Rabu, 15 April 2020

Corona, Lockdown, dan Uang Jajan


Corona, Lockdown, dan Uang Jajan
Jaka Ferikusuma


Saya tergelitik ketika sedang berbalas pesan dengan seorang adik yang pernah KKN di desa kami. Seperti ini isinya :

"Indonesia yang Corona malah duit jajan yang di lockdown😔"

Sebenarnya dampak wabah Covid-19 ini berpengaruh ke semua lapisan masyarakat. Mau yang kaya, miskin, tua, dan muda semua kena imbasnya. Dampak yang ditimbulkan pun bermacam-macam. Salah satunya terkait masalah finansial.

Masih segar dalam ingatan berita orang kaya memborong segala keperluan untuk antisipasi diri pribadi hingga menyebabkan barang menjadi langkah. Belum lagi masker, hand sanitizer, dan APD kini menjadi barang mewah dengan harga selangit. Semua itu tak bisa dihindari. Terjadi begitu saja karena kepanikan melanda negeri.

Tidak hanya di kota sebenarnya. Di desa pun merasakan hal yang sama. Contohnya, petani karet di tempat saya sangat mengeluhkan harga karet yang turun drastis hingga mencapai titik terendah. Bukan apa-apa, ternyata banyak pabrik karet yang menutup pabriknya dikarenakan mewaspadai virus Corona ini. Mereka sudah me-lockdown duluan pabriknya. Ini saja pemerintah belum menerapkan perintah lockdown. Hanya sekadar physical distancing. Apa jadinya jika lockdown benar-benar terjadi. 

Imbas ini bisa terjadi pada siapa saja. Penjual makanan atau buah-buahan banyak yang tutup sementara karena jumlah pengunjung yang mulai sepi. Ada yang mensiasati dengan berjualan daring atau online. Yang kasihan justru orang-orang yang berdagang di pasar. Pembeli sangat sepi sekali. Bahkan dibeberapa desa menutup sementara pasar kalangan setiap pekannya.

Mahasiswa dan pelajar juga kena dampaknya. Selain harus ribet dengan jadwal pelajaran atau kuliah yang serba daring dan tugas menjadi kian menumpuk, mereka juga kehilangan uang jajan seperti yang dikemukakan Virgo, yang pesannya saya tulis di atas. Padahal selama ini selalu dapat uang jajan kalau kuliah tatap muka. Sekarang karena hanya di rumah saja akhirnya uang jajan ikut-ikutan di-lockdown. Masih mending masih ada yang dikasih uang jajan buat beli kuota untuk belajar daring. Ini sudah ada WiFi di rumah. Jadi uang jajan benaran di-lockdown.

Dan saya pun merasakan hal yang sama. Gaji saya pun terancam di-lockdown karena siswa libur terus menerus. Saya guru swasta di sebuah yayasan bukan PNS atau mengajar di sekolah bonafit. Bagaimana denganmu? Apa kamu juga merasakan hal yang sama? Mari kita berdoa mudah-mudahan wabah pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan kita bisa hidup normal seperti biasanya. Tentu dengan kehidupan yang lebih baik lagi.


Pulau Punjung, 11-13 April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar