Bangga yang Bersisian dengan Kecewa
Untuk Syahid Alhakim
Jaka Ferikusuma
Untuk Syahid Alhakim
Jaka Ferikusuma
Teman saya ada yang bilang, "Jaka, adik kamu ini banyak sekali ya." Benar, dia tidak salah. Adik saya memang banyak sekali. Adik kandung ada dua. Bukan adik kandung tapi rasa adik kandung ada beberapa. Kok ada ya bukan adik kandung tapi rasa adik kandung? Ada. Memang tidak ada ikatan darah di antara saya dengan mereka tapi ikatan emosional yang ada pada kami sangat kuat sekali dan itu bisa mengalahkan ikatan darah. Sampai sini paham dong. Dan saya mencintai adik-adik saya semuanya.
Sudah hampir sebulan ini saya dekat sekali dengan Syahid Alhakim. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri. Kalau suatu hari ada yang tanya tentang dia ke saya, misal, ini siapa Jaka? Saya tinggal jawab, adik. Adik kandung ya? Saya jawab lagi, Ya. Adik kandung. Dalam hati melanjutkan, tapi beda ayah dan ibu. Kok gak mirip? Memang untuk jadi saudara harus mirip dulu.
Saya bangga sekali dapat mengenalnya. Semakin ke sini rasa bangga itu kian tinggi untuknya. Dia berbeda untuk anak seumurannya. Dia dewasa. Teguh pendirian. Bisa mengambil sikap. Dan yang paling hebat, dia cerdas sekali dalam hal apapun.
Kebanggaan saya bertubi-tubi sekali untuknya. Dia gigih dalam mencapai cita-citanya. Sebagai kakak (saya tidak tahu apa dia mengangap saya kakak atau tidak?) saya sangat mendukung cita-citanya menjadi dokter. Dokter itu cita-cita saya sejak kecil tapi saat SMA langsung saya hempaskan begitu saja. Banyak hal yang membuat saya mundur menjadi dokter, salah satunya soal finansial. Maka begitu tahu dia mahasiswa kedokteran, saya mati-matian memotivasi dia untuk dan harus menjadi dokter. Biar saya makin bangga padanya. Biar cita-cita saya sejak kecil dulu menjadi nyata lewat dia. Itu saja rasanya sudah cukup. Makanya saya suka excited kalau punya teman dokter. Nah, ini dia adik sendiri.
Saya yakin dan percaya suatu hari di masa depan, dia akan gagah sekali dengan jas putih membalut tubuhnya. Orang-orang akan mengeluh-eluhkan namanya. (Saat itu terjadi saya adalah orang paling bangga nomor satu di dunia ini terhadapnya.) Ia akan menolong banyak orang lain dengan kemampuannya. Ia akan menjadi kebanggaan semua orang, terutama ayah dan ibunya. Keberadaannya akan selalu dinanti semua orang. Saya sampai seyakin itu terhadap masa depannya sebab Allah telah memberikan segalanya terhadapnya. Kecerdasan. Potensi. Kemauan. Hanya bagaimana dia memanfaatkan apa yang kini telah Allah anugrahkan untuknya itu sebaik-baiknya. Dan ketika akhirnya saya masuk di kehidupannya pun karena (sepertinya) merupakan rencana Allah untuk mengarahkan dia menuju cita-citanya. Setidaknya sampai saat ini saya masih "membimbing" dia untuk menjadi lebih baik lagi. Semampu saya.
Sebangga itukah saya terhadapnya? Ya. Bangga sekali. Tapi saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa bersisian dengan rasa bangga ini pasti akan ada kecewa menanti di ujung sana. Satu hal yang saya selalu waspadai saat semakin hari rasa bangga itu semakin menyeruak. Saya berharap ini tidak terjadi. Pun harus terjadi saya telah menyiapkan hati saya yang lapang dan luas sekali untuk menghadapi ini.
Saya memang belum banyak mengenalnya. Saya tidak tahu dulunya dia seperti apa? Kesehariannya. Saya tidak tahu keluarganya bagaimana? Hanya tahu dia anak bungsu. Dia punya dua kakak. Tahu profesi ayah dan ibunya. Dulu dia lebih banyak hidup bersama kakek dan neneknya. Sekadarnya saja. Hanya nampak luar. Saya akui itu. Pun sebaliknya dia juga sama terhadap saya. Banyak hal yang belum ia ketahui tentang saya. Tapi saya pribadi sudah merasa bahwa kami sangat dekat. Sedekat urat nadi. Kami punya banyak persamaan yang akhirnya kami sama-sama sadar itu. (Sampai di sini saya sudah sulit menahan buliran air mata yang ingin keluar.)
Kami hanya bertukar cerita dan saling nasehat menasehati. Cerita pengalaman. Apa saja kami bahas. Saya yang mengaku dekat ini mungkin tidak lebih mengenal dia dari teman-teman kampusnya dan orang-orang di sekitarnya. Tapi yang saya syukuri, saya tahu sisi "dalam" dia yang orang lain tidak tahu sekalipun itu orang tuanya.
Jika suatu hari tiba-tiba saja kecewa itu menghampiri kisah kami, saya sudah siap dengan segala resikonya. Saya telah menyiapkan hati saya yang luas sekali. Saya menerima dengan lapang jika suatu saat harus dikecewakan olehnya. Yang saya takutkan justru ketika akhirnya dia yang kecewa terhadap saya. Saya melukai hatinya. Saya membuat dia tersinggung. Atau mungkin saya membuat dia malu dan tidak berkenan. Saya takut sekali itu terjadi. Saya takut sekali sebab saya tidak tahu dia akan seperti saya atau tidak yang bisa menerima ketika dikecewakan. Saya lebih baik dikecewakan olehnya daripada harus mengecewakannya. Sampai detik ini selalu itu yang menganggu pikiran saya. Saya tidak ingin dia kecewa terhadap saya. Mudah-mudahan saja ketika dia kecewa terhadap saya, dia mengungkapkan kekecewaannya itu dan saya bisa memperbaiki kesalahan yang saya lakukan terhadapnya. Pun tidak, saya telah siap dengan segalanya. Betapa saya terlalu melankolis dalam hal ini. Sejauh ini, kami selalu saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Mudah-mudahan begitu terus selamanya sehingga sesuatu yang bernama kecewa ini tidak ada dalam kisah kami. Pun ada tidak merusak ikatan yang sudah terjalin dan terbina.
Saya susah siap jika suatu saat tiba-tiba dia lupa pada saya. Dia tidak ingat lagi pada saya. Maka saya sudah siap untuk segala itu. Sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa hadapan.
Jika ketika dia sudah menjadi dokter yang sukses, lalu dia tidak lagi mengenang kisah kami, dia sudah bertemu orang-orang hebat dan meninggalkan saya, melupakan mimpi-mimpi kami, maka saya akan merelakan itu terjadi. Saya tidak akan pernah menyesali apa yang sudah menjadi keputusan saya. Saya tidak akan menyesal mengaggap dia adik saya karena selamanya akan begitu. Saya sudah siap menanggung semuanya.
Jika suatu waktu dia menemukan orang yang lebih baik dari saya, menemukan orang yang bisa dia ajak bercengkerama dan ia melupakan saya, menganggap saya biasa saja, saya tetap harus menerima ini semua. Saya tidak akan pernah merasa bahwa kecewa ini membunuh dan mengubah rasa saya terhadapnya. Dia tetap adikku yang baik. Adikku yang manis yang pernah saya kenal. Saya akan tetap mencintainya dengan imanku seperti yang pernah saya tuliskan.
Jika suatu hari akhirnya dia tidak lagi menganggap saya ada. Dia telah sibuk dengan dunianya. Dia telah sibuk dengan urusannya. Saya akan ikhlas. Saya tidak akan pernah putus melangitkan doa-doa terbaik untuknya sampai kapanpun. Saya akan terus mendoakan dia dari jauh. Karena saya yakin, dia masih membutuhkan doa saya untuk kesuksesannya di masa depan.
Saya tidak peduli dianggap bodoh oleh orang sekitar karena sudah terlalu baik terhadapnya. Saya akan terus membelanya sekalipun ia salah. Sekalipun ia telah melupakan saya. Saya akan ada di garda terdepan ketika semua orang mengucilkannya. Menjauhinya.
Jika itu semua harus terjadi saya masih tetap menganggap dia adik saya. Saya tidak akan pernah menyesali semua yang menjadi keputusan saya. Saya akan tetap bangga padanya. Berlipat-lipat walau akhirnya saya hanya bisa menatap dia dari kejauhan. Itu sudah cukup.
Saya tidak peduli jika akhirnya dia mengecewakan saya. Saya pendam itu rapat-rapat. Saya akan selalu membuat dia bahagia tanpa harus dia tahu bahwa saya sebenarnya kecewa. Saya bisa menata hati saya untuk rasa kecewa yang mendera. Betapa saya sangat menghargai setiap detik dan setiap jengkal kisah kami ini.
Syahid, adikku, untuk segala kisah yang belum seberapa ini, betapa kau telah merengut separuh perhatian di hidup kakakmu ini. Sanggup membuat kakakmu untuk terus belajar menjadi lebih baik lagi. Betapa akhirnya kau mampu membuat kakakmu ini menghidupkan kembali semangat yang sempat hilang. Karenamu kakakmu ini banyak sekali belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Betapa kau adalah sumber inspirasi yang membuat kakakmu ini untuk terus menebar kebaikan. Terima kasih untuk kisah ini dan kisah-kisah yang terus akan kita torehkan di masa depan. Bangga bisa mengenalmu serapat ini. Mudah-mudahan persaudaraan kita hingga ke surganya Allah. Aamiin....
Sejak bertemu denganmu
Lihatlah aku telah menjadi mampu
Sejak bertemu denganmu
Telah kudapatkan segalanya
Meskipun sulit tujuan hidupku menjadi mudah
Karena kamu adalah detak dan aku jantungnya.
Lihatlah aku telah menjadi mampu
Sejak bertemu denganmu
Telah kudapatkan segalanya
Meskipun sulit tujuan hidupku menjadi mudah
Karena kamu adalah detak dan aku jantungnya.
(Terjemah lirik lagu Tu Jo Mila Ost. Bajrangi Bhaijaan)
Pulau Harapan, 25 - 30 Maret 2020
*Ditulis dengan linangan air mata. Diedit dengan derai air mata. Betapa saya lemah sekali saat menulis kisah ini.

Semestapun ikut mendukung ketika saya membaca kisah ini... Ia tidak rela air mata seorang pria diketahui satu orangpun.
BalasHapusTerimakasih telah membagi kisah,
Terimakasih untuk pelajaran yang sangat berharga dan saran" membangunnya.
Maaf belum bisa memberi sebanyak apa yang saya dapat.
Semoga kisah ini akan terus berlanjut walau banyak tantangan dimasa depan...
Aamiin
Aamiin ya Allah.
HapusKakak tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Kakak akan selalu bangga padamu.