Minggu, 15 Maret 2020

Kota, Kenangan, dan Kisah Kita yang Sama Kepada Syahid Al Hakim


Kota, Kenangan, dan Kisah Kita yang Sama
Kepada Syahid Alhakim


Beranjak dari titik kilometer tiga dua aku menunaikan rindu menujumu. Di gerbang rumah sakit kau menjemputku dengan senyum batu, lalu kita berkeliling kota.

Melewati Ampera kita seksama memandang aliran Musi. Banyak rahasia yang sebenarnya ingin kubagi padamu. Lidah keluh. Aku membisik dalam hati berharap kau tahu tanpa harus permisi. Bukankah kita satu hati. Bibir kita justru bercerita tentang mau makan apa? Aku tertawa lucu di belakangmu.

Aku menoleh sekilas ke arah Benteng Kuto Besak. Matamu awas ke depan. Sesekali mata kita menatap pucuk Monpera. Kisah kita berlanjut. Kau tahu ke mana harus menuju.

Masjid Agung, pikirku.

Rupanya hari ini kita berbeda. Kau malah belok ke arah tenun songket. Jalanmu makin cepat

"Kak, biar jalan kita mulus, hidup perlu stimulus."

Kau memang pandai membaca isyarat. Aku kau sesatkan pada jalan kenangan membuncah haru, hampir menangis. Di jalan ini ada romansa gerimis hari Kamis. Kau tak pernah tahu, tapi langkahmu tegas menyusuri setiap nafasnya.

Lalu kita singgah sekadar mengisi perut lapar. Kau pesan ayam saos pedas sementara aku nila bakar. Di sela kunyahan, kisah mengakar. Kita bicara tentang rindu. Tubuh membiru karena sembilu. Aku membagi cemburu. Kau malu seperti ada racun yang serupa bumbu membaluri kalbu. Tanpa sadar akhirnya kita sembahyang di ujung waktu. Aku malu. Kau ragu. Tapi Tuhan tahu kita sibuk dengan rindu.

Pulang ke rumah, kau mengantarku dengan lusinan hadiah. Aku melepasmu dengan rasa cemas meraba-raba.

"Dik, terima kasih untuk hari ini. Hati-hati."

Dari jauh kudengar kau tertawa. "Masih ada tersisa sedikit, Kak."

Kau telah sampai di rumah dan aku gugu dalam bangga.


Pulau Harapan, 15 Maret 2020

#WAGFLPSumselMenulis
#FLPSumselMengispirasi
#tugaspuisi
#puisiperjalanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar