. Tambahkan air secukupnya sesuai selera, jika ingin seblak kering cukup menambahkan air sedikit saja, sebaliknya jika ingin seblak basah/kuah tambahkan air lumayan banyak. Aduk hingga bumbu merata dengan air dan berwarna kemerahan.

5. Masukan kerupuk atau kemplang. Diamkan sejenak hingga kerupuk nampak lembut.

6. Tambahkan sosis, mie, dan kubis sambil tetap diaduk.


7. Masukkan garam, gula, dan penyedap rasa dan terus diaduk hingga mendidih dan masak.

8. Seblak siap di sajikan di dalam mangkuk. Taburkan bawang goreng jika suka.


Selamat mencoba dan berkreasi. Jika suka ceker bisa tambahkan ceker. Sebelumnya ceker direbus terlebih dahulu biar tidak terlalu lama menunggu masaknya dan agar tekstur cekernya lebih lembut. Masukkan ceker bersamaan dengan kerupuk atau kemplangnya biar bumbu seblaknya meresap ke dalam ceker.  Sedang untuk sosis dapat menggunakan sosis apa saja sesuai keinginan.


Cerita di Balik Layar

Tim Sukses Seblak Ambyar
Meisa, Meida, Riski, Oji, Andre, dan Relly

Terima kasih kepada adik-adikku yang sudah membantu proses memasak seblak kali ini. Bantu memblender bumbu, mengupas bawang dan cabe, mengiris sosis hingga tipis-tipis biar kelihatan banyak, memotong kubis, dan menyalakan kompor gas. Terima kasih juga sudah menjepret proses memasak kali ini, bantu masukin bahan-bahan ke dalam kuali, dan bantu ngasih saran ini itu untuk proses pembuatan seblak ini.

Maaf kalau selama proses pembuatan seblak ini saya ngoceh tiada henti, bawelnya minta ampun, banyak maunya, berkali-kali ambil foto, mau videoin tapi tidak jadi. Tanpa kalian apalah jadinya seblak ini.

Terima kasih untuk Meisa yang sudah mengoreksi penulisan bahan-bahan dan cara membuatnya. Ngeri salah tulis atau ada yang tertinggal, euy!

Terima kasih juga kepada Mang Lek alias Relly Arbiansyah yang dapurnya selalu kita jadikan eksperimen masakan kita.

Riski Meilani, tengkyu sumbangan sosisnya. Harusnya beli bakso bakar yang ditusuk itu kan?

Oji Saputra, terima kasih sudah bantu 10k untuk beli kerupuknya.

Meida, terima kasih sudah mengupas cabe dan mengiris kubis sampai tipis-tipis.

Khusus untuk Andre Pratama, yang sudah bantu dari awal sampai seblaknya siap makan, pas mau dimakan baru sadar kalau dia puasa Syawal. Mana sebelumnya saya sempat-sempatnya makan keripik Malaysia dan minum es di depan dia. Nawarin pula. Ditambah bau seblaknya menguar ke mana-mana, sangat menggoda selera. Maafkan untuk khilaf yang ini.

Intinya, terima kasih untuk kerempongan hari itu. Mudah-mudahan kita terus bahagia sebahagia ketika makan seblak.


Pulau Harapan, 10 - 12 Juni 2020


#WAGFLPSumselMenulis
#LampauiBatasmu
#FLPSumsel
#FLPoke

Minggu, 17 Mei 2020

Perbanyak Ibadah dan Perpanjang Doa di Bulan Ramadhan


Perbanyak Ibadah dan Perpanjang Doa di Bulan Ramadhan
Jaka Ferikusuma


Ramadhan adalah bulan suci yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bagi saya, ramadhan adalah bulan cinta. Hari-hari di bulan ramadhan adalah hari cinta. Betapa bulan ramadhan sangat istimewa.

Di bulan penuh berkah ini pun umat muslim berbondong-bondong untuk melakukan kebaikan. Banyak yang saling fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Si Fulan, ingin lebih banyak sedekahnya dari si Fulan satunya. Fulan ini ingin lebih banyak mengajinya dari Fulan yang itu. Si Syahid ingin beribadah lebih rajin dan khusuk dari si Hakim. Begitu seterusnya. Tidak ada yang salah. Boleh saja dilakukan. Asal kembali niatnya karena mengharap ridha Allah semata.

Di bulan puasa ini tentu ibadah sangat digiatkan dibanding dengan pada bulan-bulan sebelumnya. Sebab pahala ibadah di bulan ramadhan ini dilipat gandakan oleh Allah bahkan sampai 700 kali lipat sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW, bersabda: 

“Setiap tindakan yang dilakukan anak Adam akan dilipat gandakan, tindakan yang baik akan dilipat gandakan pahalanya hingga 700 kali. Allah SWT, berfirman: "Dengan syarat berpuasa yang dilakukan karena Aku (Allah) maka Aku akan memberinya pahala. Karena mereka meninggalkan keinginannya demi Aku.” Ada dua kebahagiaan bagi orang berpuasa, pertama ketika dia berbuka, dan yang lain ketika dia bertemu Tuhannya, dan bau mulut orang berpuasa lebih baik di hadapan Allah daripada aroma minyak misk.” (HR. Bukhari)

Masya Allah. Sangat banyak sekali kebahagian yang bisa kita dapat selama bulan ramadhan ini. Selain memperbanyak ibadah, di bulan ramadhan ini hendaknya kita juga memperpanjang doa kita. Ramadhan adalah waktu terkabulnya doa sebagaimana dikuatkan dengan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُدَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazaar. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10: 14) mengatakan bahwa perowinya tsiqah -terpercaya-. Lihat Jaami’ul Ahadits, 9: 224)

Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Mengapa demikian?
Diibaratkan seseorang ketika ingin mempertahankan diri dari serangan musuh maka dia akan membutuhkan senjata. Seperti halnya seorang mukmin, ketika dia ingin sesuatu maka dia butuh ‘senjata’ dengan berdoa kepada Allah.

Maka jangan segan untuk berdoa kepada Allah. Doa apa saja. Mohon ampunan atas segala khilaf selama ini. Juga minta diampunkan dosa ayah ibu kita. Silakan manfaatkan momentum ramadhan ini untuk berdoa yang terbaik. Kita juga bisa perbanyak berdoa supaya wabah pandemik Covid-19 ini segera berlalu biar bumi kita kembali tersenyum.

Kalau saya tidak terlalu muluk-muluk untuk berdoa pada ramadhan tahun ini, mudah-mudahan tahun ini saya segera menikah dengan jodoh yang telah Allah tetapkan untuk saya. Jodoh yang baik dan kami saling membimbing dalam mengarungi bahtera rumah tangga sakinah mawaddah. Aamiin.

Yuk, mulai sekarang kita perbanyak ibadah kita dan kita perpanjang doa kita apalagi ini sudah masuk 10 malam terakhir. Mudah-mudahan puasa dan ibadah kita di bulan ramadhan ini menjadi berkah dan kita berkesempatan untuk berjumpa lagi dengan ramadhan yang lebih baik di tahun berikutnya.


Pulau Harapan, 17 Mei 2020

#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu

Kamis, 08 Agustus 2019

Jauh-jauh Ngemsi untuk Talk Show Kepenulisan "Memperpanjang Usia dengan Menulis" bersama Umi Laila Sari di Prabumulih

Ahad pagi (28 Juli 2019) sebelum acara talk show dimulai seluruh peserta dan sebagian panitia jalan-jalan pagi dulu di Taman Ria komplek Pertamina EP Prabumulih dan dilanjutkan dengan sarapan nasi uduk. Tapi sebelum itu saya dan Fathir menjemput peserta dulu di rumah kak Fajar. Lagi-lagi ada baba ranjang yang lewat. Sayang sudah ditengah. Jadi tidak bisa menghitung gerbongnya.

Jam 09.00 acara dimulai. Saya didapuk menjadi pembawa acara. Acara dibuka oleh bapak Imam Maulana perwakilan dari Pertamina EP Prabumulih. Sebelum talk show dimulai juga ada penampilan puisi spektakuler dari saya dan Hida Syifa. Berbakat sekali saya ya! Ngemsi oke baca puisi bisa. ( Memuji diri sendiri kapang pun perlu) :)

Ini pertama kali saya memandu acara talk show. Biasa hanya ngemsi seminar saja atau sebuah pelatihan. Saya pernah loh memandu acara yang bintang tamunya adalah sutradara hebat pengasuh sanggar Ananda (lebih dikenal Lenong Bocah) yaitu Aditya Gumay. 3 hari 2 malam di Hotel Majestic, Palembang.

Menjadi MC talk show memang agak sulit sebab kita harus pintar-pintar membawa suasana agar penonton ikut larut. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan untuk pembicara pada talk show harus mewakili pertanyaan umum peserta. Tak hanya itu kita harus terus membikin peserta talk show tak jenuh dan terus fokus memperhatikan kita. Karena konsep begini harus ada kerja sama yang baik antara MC dan pembicara. Jangan sampai peserta terabaikan karena MC dan Pembicara asyik ngobrol sendiri.

Asli, saya serasa kayak jadi host di acara talk show di televisi. Berasa acara Hitam Putih tapi versi Literasi. Sesekali saya tes ombak apa penonton saya masih pada posisi mendengarkan atau malah sibuk sendiri dengan gawainya. Tidak mereka menjadi hening karena memang fokus pada ketampanan saya, eh, salah ding, fokus pada materi. Terlihat jelas dari panggung ada beberapa peserta yang mencatat materi di buku catatan mereka. Ada juga yang mencatat di gawainya.

Hingga pada pertanyaan pun mereka tetap antusias. Dua sesi full penanya. Diakhir acara kita foto bersama dulu. Setelahnya banyak yang minta foto sama mbak Umi selaku pembicara. Sama saya? Ah, mungkin mereka malu.

Abis beres-beres acara talk show kita menuju masjid Darussalam untuk shalat dan makan siang. Setelahnya, kita akan refreshing sejenak ke museum. Nantikan di tulisan berikutnya ya!

Pulau Harapan, 29 Juli - 08 Agustus 2019

Selasa, 30 Juli 2019

Perjalanan Rakorwil FLP Sumsel dan Talk Show Kepenulisan (1/4)



Sekitar jam 9  hari Sabtu (27 Juli 2019) saya sudah siap menunggu Danang, kamerat saya di FLP, dari Sungai Lilin untuk sama-sama ke Prabumulih. Sebelum ke Prabumulih kami ke Sekretariat FLP dulu untuk ambil buku. Karena dalam perjalanan saya mabuk, maka istirahat sejenak sambil minum es di teras rumah mbak Azzura Dayana, yang sebentar lagi akan menerbitkan novel terbarunya. Dibeli ya!

Dari sekret mobil Danang melaju ke rumah mbak Fatimah. Iya, yang akan berangkat ke Prabumulih itu tidak hanya kami berdua tapi berempat. Satu lagi ada Hida Syifa yang biasa dipanggil Ida. Di rumah mbak Fat kita istirahat sebentar. Shalat Zuhur di masjid. Dan yang paling disukai kalau ke rumah mbak Fat adalah kita selalu dihidangkan Bakso Pak Jenggot yang  luar biasa enak. Nanti akan saya review. Tunggu ya tulisannya!

Setelahnya, kita berangkat ke rumah Ida. Ke sana bukan menjemput Ida. Di sana kita mengambil baju dan pempek juga Snack untuk perjalanan. Dari sana kami menuju kantor Ida di simpang Sekip. Barulah lepas itu kami berangkat ke Prabumulih.

Kami lewat tol Indralaya. Perjalanan menjadi lebih cepat. Jarak dipangkas menjadi 21 KM saja. Ngebut dong. 20 menit sudah sampai depan UNSRI. Dengan mengandalkan map dari panitia FLP Prabumulih kami menjelajah kota Prabumulih yang saya tak pernah mampir lama. Selalu jadi tempat transit kalau mau ke Lahat. Kini akhirnya saya akan stay kurang lebih 2 hari di sana.

Bertempat di Gedung Bina Ria 1 komplek Pertamina EP Prabumulih acara Rapat Koordinasi Wilayah Forum Lingkar Pena Sumatra Dan Talk Show Kepenulisan akan berlangsung. Dan di sana saya mulai pengalaman baru. Menyenangkan.

Update lengkap akan diposting besok! Seminggu ke depan akan ada tulisan tentang Rakorwil FLP yang seru luar biasa.

Pulau Harapan, 29 Juli 2019