Rabu, 06 Mei 2020

Rudi : Izinkan Saya Dewasa Sebelum Waktu


Rudi : Izinkan Saya Dewasa Sebelum Waktunya

(Ulasan novel Ayah, Aku Rindu karya S. Gegge Mappangewa)
Jaka Ferikusuma



Judul : Ayah, Aku Rindu
Penulis : S. Gegge Mappangewa
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : I (Satu)
Tahun Terbit : Maret 2020


Saya tetap mengecap penulis favorit saya satu ini dengan penulis tega. Beliau telah berhasil membikin mood saya berantakan puasa ini. Seandainya menangis bikin puasa jadi batal, saya pastikan saya akan meminta pertanggungjawaban kepadanya. Saya menangis sejadi-jadinya selesai membaca novelnya yang berjudul Ayah, Aku Rindu.

Penulisnya sudah bilang ke saya, di novel terbarunya setidaknya bisa mengobati kelukaan saya terhadap nasib Tungke di Sayat-sayat Sunyi. Ia menjamin nasib Rudi di novel Ayah, Aku Rindu tidak akan sama seperti Tungke. Ya, benar tidak sama. Tapi saya tetap menangis tersedu-sedu usai membacanya. Seakan-akan saya ada di posisi Rudi.

Adalah Rudi, remaja kelas XII SMA itu harus menanggung beban hidup yang cukup berat untuk anak seusianya. Ia harus merelakan kepergian ibunya selama-lamanya. Belum kering air mata karena ditinggal ibu, ia juga harus kehilangan sosok ayah yang sangat ia cintai. Ayah yang ia harap menjadi tumpuan hidupnya setelah kepergian ibu. Ayahnya menjadi stress dan mengalami gangguan kejiwaan akibat kematian ibunya. Rudi harus menanggung semua itu. Ia terluka saat melihat ayahnya harus dipasung agar tak melukai orang lain. Cukup pak Sadli yang menjadi korban ayahnya. Belum lagi ayahnya mengaku sebagai La Paggala atau yang orang Bugis kenal sebagai Nenek Mallomo.

Rudi dipaksa dewasa untuk menghadapi permasalahannya. Beruntung masih banyak orang yang sayang dengannya. Ada pak Sadli, gurunya yang menjadi idola hampir semua siswa. Faisal dan Ahmadi yang menjadi teman karibnya. Setidaknya mereka berhasil mengalihkan kerinduan Rudi pada ayahnya yang akhirnya di rawat di rumah sakit di Makassar.

Novel yang menjadi pemenang 1 lomba menulis novel remaja yang diadakan Indiva ini memang sangat sarat akan pesan moral. Selain itu kita akan belajar banyak tentang kebudayaan lokal Bugis di sana. Penulis pintar sekali menyelipkan tema kearifan lokal ke dalam novel ini.

Balik lagi ke kisah Rudi, saya merasa kasihan sekali dengannya. Beban yang ia tanggung sudah cukup berat untuk anak seusianya. Ditambah pula kenyataan-kenyataan tentang ayahnya yang bikin Rudi semakin terpuruk pada akhirnya. Untungnya semua kejadian itu membikin Rudi semakin dewasa setiap waktunya. Saya merasa telah dipermainkan oleh penulis akan nasib Rudi. Oke, saya memang benar menebak ending kisah ini. Tapi ketika memang seperti itu kenyataannya saya serupa Rudi yang juga sulit menerima kenyataan. Semacam saya tidak ikhlas jika Rudi bernasib seperti itu. Saya menahan marah. Emosi. Lalu akhirnya pecah ketika benar-benar berada di epilog. Ada sekitar 10 menit saya menangis usai membaca novel pertama Indiva untuk lini Gen Z-nya ini.

Banyak anak-anak seperti Rudi di luar sana sebenarnya. Mungkin dengan beban derita hidup yang lebih. Tapi cukup, cukup kisah Rudi yang bikin saya meleleh. Daeng Gegge memang pandai meremukkan hati saya dengan setiap ceritanya dari sejak dahulu kala. Masya Allah. Bintang 4,5 untuk novel ini dari 5 bintang.


Pulau Harapan, 06 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar