Selasa, 03 Agustus 2021

Setelah Suntik Vaksin Covid-19

 Setelah Suntik Vaksin Covid-19

Jaka Ferikusuma



Saya dikabari oleh bidan Puskesmas Sembawa via WA yang meminta data guru-guru MI tempat saya mengabdi, MI Kurnia Ilahi, untuk divaksin. Saya lama balasnya. Ragu. Saya pernah bilang ke adik saya yang dokter, saya tidak mau divaksin. Pahamlah ya kenapa? Karena kontroversi si vaksin ini.

Akhirnya saya kirim juga data-data guru saya ke bidan tersebut, tentu data saya juga diurutan pertama. Saya dan guru-guru menunggu panggilan untuk divaksin. Ternyata antrinya lama. Sekolah terdekat malah sudah semua. Saya pikir kami tidak jadi divaksin, saking lamanya nunggu. Berbulan-bulan lamanya. Lalu datanglah surat undangannya lewat WA, yang mengatakan tanggal 28 April 2021 jadwal vaksin untuk MI dan RA Kurnia Ilahi. Bulan ramadhan. Di surat itu juga dijelaskan bahwa peserta vaksin harus sahur. Padahal saya tidak bisa sahur. Maksudnya saya tidak bisa makan apapun kalau fajar hari. Yang masuk cuma air putih. Saya selalu sahurnya dengan air putih saja. Hari itupun sama.

Karena di sekolah kami ada lomba ramadhan, sekitar jam 10an kami baru berangkat ke Puskesmas. Itu pun sudah ditelpon oleh petugasnya. Di sana kita sudah ditunggu dong. Kalau tidak mau divaksin sudah banyak yang antri mau menggantikan. Ada 4 loket yang harus dilewati saat vaksin.

Di loket 1, pendaftaran. Kita akan diminta untuk mengisi kertas kecil semacam formulir gitu. Juga dimintai fotokopi KTP dan nomor handphone yang aktif. Nomor handphone ini nanti untuk mereka mengirim link sertifikat vaksin.

Lalu kita akan masuk ke loket 2. Di sana sudah ada dokter yang bertugas. Di sinilah kita yang mau vaksin harus jujur dan menceritakan keadaan tubuh dan kesehatan kita. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Jujur saja. Nanti dokternya bisa menentukan apakah kita layak divaksin atau tidak. Di sini juga tensi darah kita akan diukur.

Loket ke 3 kita menyerahkan data  ke petugas bahwa kita bersedia divaksin. Setelah itu loket keempat. Suntik. Karena saya takut jarum suntik jadi sayanya agak tegang saat disuntik. Setelah itu kita akan menunggu sebentar sekitar 20-30 menit untuk mendapatkan kartu vaksinasi covid-19 dari petugas.

Apa yang saya rasakan ketika selesai divaksin?

Tiap orang kan beda-beda reaksi katanya, ada yang ngatuk, ada yang merasa lapar terus, dan ada yang vertigo. Macam-macam reaksi yang ditimbulkan. Untuk saya sendiri, saya merasa pegal di tangan saya yang disuntik. Berapa lama pegalnya? Dua hari. Hari ketiga baru pegal tersebut hilang.

Hanya pegal? Tentu tidak Ferguso. Seminggu kemudian saya demam. Demam terlama. 14 hari. Bahkan saat lebaran pun saya demam. Dan bayangkan sembuh dari demam, 5 hari kemudian saya harus suntik vaksin kedua. Di sini saya takut. Sumpah takut beneran. Mungkin ini nih yang menyebabkan orang bisa lumpuh atau meninggal setelah divaksin. Mana katanya vaksin kedua ini dosisnya lebih tinggi. Macam-macam yang saya pikirin saat itu. Yang jelas saya takut.

Sehari sebelum divaksin kedua, badan saya panas lagi. Batuk dan pilek masih bersarang walau biasa saja. Rasanya saya ingin menelpon petugas Puskesmas biar saya ganti hari saja mengingat saya masih kurang fit. Tapi itu tidak saya lakukan. Tunggu besok saja. Siapa tahu saya sehat besoknya. Dan kalian tahu apa yang terjadi dengan tubuh saya besoknya? Saya sehat banget. Bangun tidur rasanya segar. Pagi itu saya sarapan di sekolah. Jam 9 sesuai jadwal saya dan guru-guru siap tempur untuk vaksin kedua.

Alurnya sama seperti vaksin pertama, kita daftar lagi di loket pertama. Lalu ke loket kedua. Nah di loket kedua ini saya ceritakan kalau saya baru sembuh demam. Sekarang masih batuk pilek walau sudah mendingan. Pokoknya hal sekecil apapun terkait kondisi saya saat itu saya ceritakan. Remeh memang tapi kadang yang kita anggap remeh ini yang justru membahayakan. Dan saya tidak mau membahayakan diri saya sendiri. Setelah mendengar penjelasan saya akhirnya dokternya bilang, tidak apa-apa divaksin. Tapi saya diukur suhu tubuh dulu. Normal. Cek darah, juga normal. Tidak apa-apa, insya Allah aman, ujar dokternya. Tapi setelah vaksin istirahat ya biar tetap bugar.

Akhirnya saya disuntik. Tawakal saja.

Saya menunggu reaksinya? Samakah seperti vaksin pertama. Atau lebih parah. Tahu apa yang terjadi? Tubuh saya tidak beraksi apa-apa setelah vaksin kedua ini. Biasa saja. Mungkin vaksin nya sudah bersahabat dengan tubuh saya. Itu anjuran dokter agar saya istirahat setelah vaksin tidak saya turuti. Saya masih beraktivitas seperti biasanya. Alhamdulillah, aman.

Sekarang kapan giliran kamu divaksin?
Tidak usah takut. Jika imunmu kuat dan tidak ada sakit bawaan, insya Allah aman. Asal ketika discreaning oleh dokter ceritakan kondisi kesehatanmu dengan sebenar-benarnya. Dokternya juga tidak asal-asalan kok menyuruh divaksin. Buktinya ada tiga guru dari yayasan kami yang tidak divaksin. Satu karena sedang hamil, yang kedua sakit darah tinggi, yang ketiga alergi obat. Ketiganya tidak divaksin. Intinya adalah jujur saja dengan kesehatanmu. Terbukalah, walau cuma sakit batuk pilek macam saya. Karena kamu yang tahu kondisi kesehatanmu. Ibarat kata kamu adalah dokter bagi dirimu sendiri.

Mudah-mudahan pandemi ini segera berakhir dan kita terbebas dari virus covid-19 ini. Aamiin.

Pulau Harapan, Juli 2021

Senin, 19 Juli 2021

Vegetables Salad with Peanut Sauce alias Gado-gado Warung Budi Sri



Vegetables Salad with Peanut Sauce alias Gado-gado Warung Budi Sri

Jaka Ferikusuma

Saya tidak terlalu sering makan gado-gado. Pun beli ini untuk lauk makan. Nah, kemarin pas puasa senin, lagi ingin berbuka dengan gado-gado. Jadilah saya beli gado-gado di warung ini. Warung Budi Sri. Porsinya banyak. Harga sesuai kantong. Saya pesan gado-gado yang tidak terlalu pedas. Saya tidak makan di tempat ya, tapi bawa pulang.

Gado-gado di sini samalah kayak gado-gado yang lain. Ada banyak macam sayuran, lontong dan tahu lalu disiram saus kacang. Di tempatku orang-orang lebih suka menyebutnya bumbu kacang. Lalu topingnya kerupuk merah.

Sayurannya ada kubis, kecambah, kacang panjang, timun, dan tomat. Tentu saja kubis, kecambah, dan kacang panjangnya sudah direbus. Irisan lontongnya banyak. Lontongnya juga lembut sekali, bukan lembek ya. Tahunya digoreng dengan matang yang pas, tidak sampai kering banget kulitnya.

Yang bikin gado-gado di warung ini spesial tentu saja saus kacangnya. Itu saus kacangnya enak banget. Kacangnya dihaluskan dengan lembut, tidak kasar. Jadi lumer sekali di mulut. Tidak ada istilah deh itu kacang lekat di gigi.

Selain itu, saus kacangnya juga royal banget, tidak pelit. Semua sayur, tahu, dan lontongnya basah semua. Pokoknya ini enak banget. Selain itu saus kacangnya terasa light sekali. Tidak bikin eneg. Ada kan ya saus kacang yang kadang bikin eneg? Nah, yang ini tuh racikannya pas. Aroma kencurnya juga tidak terlalu kuat tapi tetap terasa.

Begitu masuk suapan pertama, rasanya pingin lagi dan lagi. Tidak ingin berhenti mengunyah sebelum habis. Seporsi bikin kenyang. Bahkan bisa untuk dua orang. Kalau kamu pecinta gado-gado, kamu harus makan di sini. Buktikan sendiri berapa lezatnya gado-gado di warung ini.

Gado-gado yuk Sri
Lokasi : Warung Budi Sri (kurang lebih 100 meter dari Kantor Desa Pulau Harapan)
Harga : Rp. 10.000,-
Tambahan : Selain gado-gado, juga ada model, tekwan, es campur, dan aneka minuman.

Minggu, 30 Mei 2021

Keberkahan Menulis

Foto : bersama teman-teman FLP saat milad 20 FLP di Jakabaring, Palembang. 


Keberkahan Menulis
Jaka Ferikusuma


Saya mulai serius menulis sejak SMA. Gara-gara "dikomporin" teman. Dia tahu saya suka baca, lalu dia bawa majalah Horison ke sekolah, dipinjamkan ke saya. Dia juga suruh saya baca-baca karyanya, lalu mengajak saya untuk melakukan hal yang sama, menulis. Dari sana saya suka menulis. Rugi saja senang membaca tapi tidak diiringi dengan menulis.

Pertama menulis memang hanya untuk konsumsi pribadi atau dibaca teman-teman. Bingung mau dikirim kemana. Paling mading sekolah. Hidup di desa membuat saya mengalami keterbatasan ketika itu.

Saya mulai ikut lomba menulis sejak kuliah. Pertama ikut lomba menulis langsung juara 2. Lomba cerpen. Dapat hadiah buku dan uang. Senang banget. Dari sana mulai serius ikut lomba lagi. Kadang menang tapi sering kalah.

Gabung di FLP membuat saya semakin rajin menulis. Bertemu teman-teman yang mempunyai hobby sama itu menyenangkan. Berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Bertukar karya, saling kritik saran. Akhirnya memberanikan diri mengirim karya ke media. Awalnya selalu di tolak koran lokal. Lalu mencoba kirim ke majalah nasional. Sabili. Tembus. Cerpen. Lalu beberapa kali akhirnya dimuat di sana.

Itu awal-awal berkah menulis yang saya terima. Makin ke sini, saya makin banyak menerima keberkahan dalam menulis. Terbaru saya malah dapat handphone idaman dari hasil lomba menulis. Senangnya bukan main.

Tapi itu semua sebenarnya adalah bonus. Keberkahan yang saya dapati adalah ketika pembaca saya tersentuh, terenyuh dengan tulisan saya. Contoh nih, ada beberapa tulisan saya di media sosial saya yang menggugah seorang pembaca. Dia bilang, tulisan saya itu bernas dan menginspirasi. Padahal saya menulis itu karena tugas di Grup FLP Sumsel Menulis (GSM) dan sudah deadline pula.

Atau ada yang WA saya bilang, masya Allah, saya menangis membaca tulisan Kakak di blog. Itu rasanya bahagia banget. Sederhana sih tapi kena.

Saya berusaha menulis untuk kebaikan. Jadi apapun yang saya tulis adalah untuk kebaikan. Saya banyak tulisan di catatan gawai saya. Tapi saya memilih mana yang layak untuk diterbitkan di medsos dan mana yang hanya konsumsi pribadi saya. Atau saya tahan saja dulu sampai tulisan itu layak dibaca orang banyak.

Menulis juga sebenarnya adalah terapi untuk saya sendiri. Dengan menulis, apapun itu, termasuk menulis tulisan ini buat saya jadi senang. Mood jadi bagus. Hati jadi tentram. Menulis itu kaya healing bagi saya sendiri. Jadi jika ada kejadian apa hari ini yang mengesankan, jika saya tidak ingin bercerita pada siapapun maka saya akan tulis. Setelah tulisannya selesai, saya akan merasa lega.

Jadi menulis itu tidak bisa lepas dari kehidupan saya. Sehari saya biasakan untuk menulis. Apa saja. Jika sedang suntuk, mood rusak, ide tak ada, sebisa mungkin menulis hanya satu paragraf pendek. Jika keadaan sedang baik dan cerah maka dalam sekali tulis bisa sampai tiga tulisan.

Keberkahan menulis itu sebenarnya justru ada pada menulis itu sendiri. Saya bersyukur dianugrahi Allah kemampuan mengolah kata menjadi sebuah karya. Menuangkan apa yang dialami, diceritakan orang lain, dan pendapat ke dalam sebuah tulisan. Layaknya musisi yang tenang jika bermusik, atau seperti pendaki yang merasa bersatu dengan alam jika telah mencapai puncak gunung. Seperti itulah saya, akan merasa damai dan bahagia ketika sudah menulis.

Menulis adalah bagian dari hidup saya. Tidak peduli seberapa receh tulisan saya.

Pulau Harapan, 30 Mei 2021

#WAGFLPSumselMenulis
#lampauibatasmu
#menulisuntukmencerahkan
#flpoke

Senin, 19 April 2021

10 Kutipan dari Buku Hikmah Republika; Kepompong Ramadhan



1. Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Yang terpenting adalah kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. 


2. Kalau pelaku ketaatan dibantu dan disokong oleh para malaikat untuk terus melakukan kebaikan, para penggiat dosa dan maksiat akan terus didukung oleh setan baik dari golongan jin maupun manusia. 


3. Semua amal manusia itu adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. (Hadits Qudsi) 


4. Pengendalian diri merupakan obat yang paling manjur untuk meredam berbagai penyakit. 


5. Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah. (HR. Baihaqi) 


6. Kebahagian keluarga bumi yang berhati langit. 


7. Ketaqwaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya menahan amarah yang dapat merugikan orang lain. 


8. Ucapan "Allahu Akbar" yang diulang-ulang dalam gerakan shalat dan haji, dimaksudkan untuk mengingat bahwa hanya Allah saja yang besar. 


9. Maaf adalah kunci surga. 


10. Puasa seperti metamorfosis, dari seekor ulat menjadi kupu-kupu yang indah. Tidak salah jika menyebut orang yang berpuasa dengan metafor, kepompong ramadhan.


#flpsumselmenulis

#flpoke

#flpsumsel

Kamis, 18 Maret 2021

Isra Mi'raj di Masjid Kami

Di masjid kami, masjid Darussalam, setiap tahunnya selalu mengadakan peringatan isra mi'raj nabi Muhammad SAW. Banyak hal-hal unik yang terjadi setiap tahunnya. Ada yang berubah ada yang tidak. Berikut saya rangkum kejadiannya pada tahun ini.

1. Tentu saja setiap peringatan isra mi'raj yang selalu berubah adalah penceramahnya. Tidak akan pernah sama. Tahun ini penceramahnya adalah ustadz H. Dian Permana, Lc. Beliau adalah ustadz di pondok pesantren Qodratullah Langkan. Sudah dua tahun ini penceramahnya adalah ustadz dalam negeri. Biasanya ustadznya dari luar negeri alias Palembang. Dan seperti biasa ustadznya selalu bisa membuat ibu-ibu tertawa bahagia. 


2. Setiap tahun MC-nya adalah salah satu anak-anak Irmas yang saya pilih. Haha.... Kenapa saya yang pilih? Karena saya yang diberi tanggung jawab untuk urusan satu itu. Kalau tak ada yang bisa maka balik bandar. 


3. Tahun ini protokol kesehatan sudah diterapkan karena efek pandemi. Masjid tanpa sajadah. Jamaah memakai masker. Dan berjarak. 


4. Ibu-ibu selalu jadi magnet tersendiri saat acara. Selalu yang paling ramai datang ke masjid. Dan selalu disapa khusus oleh ustadznya. 


5. Urusan snack selalu berubah-ubah. Pernah beberapa tahun dapat nasi bungkus usai acara. Lalu akhirnya snack seperti biasa. Risol, brownis, donat, kumbu, putu ayu, dan snack sejenisnya. Snack boleh berubah-ubah tapi bagian repot membagikannya ke jamaah selalu Irmas. Pernah bahkan saking banyaknya yang datang kita yang yang membagikan tidak kebagian. Nasib. 😁
Tahun ini justru kelebihan snack. Saya tidak tahu kalau kardus yang ada di meja persis di depan saya duduk ternyata berisi snack. Saya pikir itu kardus berisi air mineral. 


6. Usai acara, ketika semua orang pulang, kembali Irmas sibuk mengumpulkan sampah snack dan buah. Bahu membahulah kami membersihkan masjid dengan riang gembira. 


7. Biasalah, usai acara kita akan foto bersama. Tapi tahun ini, tidak ada foto bersama. Beberapa anggota sudah duluan pulang. Saya yang sempat mau ngajak berfoto saja lupa. Efek lelah sepertinya.

Isra mi'raj di tempatmu bagaimana? Pasti lebih seru kan?

Pulau Harapan, 18 Maret 2021

#flpsumselmenulis
#wagflpsumselmenulis
#flpsumsel
#flpoke

Sabtu, 12 Desember 2020

Sumedang Kota Horor

Sumedang Kota Horor

Jakarta Ferikusuma




Sumedang memang sangat identik sekali dengan tahunya yang gurih itu. Mau dimana kamu berada, pasti ada saja orang yang jualan tahu Sumedang. Padahal belum tentu juga yang jual tahu itu memang asli tahu Sumedang atau malah hanya mirip saja.

Selain tahu, jika disebut kota Sumedang akan terngiang lagu "Kumenangis membayangkan.... ". Bukan. Bukan karena Sumedang adalah salah satu lokasi sinetron Indosiar yang menjadikan lagu itu soundtracknya. Tapi ini lebih ke penyanyinya. Siapa yang tak kenal Rossa, diva pop Indonesia yang berasal dari Sumedang. Selain terkenal dengan tahu, Sumedang juga terkenal dengan artisnya bersuara merdu. Selain, Rossa, diva dangdut Iis Dahlia juga dari Sumedang kan. Sayang Lesti yang lagi viral dari Cianjur. Coba Sumedang juga. Loh kok? 

Selain dua hal di atas, Sumedang juga terkenal dengan kehororannya loh. Kok bisa sih?  Bayangkan saking horornya youtuber sekelas Risa Saraswati dan Sarah Wijayanto saja memburu hantu di kota ini. Cari tahu yuk Sumedang bagian mana yang membuat kota ini menjadi horor. Ini hanya untuk kamu yang berani saja. Yang tidak berani, silakan baca saja. Tapi jangan takut. Ini dia tempat-tempat yang bikin Sumedang jadi kota horor. 


Gunung Kunci



Dari nama saja sudah agak gimana gitu. Gunung Kunci terkenal sebagai salah satu tempat yang memiliki bangunan bersejarah. Di dalam gunung terdapat benteng peninggalan Belanda yang memiliki kisah mistis. Kisah mistis apa? Rupanya benteng tersebut pernah dijadikan sebagai tempat pembantaian terhadap warga pribumi oleh penjajah.  Hawa mistis pun sangat terasa di tempat ini. Bahkan menurut Risa Saraswati dan tim ketika ekspedisi ke dalam benteng dalam videonya dia menjelaskan, di dalam benteng terasa sangat panas sekali padahal di luar cuaca amatlah dingin. Mereka seakan meyakini ada kekuatan ghaib yang ikut membuat benteng menjadi panas.

Menurut orang-orang, banyak mahkluk halus yang kerap menampakkan diri, seperti hantu wanita hingga suara derap langkah kaki tentara. Ini biasa terdengar ketika tengah malam saat orang-orang terlelap dalam tidur. Bisa dibayangkan malam-malam dengar derap kaki tentara mau perang padahal keadaan sepi sunyi. Kan ngeri ya? 

Gunung Kunci berlokasi di Kotakulon, Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kalau jalan ke Sumedang, marilah mampir. Selain belajar sejarah, juga bisa sekalian uji nyali. Kalau tidak kuat tinggal lambaikan tangan ke kamera.



Jembatan Cincin



Tidak hanya Gunung Kunci yang menjadi icon kehororan kota Sumedang. Ada satu tempat lagi yang tak kalah seramnya, yaitu Jembatan Cincin. Jembatan Cincin adalah salah satu jembatan tertua di Indonesia. Jembatan ini berdiri di atas pemakaman umum. Nah loh, pemakaman umum, saudara-saudara. Ya, wajar saja kalau horor.  Kabarnya, menurut desas desus yang beredar tempat ini dihuni oleh hantu wanita yang kerap meminta ditemani berjalan menuju ujung jembatan. Warga sekitar juga sering mendengar suara wanita tertawa atau menangis di jembatan ini kalau malam hari.

Pada siang hari, jembatan ini nampak sangat eksotis. Banyak orang lalu lalang melewati jembatan ini, baik jalan kaki, naik sepeda atau mengendarai motor. Tidak nampak nuansa mistisnya sama sekali. Bahkan pemandangan di bawah jembatan pun sangatlah indah. Mata kita akan dimanjakan dengan padi yang menghijau menghampar. Belum lagi gedung tinggi nan megah yang ada di sebelahnya. Itu menambah kesan eksotis jembatan ini. Cocok sekali untuk berswafoto. Tidak ada tuh kesan seram dari tempat ini. Sungguh, sangat bertolak belakang sekali dengan nuansa kalau di malam hari.

Tim Jurnal Risa pernah mampir ke jembatan ini, malam hari tentu saja. Beberapa timnya ada yang kesurupan hantu penunggu jembatan Dan rupanya jembatan ini pernah digunakan untuk tempat bunuh diri. Duh, horor sekali ya. Jembatan ini berlokasi di Jalan Cikuda, Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kalau kamu penakut jangan datang di malam hari ya. Siang saja biar bisa berswafoto dengan pemandangan yang indah.


Menara Loji



Sebuah menara berwarna putih dengan arsitektur neo-gothik Belanda ini mempunyai atap berbentuk segi delapan dan mengerucut di bagian atasnya dengan dilengkapi hiasan garpu tiga jari seperti layaknya senjata trisula. Dahulu, menara ini dibangun sebagai penunjuk jam bagi para pekerja yang berada di kebun dekat Menara Loji.


Selain menjadi saksi bisu sejarah, Menara Loji Jatinangor juga dianggap sebagai tempat angker di Sumedang. Pasalnya, pekerja dan warga setempat sering mendapat gangguan dari makhluk astral ketika berada di sekitar menara.


Menara ini pernah dikunjungi oleh Tim Dua Dunia, sebuah acara bertema mistis dari salah satu stasiun TV nasional. Narasumber pun mengatakan bahwa dirinya pernah melihat sosok berupa pria Belanda berjubah yang sedang menunggang kuda di malam hari. Kalau kamu yang ketemu pria Belanda berjubah naik kuda itu, kira-kira apa yang akan kamu lakukan. Ikut naik atau malah kabur?


Waduk Jatigede




Bagaimana bisa waduk yang baru dibangun pada tahun 2015 ini diklaim sebagai tempat angker di Sumedang? Meskipun baru seumur jagung, Waduk Jatigede sudah memiliki berbagai mitos maupun cerita misteri yang di luar nalar.


Waduk Jatigede memiliki sejumlah mitos, di antaranya yang paling terkenal adalah keberadaan ular ghaib sepanjang 4 kilometer yang hidup di dalamnya. Konon, ular ini membentang dari Kecamatan Wado sampai dengan Kecamatan Darmaraja.


Makhluk gaib yang menghuni Waduk Jatigede bukanlah ular sepanjang 4 kilometer saja, tapi ada juga buaya putih. Buaya putih bukan buaya albino tapi merupakan buaya ghaib jelmaan jin. Buaya gaib ini jarang menampakkan diri. Hanya beberapa orang saja yang mengaku pernah melihat perwujudan buaya ini meskipun belum tentu kebenarannya.


Mitos mengenai hewan-hewan gaib di Waduk Jatigede ini hanyalah segelintir cerita misteri dari waduk seluas 4.200 hektar ini. Masih banyak lagi cerita mitos nan mistis lainnya. Salah satunya cerita tentang Keuyeup Bodas adalah bahasa Sunda yang artinya adalah kepiting putih. Secara umum, kepiting memiliki warna gelap seperti hijau keabu-abuan atau hijau kehitaman. Ada juga kepiting yang warnanya jingga cerah. Kepiting putih dipercaya sebagai mahluk legenda yang berukuran besar.


Pembangunan Waduk Jatigede ini diklaim dapat membangunkan si kepiting putih. Mitos tentang adanya keuyeup bodas ini sudah lama tersebar di sekitar masyarakat yang tinggal di Waduk Jatigede, bahkan sebelum waduk ini dialiri air. Misteri Waduk Jatigede seputar kepiting putih ini sangat ditakuti warga. Pasalnya, keuyeup bodas raksasa bisa menjebol bendungan suatu hari nanti.

Tidak hanya sampai di situ kisah horor mengenai waduk ini. Masyarakat yang tinggal di sekitar waduk percaya, bahwa waduk ini sering meminta tumbal. Sudah banyak kejadian yang terjadi dan memakan korban hingga meninggal. Tidak hanya satu kali, tapi sampai berkali-kali.

Jika kebetulan kamu berhasil datang ke Waduk Jatigede ini, kalau ingin mandi di waduk boleh saja. Tapi jangan ke tengah waduk, agak berbahaya. Apalagi kalau saat berenang di waduk, tanpa pemanasan dulu. Kalau kaki kram maka nanti orang-orang akan  bilang kalau kamu koran tumbal berikutnya. Tetap waspada.

Demikian empat tempat yang bisa kamu kunjungi ketika datang ke Sumedang jika kamu ingin menikmati Sumedang dengan cara yang berbeda. Dengan cara yang anti-mainstream, berbeda dari yang lain. Siapkan mental juga ya. Siapa tahu ketika sedang kunjungan mereka mau menyapa kamu satu itu juga. Jarang-jarang kan bisa disapa mahluk ghaib.




Pulau Harapan, 12 Desember 2020


*rujukan tulisan dan foto
idntimes.com
https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/travel/destination/amp/dhiya-azzahra/tempat-paling-angker-di-sumedang

bacaterus.com
https://bacaterus.com/tempat-angker-di-sumedang/

Video YouTube Jurnal Risa
#27 Tangisan di Jembatan Cincin
#40 Jalan-jalan ke Gunung Kunci part 1


Selasa, 10 November 2020

Jatuh dari Rumah Panggung





Saat usia tujuh tahunan, saya sudah punya gank. Terdiri dari tiga orang. Dua perempuan dan saya sendiri laki-laki. Saya yang paling bungsu di antara dua teman saya itu. Dua teman saya itu tetangga kiri kanan rumah. Yang satu namanya Aryani, yang lebih akrab kami panggil Mak Wok, dia yang paling tua di antara kami, dua tahun di atas saya. Satunya lagi namanya Deli Sutrisna, dan sering dipanggil Dis. Tapi di sekolah dia tetap dipanggil Deli. Usianya setahun di atas saya. Tahu apa nama gank kami? ABC. Kayak merek kecap dan baterai. Haha.... 


Tapi namanya kanak-kanak, pasti bikin nama gank yang unik. Mana tahu kalau ternyata itu merek kecap dan baterai. Inspirasi nama gank itu sebenarnya sederhana. Dulu tiap pekan pasti ada lomba cerdas cermat di TVRI. Itu merupakan tontonan favorit kami bertiga. Lomba cerdas cermat kan ada tiga kelompok yang bertanding yakni kelompok A, B, dan C. Nah, nama gank kami terciptanya dari sana. Karena tiap nonton itu, secara otomatis Aryani akan mendukung kelompok A, Deli akan mendukung kelompok B, dan saya mendukung kelompok C. Mengapa begitu? Semua di susun berdasarkan urutan umur. Yang paling tua A. Yang tua kedua B dan yang paling muda C. Sederhana sekali.


Kami kemana-mana selalu bertiga kecuali sekolah. Saya dan Deli satu sekolah walau Deli jadi adik kelas saya. Saya bingung kenapa bisa begitu waktu dulu. Kalau tidak salah, harusnya satu angkatan, tapi karena Deli sering sakit waktu itu jadi dia telat masuk sekolah. Sedang Aryani beda sekolah dengan kami. Tapi akhirnya dia jadi adik kelas saya juga karena terlalu di sayang guru alias dua tahun tidak naik kelas karena kesulitan di pelajaran matematika.


Kalau sudah pulang sekolah bisa dipastikan kami bertiga akan main bersama. Mainnya bisa di mana saja. Namanya anak desa mainnya pasti kotor-kotor. Kami sering main di hutan. Mencari jambu hutan, atau sekadar santai di atas pohon karet sambil berkisah masa depan. Main pondok-pondokan di belakang rumah yang juga kala itu masih semak hutan. Atau mandi di sungai belakang rumah. Mancing. Bekarang. Atau iseng mencuri timun di kebun tetangga. Haha....


Masa itu hidup nyantai banget. Kayak tidak ada beban. Main saja terus. Jika sedang malas main ke hutan atau sungai maka mainnya di sekitaran rumah. Yang bikin saya agak malas, pasti akan main versi perempuan. Main masak-masakan. Main boneka-bonekaan yang kami buat dari sarung. Dulu mana bisa kami beli Teddy Bear. Hanya anak orang kaya yang mampu membelinya. Main guru-murid, pasti nanti saya yang akan jadi guru. Saya jarang jadi murid. Karena kata mereka, saya yang paling pintar di antara mereka berdua, jadi lebih acocok jadi guru. 



Di antara banyak kenangan itu saya ingat salah satu kenangan yang bikin ngilu waktu itu ketika itu kami main di rumah Deli. Rumahnya rumah panggung. Sampai hari ini, rumah Deli masih rumah panggung. Hanya dapurnya saja yang sudah "diturunkan". 


Kami main di ruang tengahnya yang luas. Main boneka-bonekaan yang kami buat dengan sarung. Masing-masing kami satu boneka sarung. Entah bagaimana kejadiannya, saya lupa, yang jelas saat itu Deli dengan boneka sarungnya duduk di muara jendela rumahnya. Dia memang membuat 'rumah' dekat jendela itu. Jadi kesibukannya tak jauh dari sana. Nah, kami juga sibuk dengan boneka kami yang sudah dianggap bayi itu. Lalu terjadilah kejadian yang tidak kami sangka-sangka. Deli jatuh dari jendela rumah panggungnya ke tanah.


"Gedebug!!!"


Asli, saya dan Aryani kaget. Seketika kami menengok Deli yang sudah jatuh ke tanah melalui jendela tempat dia terjatuh tadi. Deli sudah "keras" di bawah sana. Badannya penuh becek. Soalnya semalam habis hujan. Dia tidak bergerak. Saya dan Aryani saling toleh. Otak anak-anak kami satu frekuensi. Deli sudah tidak bernyawa. Kami ketakutan. Maka tanpa menunggu aba-aba, saya dan Aryani langsung lari turun dari rumah panggung Deli dengan tak lupa membawa boneka sarung kami masing-masing. Pulang ke rumah masing-masing. Nasib Deli, entahlah. Kami berdua saat itu takut disalahkan. Sungguh keputusan anak-anak yang naif sekali saat itu. Keputusan yang membuat saya menyesal kalau ingat itu.


****


Dua hari setelahnya saya dan Aryani menyempatkan diri membesuk Deli. Alhamdulillah, dia tidak apa-apa. Sudah diurut oleh tukang urut patah. Tulang ekornya yang bermasalah karena terjatuh. Ternyata setelah saya dan Aryani kabur, ibu Deli tahu kalau anaknya terjatuh karena mendengar suara bedebug lalu beberapa menit kemudian Deli menangis. Dia segera dilarikan ke Puskesmas desa. Ditangani.


Saat datang hari itu, saya dan Aryani dinasehati oleh orang tua Deli tentang pertemanan. Beliau bilang, tidak boleh seperti itu. Seandainya saat itu ibu Deli tidak tahu kalau anaknya jatuh, pasti Deli sudah meninggal. Beliau juga mengatakan, kalau berteman itu harus saling jaga. Saat ada teman yang kecelakaan temannya harus membantu bukan lari.


Masa itu, kami tak begitu menghiraukan nasehat itu. Kami sudah sangat bahagia saat tahu Deli masih hidup. Karena di pikiran kami Deli sudah meninggal mengingat rumah panggung Deli cukup tinggi. Kami saat itu ketakutan. Takut disalahkan. Kalau Deli meninggal maka kami yang akan dikatakan membunuh dia. Maka kami akan ditangkap polisi lalu masuk penjara. Kami tidak ingin seperti itu. Makanya saya dan Aryani memilih kabur saat itu.


Bukan main takutnya saya dan Aryani ketika pulang ke rumah masing-masing. Makan tak enak. Tidur tak nyenyak. Besoknya "maling-maling" berita. Tapi tetap takut menemui Deli ke rumahnya, takut disalahkan oleh orang tuanya. Padahal kami berdua tidak tahu apa yang membuat Deli bisa jatuh.


Ibu saya saja sampai heran mengapa aku belum mengunjungi Deli yang sedang sakit? Kujawab saja, nanti. Setelah diskusi panjang dengan Aryani, hari kedua kami memberanikan diri membesuknya. Saat dibesuk kami hanya diam. Deli juga diam. Tatapan matanya marah. Seakan dia berkata,


"Kalian berdua tega, bukannya nolongin aku tapi malah lari. Dasar teman pengecut!"


Kami membalas dengan tatapan bersalah.


"Maaf. Kami hanya takut."


Tiap hari kami membesuk Deli. Lebih banyak diam. Deli masih marah. Kami pun tak tahu harus berbuat apa. Sampai hari ke enam baru dia banyak bicara. Akhirnya kami akrab seperti sedia kala. Ah, masa kanak-kanak memang selalu indah untuk dikenang.


Sampai hari ini kami masih berteman. Tapi tidak sedekat dulu lagi. Sudah sibuk masing-masing. Terutama saya. Sebab memang saya pernah bertanya pada Aryani, kenapa kita tidak sedekat dulu lagi? Dia bilang, kami malu sama kau, Jaka. Kau kan kuliah, sarjana, tidak pantas berteman dengan kami. Kami cuma lulusan SD.


Ya memang hanya saya yang terus melanjutkan pendidikan. Aryani hanya sampai SD. Deli hingga SMP. Tidak seperti cita-cita kami sejak kecil yang ingin kuliah bersama dan sukses bersama. Saya agak "menyesali" hal ini.


Kini, Aryani sudah menikah dan punya satu orang anak. Deli masih sendiri, bibiku bilang, dia tidak mau menikah. Alasannya masuk akal tapi tidak bisa saya ceritakan di sini. 


Saya selalu berdoa mudah-mudahan walau kami tidak dekat lagi di dunia tapi insya Allah, kami bisa dikumpulkan di surga-Nya kelak.



Pulau Harapan, 10112020



Foto hanya pemanis diambil via google, kami tidak punya foto masa kecil bahkan sampai sekarang.



#WAGFLPSumselMenulis

#lampauibatasmu