Ternyata map yang diberikan oleh panitia berpusat di masjid Darussalam komplek Pertamina EP Prabumulih bukan gedung Bina Ria 1 tempat acara berlangsung. Akhirnya kita shalat dulu di sana. Hanya saya dan Ida. Mbak Fat dan Danang sudah jamak.
Saya suka masjid ini, namanya sama dengan masjid di desa saya. Tapi soal luas dan bagusnya, jauh. Bagus masjid Darussalam yang ini. Luasnya luas sekali. Halamannya luas juga. Dan nyaman. Masjid mana sih yang tak nyaman. Perasaan setiap mampir ke masjid selalu membawa kenyamanan tersendiri deh. Wajar saja kalau masjid ini bagus, Pertamina punya. Untuk menaranya saja menghabiskan dana 1,5 milyar. Belum masjidnya yang luas itu.
Akhirnya kita dijemput panitia untuk menuju lokasi. Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga. Di gedung Bina Ria 1 peserta Rakorwil yang datang dari 7 cabang dan ranting yang tersebar di wilayah Sumsel sudah 80% yang hadir. Mereka tampak semangat luar biasa. Acara pembukaan segera dibuka sebelum nantinya kita akan memulai Rakorwil yang dimoderatori oleh Danang.
Sekitar jam 5, peserta sudah komplit hadir. Menjelang Maghrib acara diskorsing sampai bakda isya. Kita istirahat sejenak, shalat, dan makan malam.
Rapat berakhir hingga pukul 11 malam. Selama rapat seru sekali. Apa yang kami bahas tak perlu tahu ya, rahasia rumah tangga.
Panitia dan peserta bersiap untuk istirahat karena besok akan ada talk show kepenulisan bersama mbak Umi Laila Sari. Panitia dan peserta yang membawa keluarga ditempatkan di mess Pertamina. Lebih dekat biar tak repot. Sisanya ke rumah kak Fajar, ketua FLP wilayah Sumsel. Dan Danang memilih tidur ke tempat kak Fajar. Saya di mess bersama Fathir karena kamar masih sisa satu untuk panitia. (Khusus bersama Fathir akan ada cerita khusus.)
Saat mengantar panitia ke tempat kak Fajar, ada baba ranjang lewat, baba ranjang itu sebutan untuk kereta api yang membawa batu bara. Kali ini saya ikut mobil Fathir. Danang membawa peserta lainnya. Karena duduk di depan saya menghitung berapa banyak gerbong yang dibawa. Saya tidak berhasil menghitung. Kacau diurutan 70an. Diajak bicara soalnya. Mereka tidak tahu kalau saya menghitung gerbong batu bara itu. Tapi sepertinya kurang lebih 100an.
Usai mengantar peserta, saya dan Fathir kembali ke komplek Pertamina menuju mess untuk istirahat. Ah, agenda besoknya akan dimulai pukul 06.30 pagi.
Pulau Harapan, 29 Juli 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar